Tegas Dong, Pak! Bisa Tidak Sih?

Tanyakan satu hal apa yang membuat saya trauma sebagai penduduk Jabodetabek? Jawabannya: Macet. Ah, jawaban yang kemungkinan disetujui banyak orang, apalagi sekarang topik ini sedang mengemuka di media.

Ada tiga daerah yang membuat saya harus matang berpikir sebelum berjalan ke sana. Puncak, Ciawi arah Sukabumi dan sepenggal jalan kecil di Pamulang bernama Victor. Alasannya sederhana, saya pernah terjebak macet yang terkunci – tidak bisa terurai, di daerah itu.

Terbayang saat itu niat bepergian ke Sukabumi untuk ber-refreshing dan wisata, dengan membawa senyum ceria dan cerita bahagia keluarga sepanjang perjalanan Pamulang – Ciawi ternyata berakhir hanya beberapa kilometer dari perempatan Ciawi karena menemukan kemacetan parah tidak bergerak. Perjalanan yang asalnya menyenangkan, dan baru setengah jalan ke tujuan itu, berakhir dengan sebuah keputusan matang, berbalik arah. Alasannya sederhana, karena setelah sekian lama tidak ada satupun kendaraan datang dari arah lawan, dan kuantitas mobil searah mobilku yang menyerobot jalur berlawanan makin banyak. Keputusan yang sangat saya syukuri nanti setelah mendengar berita macet tersebut berjalan berjam-jam.

Lalu pengalaman pulang dari pusat perbelanjaan melewati jalan kecil Victor menuju pertigaan jalan raya Muncul kembali terpampang di mata. Perjalanan pulang yang membahagiakan mengantar keluarga belanja kebutuhan sehari-hari berubah pada jarak hanya dua-puluh tiga-puluh meter dari pertigaan tersebut. Sebuah kemacetan tidak terurai. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Tidak terjadi pergerakan kendaraan. Emosi yang sudah cukup meninggi kemudian mengantarkan saya turun dari kursi pengemudi dan berjalan ke titik pertigaan tersebut. Pikiran saya hanya satu, mungkin saya bisa bantu polisi (dengan kebanggaan saya sebagai mantan anggota pramuka sewaktu di SMP). Namun apa mau dikata, tidak ada bapak polisi di sana. Setelah melihat kondisi tidak ada satu pengendara pun yang mau mengalah, saya pun memutuskan balik arah mencari jalan lain yang lebih jauh- untungnya masih bisa.

Untuk kemacetan Puncak, cukup kiranya membaca di surat kabar kemacetan lebih dari sepuluh jam tidak bergerak.

12985453201249889289
Banyak solusi, pendapat, rencana dikemukakan dan didiskusikan. Namun bagi saya semuanya tidak akan berjalan dengan baik tanpa konsistensi dan ketegasan.

Kita ambil contoh kemacetan di tiga titik pembuat trauma tersebut.

Kemacetan awalnya mungkin disebabkan menurunnya tata krama berkendara. Namun sekarang kemacetan umumnya disebabkan oleh tiadanya atau hilangnya sopan santun berlalu lintas. Janganlah memberi alasan kemacetan karena tidak adanya polisi lalu lintas, karena jika itu yang terjadi, kita hanyalah orang yang mentaati hukum karena ada penegak hukum di sana. Di titik ini, yang diperlukan adalah ketegasan penegakan hukum.

Jika ternyata kemacetan tidak terurai itu disebabkan karena banyaknya kendaraan yang menyerobot jalur lawan, polisi dengan pasukannya dengan amat sangat gampang menyisir semua kendaraan penyerobot tersebut dan memberikan surat tilang tanpa kecuali. Apalagi terhadap pengendara yang berada di barisan pertama sebagai penyerobot – yang bisa dikategorikan inisiator pelanggaran.

Ketegasan seperti ini penting ditegakkan, karena polisi mempunyai alasan yang sangat kuat untuk memberi surat tilang. Dengan ketegasan seperti ini, akan didapat beberapa keuntungan:

  • kepastian hukum akan tercipta
  • tugas utama polisi mengatur, menegakkan aturan dan menertibkan (bukan mengurai kemacetan kan) akan terlaksana
  • tercipta pula cambuk efek jera bagi pelanggar
  • mendapatkan pendapatan halal bagi negara (yang juga berujung ke institusi kepolisian) dari denda tilang pengendara yang melanggar
  • Hal terakhir yang didapat baik langsung atau tidak langsung adalah akan menarik simpati masyarakat terhadap polisi.

