Sebuah kekotoran hati dalam kasus Nenek Rasminah

Mahkamah Agung memutuskan Nenek Rasminah bersalah mencuri piring dan sop kambing. Banyak yang mencela keputusan itu, karena kentara memperlihatkan ketidakadilan. Saya pun beranggapan yang sama. Namun kali ini yang menarik perhatian saya adalah adanya unsur kekotoran hati. Apa pasal?

Seseorang yang kotor hati biasanya akan melakukan segala hal yang dia anggap penting, tidak peduli klaim dari sisinya benar atau salah. Orang yang demikian akan merasa ‘terhina’ akan sesuatu hal ringan yang menimpanya,  sehingga berhak menghakimi dan menjatuhkan hukuman yang berat bagi ‘lawannya’. Harga dirinya akan mudah sekali ‘teriris’. Baginya, kebaikan atau bakti ‘lawannya’ segunung tidak ubahnya bukit pasir halus yang langsung hilang terbawa angin puting beliung kegelapan hati. Hatinya telah beku atau dibekukan karena kekotorannya. Kata maaf atu memaafkan, apalagi ungkapan kasih terima kasih seperti sudah hilang dari perbendaharaan kata di kamusnya.

 

Bukankah itu benang merah apa yang diperlihatkan seseorang penyandang nama belakang sementereng proklamator – Sukarnoputri, yang sebenarnya tidak ada pertalian darah. Beberapa buah piring yang dipersengketakan, sudah sanggup menutup hatinya. Piring-piring yang berupa benda fisik – yang nilainya tergantung dari sisi mana melihatnya, telah mengalahkan hal non-fisik yang nilainya universal: kasih sayang. Sop buntut yang bernlai rupiah, telah mengalahkan nilai kekeluargaan. Dan pengajuan tuntutan ke pengadilan, telah menafikan hubungan majikan-bawahan yang telah terbina tahunan. Jika benar apa yang dikemukakan berita-berita di media masa, bukankah itu pertontonan kekotoran hati.

 

Jika itu benar, biarkanlah sang majikan itu tertawa. Biarkanlah jaksa dan hakim ‘terpenjara’ oleh hukum perkara – meski entah ke mana perginya kata ‘bijaksana’. Dan, biarkanlah kita saja yang belajar menjadi bijaksana memetik makna ini: Jangan pupuk kekotoran dalam hati kita.  Hilangkanlah benci. Tebarkanlah kasih sayang. Bukalah pintu maaf. Hangatkan jiwa dan hati kita, agar hidup lebih tenang, damai dan bermakna. Penyelesaian masalah bisa dengan berbagai macam cara – termasuk cara yang bijaksana.

Jangan lupa berdo’a, mudah-mudahan Nenek Rasminah diberi kekuatan hati dan kelapangan jiwa, dan tetap dilindungi Yang Kuasa.

One thought on “Sebuah kekotoran hati dalam kasus Nenek Rasminah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s