Torres Juga Ternyata Manusia Biasa

Beberapa saat setelah Torres hengkang dari Liverpool dan dibeli Chelsea, saya menunggu penampilan perdananya. Ya, pertandingan antar klub baru dan klub lamanya. Saya malah sudah punya ide membuat tulisan berjudul ‘Torres, itulah profesionalisme’, dengan acuan lamunan saya bahwa Torress bisa membawa Chelsea mengalahkan Liverpool.

Saya tunggu penampilan perdana Torres bukan dengan menontonnya. (Tahu kan, saya bukan penggila bola, dan tetap memanfaatkan malam untuk tidur). Saya hanya melihat beritanya saja dari harian yang biasa saya beli.
12974327331812148050
Dan benar saja, ternyata Chelsea kalah 0-1, Torres diturunkan, namun lalu ditarik, dikritik pengamat bola karena permainannya jelek, dicemooh pendukung Liverpool, dan bahkan transferan dia yang selangit di Eropa – sekian ribu pounds – dikomentari kemahalan oleh direktur Barca. Lalu, apakah kita vonis dia tidak profesional?

Mari kita coba tempatkan diri kita menjadi dia. Atau taruhlah kita pemain Persija dan kemudian dibeli musuh bebuyutannya, Persib Bandung, kita mungkin akan berhadapan dengan kondisi yang sama seperti itu:

  • Bingung, biasa ngoper bola dari dan ke teman sendiri sekarang malah harus merebutnya, kalau perlu ‘tackle’ kaki sobat sendiri.
  • Canggung, kaku berhadapan dengan teman sendiri, apalagi jika diikuti perasaan sungkan, tidak enak hati.
  • Apalagi menghadapi cemoohan dari penonton yang awalnya adalah pemujanya, yang bisa saja berbalik memusuhinya.
  • Belum lagi siap-siap dengan komentar pendukung klub barunya, yang pasti mencemoohkannya jika tampil tidak optimal, meskipun itu hanya sedikit.
  • Kepalanya pening, emosi bisa sampai dada jika merasa harga dirinya dilecehkan oleh komentar pedas bahwa transferannya terlalu tinggi. Bisa saja itu ditafsiran, ‘elo mah jauh lebih murah dari itu’, atau diwakili oleh jempol ke bawah. Sebagai pemain belian, dia bisa saja bilang: ‘Emang gue cowok apaan’.

Nah, dari sudut pandang itu, bisa dibayangkan beratnya beban mental Torres menghadapi pertandingan itu. Apakah itu menjadi petunjuk dia tidak profesional? Ya, tidaklah. Dia bukanlah seorang Superman. Torress juga manusia biasa kan, yang dalam hal ini sama saja dengan Suparman, jago ‘mengbal’ kampung sebelah. Tinggal kita tunggu saja kiprah lanjutnya di Chelsea, sehingga bisa menghapus keraguan beberapa pihak.

Meskipun saya anak baru dalam hal bola, boleh dong saya support dia: Go!!! Go!!! Torres.

Cag, 11 Feb 2011

Tergelitik nulis Torres, karena sering melihatnya dalam iklan rokok dekat kantorku.

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s