Ketegasan menegakkan aturan yang konsisten perlu terus dilakukan, sehingga tidak terjadi semisal kendaraan umum atau pribadi menembus jalur khusus busway, apalagi dengan mogok di tengah jalur busway. Jika tidak terjadi ketegasan, salah satu langkah solusi kemacetan – seperti busway ini, akan tidak berarti apa-apa. Padahal jika kita bisa mengapresiasi pengorbanan masyarakat yang mau memarkir kendaraan dan memakai busway, sudah berapa puluh atau ratus kendaraan yang secara sadar tidak memasuki Jakarta. Usaha pemerintah yang patut diapresiasi ini jangan sampai mentah dan kehilangan manfaat hanya karena lemahnya penegakan aturan yang tegas.

Ketegasan yang lain adalah di tataran keputusan. Dibandingkan dengan wacana pengaturan kendaraan yang berhak memasuki Jakarta berdasarkan hari dan nomor polisi ganjil genap, sebenarnya langkah paling efektif adalah pembatasan jumlah kendaraan itu sendiri. Hal itu bak sebab-akibat yang logis, jika panjang jalan tidak bisa bertambah kenapa pertumbuhan kendaraan tidak direm. Mencengangkan membaca berita di media bahwa penjualan kendaraan di Jakarta berjumlah 1172 per hari. Jika ini terjadi, apapun solusi yang ditawarkan, menurut saya mustahil kemacetan teratasi – dan matilah Jakarta di tahun 2014. Tegaslah dalam memutuskan, kurangi pertumbuhan kendaraan dan pada satu titik tertentu – jika diperlukan – tekan pertumbuhan ke titik terendah. Pasti akan ada ketidaksetujuan tentang itu, namun jika itu keputusan terbaik untuk masa akan datang dan untuk jangka panjang, mengapa kita tidak ambil resiko sementara?

129861857664102443

Berkaca pada keberhasilan PT KA mentransformasi diri dengan menyediakan berbagai jenis layanan kereta, AC – ekonomi AC – ekonomi atau langsam, dan melihat bagaimana masyarakat mendapatkan manfaat dari moda transportasi ini – dalam bentuk memotong waktu perjalanan dengan moda transportasi lain bahkan sebanyak satu jam, juga dukungan masyarakat terhadap moda transportasi ini – dilihat dari beratus mobil pribadi yang urung memasuki Jakarta dan diparkir di stasiun, saya berpikir moda transportasi rel adalah solusi terbaik, baik itu berupa kereta biasa, MRT atau lihgt rail. Memang kentara banyak dana yang harus disediakan, banyak pengorbanan – langsung atau tidak langsung yang dibutuhkan, banyak pohon harus dipotong atau dipindahkan dan banyak kemacetan baru yang ditimbulkan selama pelaksanaan konstruksi. Dan yang pasti banyak pro dan kontra. Itulah hidup, pasti dihadapkan kepada positif dan negatif. Dan itulah resiko. Sejatinya kita harus tegas memutuskan yang terbaik bagi masyarakat dalam jangka panjang, dan berani mengambil keputusan yang tidak populer sekaligus berani mengelola resiko jangka pendek yang timbul tersebut. Itulah ketegasan seorang pemimpin, dan kita membutuhkan pemimpin seperti itu.

Satu contoh kecil adalah MRT. Sekitar sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, saya sempat melihat gambar konsep konstruksi kereta bawah tanah Lebak Bulus – Kota. Konsep yang sepertinya sudah matang, namun kemudian terbengkalai entah karena dampak krisis ekonomi, menghindari masalah sosial dan lingkungan atau ragu dalam memutuskan. Dan kita lihat sampai detik ini, konsep tersebut masih terus berada dalam tataran wacana, tanpa adanya ketegasan. Jika saja saat itu pengambil keputusan tegas memutuskan yang terbaik dan berani mengelola resiko – termasuk penolakan aktivis, bisa jadi sekarang – sepuluh atau lima belas tahun kemudian – kita sudah memiliki moda transportasi masal tersebut dan kemacetan sedikit demi sedikit berkurang. Bisa jadi pohon yang ditebang dan dipindahkan sekarang sudah rimbun kembali. Dan bisa jadi yang kontra pun akan berbalik mendukung setelah melihat manfaatnya.

Kita sangat menantikan ketegasan pemimpin kita, serta keberaniannya memutuskan yang terbaik serta mengelola resiko, pro kontra, positif negatif yang akan dihadapi. Sebagai masyarakat, kita membutuhkan kepastian, dan sebenarnya masyarakatpun pasti akan mendukung sesuatu yang mendatankan kebaikan jangka panjang. Masyarakat membutuhkan keberanian pemimpin yang tegas. Diharapkan oleh masyarakat bukan sebuah pertanyaan: ‘Tegas? Siapa yang takut?’, tetapi sebuah keyakinan: ‘Tegas? Siapa takut!’.

Cag, 25 Februari 2011

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s