Kompasiana Menguji Kesabaranku

Dua tiga orang Kompasianer beberapa waktu lalu menyatakan permisi meninggalkan Kompasiana. Alasannya karena banyak hal yang tidak cocok lagi serta tidak ada respons yang cukup dari admin. Belum lagi suasana ‘hangat’ berkaitan komentar-komentar pedas, keras, memerahkan telinga yang terkadang menjurus kepada debat kusir. Juga tentang polemik-polemik ringan yang kemudian menjadi berat karena penafsiran yang berbeda. Itulah sebagian bukti yang sangat jelas bahwa Kompasiana adalah wahana melatih kesabaran kita kan? Dan saya termasuk mereka yang sedang dilatih kesabarannya.

Namun tahukah kawan, itu bukanlah latihan kesabaran yang sebenarnya bagiku. Kesabaran saya diuji dengan dua hal atau dua kejadian sederhana:

1. Tulisan ‘keren’ saya – dalam arti alineanya rapi, penggunaan hurufnya betul, dihiasi huruf italic atau bold dengan tanda baca yang cocok – yang saya tulis di MS-Word akhirnya muncul amat-sangat amburadul sekali. Maksud dari tulisan ‘keren’ yang untuk mengundang Kompasianer lain membaca tulisan yang dianggap isinya ‘keren’ akhirnya hilang. Coba, mana ada yang mau meneruskan baca jika tulisan panjang itu tanpa alinea? Lalu, demi menjaga image tulisan agar tidak tercemar, saya buru-buru edit lagi tulisan itu. Lagi dan lagi. Karena tetap tidak rapi juga, akhirnya saya mulai tidak sabar. Ujungnya, tulisan itu tetap nampang di dasbor namun dengan pembaca sedikit. Atau, kesabaran saya habis, lalu ditekanlah sebuah tombol eksekusi: DELETE. Itu terjadi tidak hanya sekali kawan, namun berkali-kal sampai akhirnyaa muncullah tips dari Bang Isjet tentang menulis artikel di Kompasiana dari word file. Ternyata tulisan dari word tidak bisa langsung dicopy-paste, tetapi ada trik-trik yang harus dilakukan lebih dulu. Tahulah saya apa penyebabnya. Woalah, ini saya yang gaptek atau informasinya yang telat? Ah, ternyata terbukti pengettahuan saya masih cetek.

2. Untuk menghindari hilang kesabaran seperti di atas, lalu saya menggunakan cara sederhana dan to the point. Saya langsung menulis artikelnya di halaman dashboard – write. Dengan pedenya, saya tulis artikel yang cukup panjang – maklum itulah kelemahan saya: tidak bisa menulis pendek. Setelah selesai dan saya baca lagi dari awal, saya puas. Dengan semangatnya saya tekan enter. Dan mendidihlah emosi saya saat muncul pemberitahuaan adanya error. Aaaargh!!! What!! Why?? Kenapa?? Kunaonn??? Aaargh. Lalu saya tekan tombol panah melingkar ke kiri: ‘back’ dengan harapan muncul tampilan terakhir sebelum saya tekan tombol enter. Iya sih, muncul juga tampilan dashboard-write nya. Tapi kosong, saudara-saudara. KOSONG. Tulisan saya yang dikembangkan dengan indahnya – halah – dengan bumbu-bumbu kata pilihan yang kebetulan saat itu bermunculan, ternyata hilang begitu saja. Padahal kata-kata sudah mengalir. Dan parahnyan saya tidak memiliki filenya, karena saya tulis langsung di web Kompasiana. Dan saya pun belum sempat men-select dan copy tulisannya. Bayangkan, sebuah ide yang sudah dituliskan, lalu tulisan itu hilang. Saya hanya terpana dan mulailah telinga memerah kesal – cuma itu yang bisa dilakukan secara katanya saya jarang bisa marah – diikuti wajah yang juga ikutan memerah. Yah, beda-beda dikit lah dengan Cepot, wayang Sunda. Kalau sudah begini, muncullah serapah yang tidak disumpah ‘wis, berkali-kali kayak gini, saya cabut dari Kompasiana. Paka komputer kantor begini. Pake komputer rumah juga begini kejadiannya. Pake iPad pinjaman saja sama. Aaargh’.

Bayangkan kawan, dua hal itu. Periiiih.. banget. (Lebay amat, jadi penulis saja belum)

Lalu muncullah tips ini: Hati-hati menulis di Kompasiana dan Jangan menulis di Kompasiana (tadinya mau dipakai sebagai judul, namun sepertinya terlalu bombastis).

1. Hati-hati menulis di Kompasiana. Tambahlah ilmu tentang ngeblog dari yang punya pengetahuan, dan baca tips-tips ngeblog. Terkadag blog mempunyai bahasa sendiri, padahal siapa sangka juga program komputer semacam word punya bahasa berbeda. Jika pengetahuan belum ada, ya mungkin kita bisa pake Notes (di MS Outook) atau Wordpad yang tidak berformat, sehingga formatnya mengikuti standar Kompasiana. Jika kita tidak hati-hati, bisa-bisa selesai menulis kita akan emosi mellihat tampilan yang hancur lebur.

2. Jangan menulis di Kompasiana langsung. Tulislah di tempat lain dulu. Jika selesai, barulah copy and paste ke Kompasiana dashboard. Dengan begini, amanlah kita karena kita masih mempunyai file jika terjadi apa-apa. Saya mengakalinya dengan menulis di hape dengan memanfaatkan fitur Notes. Cara begini lebih enak, handy, karena kita bisa mengupdate tulisan di mana saja kita berada. Inipun ada konsekuensinya: jari pegel dan muncul beberapa hurufff beersamaan (yang berarti hapenya harus diganti).

Yah, setidaknya ketidaksabaran saya akan dua hal di atas bisa diakali.

(Bener kan, jemppol dan telunjuk pegel nih).

Selamat menikmati hari Minggu.

Cag, 13 – 11 – 2011 (meski bukan 11.11.11 tapi masih hari istimewa bagiku, karena berhasil melakukan perbuatan istimewa: menidurkan si kecil yang sedang kelewat aktif)

One thought on “Kompasiana Menguji Kesabaranku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s