Van Basten, Cerita Cedera dan Profesionalisme

#tulisan penyegar dari mualnya berita PSSI dan Nurdin Halid#

12984616461898894987

Akhirnya, muncul juga jago bola tahun 80-90an ini dalam berita, meski hanya untuk mengulas atau mengomentari klub Barcelona. Dialah Marco van Basten, salah satu pemain terbaik dunia saat itu.

Kemunculan van Basten dalam berita langsung mengingatkan saya akan kisah tragis kehidupan karir profesionalnya sebagai pemain bola. Ya. Cederalah yang menamatkan riwayat seorang jenius sekelas van Basten. Cedera lutut yang berujung beberapa kali operasi, telah mengantarkan perjalanannya sebagai pemain bola berakhir pada saat berada di puncak karir, dan kemudian menggantung sepatu pada usia muda – 30 tahun.

Itulah momok terbesar para atlet: cedera. Cedera juga yang mengantarkan petenis favoritku – Justine Henin – mengakhiri comebacknya lagi setelah sekian tahun mundur karena tikaman pendukung Steffi Gtaff dan kekacauan kehidupan rumah tangganya. Cedera akibat kecelakaan pada saat menjalani profesi sebagai olahragawan profesional juga yang menimpa Kubica, pembalap F1, yang harus berkali-kali dioperasi. Dan apa yang menimpa Muhammad Ali – si ‘Mulut Besar’, petinju terbesar sepanjang masa, yang menjalani masa tua dengan Parkinson, adalah juga akibat cedera olahraga. Rasanya akan pantas berita di koran Top Skorer halaman 10 yang berisi: ‘untuk pertama kalinya di awal tahun ini, Atletico Madrid mendapatkan timnya dalam kondisi fit’ dan menyalahkan cedera sebagai penyebab buruknya hasil klub itu.

Jadi sepertinya akan timbul sebuah postulat bahwa sejauh mana seorang atlet bisa menghindari cedera atau ‘mengelola’ resiko cedera, akan memegang peranan penting dalam kemajuan karirnya. Contoh sederhananya adalah duo petenis hitam Williams bersaudara, Venus dan Serena. Dua petenis yang punya pukulan kencang bertenaga, tajam, akurat dan konsisten. Jika saja mereka bisa mengelola resiko cedera dan menghindarinya, bisa jadi mereka akan mendominasi dunia tenis putri sebagaimana Roger Federer dan Rafael Nadal menguasai pertenisan putra.

Itulah konsekuensi logis dari sebuah profesi. Memang mereka adalah para atlet yang bergelimang uang, tetapi mereka akan tetap dihantui cedera sebagai resikonya. Apalagi di tengah tekanan ketatnya kompetisi, yang bisa jadi harus mengerahkan usaha maksimal bahkan sampai melebihi batas kemampuannya – to the limit. Bahkan kadang waktu pribadi pun tidak dipunyai.

Namun itulah para atlet, yang memperlihatkan semangat seorang profesional. Profesional sebagai seorang pemain, giat berlatih, intensif bertanding, semangat meraih kemenangan, berani mengambil resiko, dan konsekuen menerima apapun yang sejelek apapun yang terjadi – termasuk gantung raket, gantung stir, gantung sepatu atau gantung sarung tinju.

Kawan. Tidak ada hasil yang tanpa usaha – yang tanpa kerja keras. Kita biasanya hanya melihat harga transfernya yang fantastis, kekayaannya yang bejibun, mobilnya yang kuren. Tapi kita kadang lupa apa yang telah mereka korbankan, usaha keras yang mereka kerahkan, pengorbanan yang telah mereka tanamkan. Kita melihat entengnya saja.

Hasil tergantung usaha.

Tirulah mereka para atlet professional. Jadilah professional dalam bidangna. Jangan tiru rekan-rekan kita yang mencari jabatan untuk “mendapatkan hasil terbanyak dengan usaha sedikit” dalam bentuk korupsi dan akal-akalan tunjangan-tunjangan sana-sini. Usahalah. Lakukan yang terbaik demi kebaikan. Karena sejatinya jika kita lakukan itu demi kebaikan – baik kebaikan bagi diri sendiri atau kebaikan sekitar – kita akan mendapatkan dua kepuasan: kepuasaan lahir dan batin.

Karena kebaikan akan melahirkan kebaikan lainnya.

Cag, 23 Feb 2011

kok-anggota-dpr-itu-tak-tahu-malu-ya-mengenai-budaya-malu/

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s