Tapi, Sajadah Itu Hilang Kan?

Aku punya sajadah
Tidak istimewa
Hanya sajadah biasa
Coklat, tebal, sudah tua
Bahkan pinggirannya pun sudah tak ada

Sajadah itu begitu adem
Lembut
Menyentuh
Seperti kelembutan dan sentuhan seorang ibu
Pada anaknya yang tak tahu malu

Memang,
Sajadah itu peninggalan almarhum ibuku
Yang pernah kuceritakan dulu

Kubawa sajadah itu ke tanah suci
Hanya karena kuingin membawanya
(andai ibuku masih bisa melihat dari alam sana,
dia akan tahu sajadahnya telah ikut ke tanah suci
bersama dengan badal hajinya)

Kini sajadah itu hilang
Setelah kupakai berdzikir di Arafah
Sesudah kutidur di atasnya di Muzdalifah
Selepas kubersujud solat di Mina

‘Ikhlaskan’ kata temanku
‘Mungkin saatnya sajadah itu bersatu dengan ibumu’ ujarnya lagi
Hmmm…. Mungkinkah?
Ah, terlalu berlebihan

Tapi sajadah itu hilang

Kuikhlaskan
Harus
Kuikhlaskan

Karena sajadah itu hilang
Sejalan hilangnya pembedaan sajadah itu dari benda lainnya,
Seiring selesainya pengistimewaan sajadah itu dari barang lainnya
Hanya karena sajadah itu peninggalan ibuku
Yang pernah kuceritakan dulu

Tapi, sajadah itu kan hilang?

Cag, 26 Nov 2010

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s