Valentine Go Green alias Kasih Sayang yang Membumi

1297550548682260604Bagi yang merayakan atau ikut-kutan merayakan Valentine, apa yang ada di benak anda sekarang? Ini bukan?

  • Sebentuk gambar hati berwarna pink
  • Karangan bunga membentuk hati dari mawar putih atau merah jambu
  • Sekuntum bunga mawar dengan tangkainya yang dibungkus kertas harum
  • Sebatang coklat tebal diikat pita merah jambu
  • Semuanya diserahkan oleh pasangan yang berdandan rapi, wangi dan ganteng

atau

  • Makan malam spesial, di tepi pantai, temaran, dengan lampu redup dari lilin-lilin tertiup angin
  • Candle light dinner dengan kamar diredupkan, berharum wangi aromaterapi, bermusik romantis, bergaun rapi, berpegang tangan, mesra
  • Menata peraduan dengan tampilan seprei indah, harum, dengan bunga mawar tergeletak dari mulai pintu sampai di atas kasur

atau

  • Sekotak cincin, seuntai kalung
  • Sehangat pelukan dan sepanas ciuman suami istri
  • Seindah dekapan ibu-anak
  • Dan tertawa lepas anaknya.

Hanya untuk satu hari. Hari spesial. Hari kasih sayang.

Lalu (atau padahal), esoknya realita hidup akan kembali, tatkala bunga sudah melayu, coklat sudah mencair, lilin sudah memendek, maka makan malam kembali tergeletak hambar, kasur kembali terlihat rapi satu sisi, lampu kamar kembali benderang dengan berisik stadium bola masuk ke teve dan ditonton suami yang hanya berkaos dalam, sementara cincin sudah kembali tersembunyikan. Maka pelukan kembali berganti lunglai, desahan menjadi keluhan, ciuman kembali berganti senyuman datar, itupun terpaksa dan seorang ibu kembali mendekap kehampaan tatkala anaknya asyik mendekap iPad dan BB-nya. Bukankah itu realita masa kini, kan?

Lalu, apakah semuanya cukup tergantikan hanya dengan kasih sayang semu-sesaat-artifisial yang berbiaya tinggi dalam bentuk hari kasih sayang?

Bagaimana jika kita kembali ke kenyataan bumi, jangan melulu bertingkah seperti di sinetron atau Hollywood. Down to earth lah. Saya istilahkan Green Valentine – istilah keren saya dengan maksud menciptakan keteduhan kehidupan dan mengembalikan kasih sayang itu beserta kelembutannya pada hari-hari yang terjalani.

Kasih sayang membumi yang saya maksud adalah:

  • Sekali seminggu, belikan anak-istri sesuatu yang murah sebagai oleh-oleh. Lakukanlah pada saat mereka tidak meminta dan mengharapkan. Sebungkus goreng singkong yang nikmat saja, bisa membawa kebahagiaan bagi anak-istri, apatah lagi sekotak piza atau roti bakar isi spesial. Kebahagiaan bukan dari materi, tetapi dari hati dalam bentuk kasih sayang.
  • Sebulan sekali minta suami datang tepat waktu, sekali saja. Beri dia kejutan makan malam masakan sendiri dengan menu kesukaan suami waktu kecil. Suami yang sudah bosan masakan karya chef, tentunya akan bahagia saat dia menyantap masakan sederhana sayur kacang manis dengan kurupuk seribuan, ‘kok seperti masakan Mamah deh, say’, dan kalaupun dia tahu jika itu hasil bantuan mertua, rasanya dia akan tambah bahagia ‘wah, istriku akur dengan mamaku, dan sebuah kecupan di kening akan memberikan kebahagiaan bagi istri, dan kasih sayang tiga arah – suami, istri, mertua – tercapai sekaligus
  • Pada waktu-waktu tidak tertentu, pulanglah sebelum waktunya. Minta istri berdandan rapi, tidak terlalu bagus. Titipkan anak sementara dengan kakek-neneknya. Pergilah ke bioskop nonton filem romantis. Atau secara sengaja, ajak ke peraduan lebih dini untuk berduaan – ‘dua menjadi satu’. Setel musik romantis, temaramkan lampu. Tidak perlu sengaja menyalakan aromaterapi, karena saat ‘panas’ itu mungkin istrimu menginginkan bau keringatmu.
  • Ajaklah si sulung main basket di halaman, persis setelah turun dari mobil sepulang kerja. Paksa dia main one on one (eh, bener gak istilahnya?). Atau sebelum pergi, naikin si bungsu ke atas motor, dan berkeliling komplekslah sampai waktu pergi tiba. Jika waktunya sangat mepet, minta ijinlah untuk datang kantor telat sebulan sekali – itupun dikompesasi dengan pulang telat.
  • Hari Minggu sebelum membaca koran, bilang ke istri “saya akan temani kamu ke pasar”, meski suasana saat itu becek dan tidak menyenangkan.

Sepertinya hal itu gampang ya, dan tidak memerlukan dana yang besar, dan bisa dilakukan kapan saja. Namun, kasih sayang yang membumi seperti itu akan memberi arti lebih dalam dan lebih lama, dan memberi keteduhan kepada seluruh anggota keluarga. Itulah arti kasih sayang sejati, kan?
Tapi, saya gak punya waktu luang? I don’t have time.

Gus Dur-pun menjawab: ‘Gitu aja kok repot’. If you don’t have time, you MAKE the time. Jika kamu tidak punya waktu luang, BUATlah waktu luang itu.

Mana bisa mendapatkan sesuatu hasil tanpa berusaha. Mana ada jago berenang yang tidak basah. Mana bisa memberikan kasih sayang jika tidak berusaha MEMBUAT waktunya tersedia.

Jadi, mari tebarkan kelembutan dan keteduhan kasih sayang kepada lingkungan terdekat dalam bentuk yang ikhlas, nyata dan realistis. Marilah kita praktekkan kasih sayang yang membumi. Dan marilah jadikan Valentine go GREEN, bagi mereka yang merayakannya.

Cag, 12 Feb 2011

Saya muslim, dan saya tidak merayakan valentine. Namun, boleh kan saya berurun pendapat.

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s