Razia Pisau-lipat, SAR, dan Tiga Bulan Tahanan

12978684981398744165

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Membaca berita vivanews mengenai Arif Cahyadi Permana, anggota SAR Merapi yang terkena razia lalu lintas dan disidang atas tuduhan membawa senjata tajam – karena kedapatan membawa pisau lipat standar SAR, dan telah menjalani 3 bulan masa penahanan sebelum dimulai sidang minggu lalu, sudah cukup membuat saya geleng-geleng kepala, dan sedikit berguman ‘Apa kata dunia?’ – sedikit menirukan slogan pajak yang saya sukai.

Keheranan saya terbagi beberapa bagian:

  • Apakah semua pisau lipat termasuk senjata tajam? Jika iya, apakah memang harus mengontongi ijin membawa pisau lipat? Lalu, siapa yang mengeluarkan ijin tersebut?
  • Apakah seorang anggota SAR yang profesional juga harus membawa surat ijin? Kenapa tidak cukup mempercayai jika dia profesional dari kartu kenggotaannya? Lalu, bisa saja nanti banyak anggota pramuka yang ditangkap, karena mereka kan tidak mempunyai surat ijin membawa pisau pramuka – bukankah pisau pramuka juga senjata tajam?
  • Lalu, dijerat berapa tahunkah dia? 10 tahun. Sepuluh tahun. Boleh percaya atau tidak. Silakan bandingkan sendiri dengan hukuman para koruptor. Aduhai sekali timpangnya.
  • Dan tahukah kita, pasal yang menjeratnya adalah ‘Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951′. Halooow!!! Memangnya negara kita selama 60 tahun berada dalam kondisi darurat?
  • Jika toh benar membawa senjata tajam adalah pelanggaran. Dan jika toh benar kemudian dia dihukum dalam sidang. Tetapi, kenapa menunggu sidangnya bisa sampai tiga bulan? Logiskah? Jadi selama tiga bulan itu apa yang dilakukan kejaksaan dan kepolisian dalam mempersiapkan tuntutan? Bayangkan, tiga bulan persiapan untuk kasus pelanggaran membawa senjata tajam. Jika jawabannya ‘ini menyangkut terorisme’, maka kita bisa menjawab ‘bodoh kali, tahun 1951 – acuan tahun Undang-undang Darurat, mana sudah mengenal terorisme.
  • Dan jika di sidang, ternyata hakim memutuskan tuduhan tidak terbukti, itu berarti telah terjadi ‘penghilangan kebebasan’ seorang warga negara, yang diakui oleh Undang undang, yang lebih tinggi kedudukannya dari Undang-undang Darurat. Juga pelanggaran HAM. Dan Mas Arif berhak menuntut material.

Itulah keheranan saya. Mungkin keheranan saya itu salah, tapi bukankah itu yang saya tangkap dari berita itu. Saya hanya berpikir satu – eh dua hal. Pertama: semoga berita yang dikemukan vivanews benar, karena itu berarti saya mengutip berita yang benar. Kedua: mudah-mudahan pengadilan memutuskan yang BENAR dan ADIL, dan memberikan hukuman dengan JUJUR.

Yang terakhir, terdapat kesan bahwa aparat kita masih berpikiran stagnan, mandek, tidak mengikuti perjalanan jaman dan hukum, serta sepertinya tidak berpikir logis dalam bertindak. Mudah-mudahan kesan saya itu salah, karena bisa jadi itu hanya ulah ‘oknum’ yang mencari kesalahan saja.

Cag, 16 Feb 2011

Saya hanya seorang warga yang ingin Bangga Jadi Orang Indonesia (seperti gundahnya Taufik Ismail dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia).

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

One thought on “Razia Pisau-lipat, SAR, dan Tiga Bulan Tahanan

  1. lha tukang pisau keliling ditangkep saja, bawa 50 buah, dipajang pajang keliling kampung ga apa apa ?

    heran hukum gaje

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s