Tragedi Maut Terowongan Mina, Nyaris Mencabut Nyawaku (by Masykur A Baddal)

by Masykur A Baddal (disharing dari Kompasiana)

By. Masykur A. Baddal – Peristiwa maut yang terjadi di Terowongan Mina Al Mu’aisim pada tahun 1990, dianggap sebagai peristiwa berdarah terbesar dalam sejarah perjalanan haji dunia Islam. Karena telah menewaskan lebih dari 1.426 korban jiwa. Sebagian besar korbannya adalah akibat kekurangan oksigen, karena terkurung dan saling dorong dalam terowongan sempit Al Mu’aisim, yang dilalui oleh ribuan jamaah haji dari dua arah pada waktu yang sama.

Kisah peristiwa maut tersebut, menjadi sangat penting dalam hidupku. Sebab, secara langsung aku terlibat di dalamnya. Karena kebetulan aku pada saat itu, bekerja di Kantor Muassasah Haji No. 21, sebagai tenaga supervisor dan penanggung jawab keamanan dan keselamatan para jamaah, dengan beberapa orang temanku warga Saudi Arabia. Adapun detail kisahnya begini.

Pada tanggal 9 Zulhijjah tahun 1990 M, tepat jam 20.00 waktu Saudi Arabia. Setelah seharian penuh melakukan prosesi Wuquf di Arafah, semua jamaah serentak bergerak menuju ke Mina. Yaitu sebuah kota tempat melakukan ritual pelontaran jumrah. Walaupun jarak antara padang Arafah dengan lokasi perkemahan jamaah di Mina hanya sekitar 5 km, namun jarak tersebut harus ditempuh dalam waktu 10 jam, karena padatnya jalan menuju ke kota tersebut, sebab pada waktu yang sama dilalui oleh jutaan ummat manusia.

Akhirnya, tepat jam 06.00 pagi 10 Zulhijjah, aku bersama seluruh rombongan jamaah haji dari Kantor Muassasah no. 21, tiba dengan selamat di lokasi perkemahan. Yang selanjutnya akan menjadi tempat berteduh para jamaah, kurang lebih 3 hari selama keberadaan mereka di Mina. Karena pelontaran jumrah akan dilakukan secara kolektif pada jam 13.00 siang, maka kami dari tim pengawas meminta kepada semua jamaah, untuk memanfaatkan selang waktu tersebut untuk beristirahat di kemah masing-masing. Karena tenaga yang dibutuhkan dalam ritual jumrah tersebut sangat besar, sebab harus mampu berdesak-desakan dengan jamaah haji dari negara lain, yang umumnya mempunyai postur tubuh lebih besar.

Selanjutnya, sambil menunggu waktu pelontaran tiba, biar nantinya lebih leluasa dalam mengawal jamaah. Aku pun berinisiatif untuk melakukan pelontaran untuk diriku terlebih dahulu. Tanpa pikir panjang langsung ku geber motor milik kantor yang khusus disiapkan untuk operasional lapangan, dan kebetulan masih terparkir rapi di sela-sela kemah. Karena jalan menuju lokasi pelontaran hanya berjarak 3km, dan jamaah pun masih belum terlalu ramai, aku hanya membutuhkan waktu 30 menit saja, hingga kembali lagi ke perkemahan. Setelah melakukan pelontaran jumrah Aqabah (jumrah kubra) maka otomatis pakaian ihram pun sudah dapat ditanggalkan, sehingga sedikit lebih leluasa dan lega. Lalu, aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak, karena jadwal keberangkatan bersama jamaah masih beberapa jam lagi. Lumyan lah, untuk menyimpan tenaga dalam mengawal jamaah, gumanku.

Namun siapa nyana, tepat jam 10.05 pagi, dengan wajah yang rada cemas, kepala kantor tempatku bekerja membangunkanku lalu berkata, ” kamu harus cepat menyusul jamaah kantor kita, karena ada yang pergi sendiri dengan membawa beberapa orang jamaah ke pelontaran”. Setelah melihat motor tidak berada di tempat, aku pun memutuskan untuk berjalan kaki menyusul mereka. Sebelum bergerak, aku memakai jubah dan penutup kepala khas ala orang Saudi, kemudian aku pun beranjak dari lokasi perkemahan.

Ketika sampai di mulut terowongan Al Mu’aisim, menuju ke arah pelontaran. Aku sedikit cemas dan kaget, karena banyak polisi dan tentara di situ, begitu juga beberapa mobil ambulance yang mencoba masuk ke dalam terowongan, namun terhalang dengan banyaknya jamaah di mulut terowongan itu. Setelah menunjukkan ID resmi dari muassasah aku pun diizinkan masuk ke dalam terowongan. Lalu aku mempercepat langkahku, khawatir jika jamaah yang hendak ditolong oleh ambulance itu adalah jamaah dari kantorku.

Setelah berjalan sekitar 10 menit menyusuri terowongan sempit yang panjangnya sekitar 1km, kebetulan saat itu lagi ramainya dengan para jamaah. Tiba-tiba aku mencium bau amis dan busuk. Lalu, terlihat banyangan gelap yang bergulung-gulung dari mulut terowongan arah pelontaran. Setelah mendekat sekitar 100m dari sumber cahaya gelap yang bergulung-gulung, baru aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Seketika bulu romaku berdiri dan badanku pun bergetar hebat, sambil berujar Oh Tuhan selamatkan aku dari bencana ini. Ternyata cahaya hitam yang bergulung-gulung itu adalah, sekelompok manusia yang jumlahnya ribuan, mereka saling dorong, saling desak dan saling injak. Seolah-olah orang-orang itu tidak sadar apa yang sedang mereka melakukan. Ditambah lagi menipisnya ketersediaan oksigen di dalam terowongan itu, sehingga membuat semua jamaah panik, serta berlarian tidak menentu arah, saling tabrak dan dorong, akhirnya mereka juga terjatuh dan tewas terinjak-injak.

Di tengah-tengah keterpanaanku, tanpa mampu berbuat apa-apa, tiba-tiba aku mendengar dari arah belakang suara gemuruh. Ternyata rombongan jamaah haji lainnya meringsek masuk dari arah perkemahan, seketika terjadilah saling dorong, saling injak tanpa ada yang mampu melerainya, karena semua terjadi begitu cepat. Kini posisiku berada diantara dua kelompok tersebut, sambil terus berzikir dan beristighfar, serta memohon kepadaNya untuk diselamatkan dari maut yang sangat mengerikan itu. Lalu, aku pun berpikir, jika tetap berada di tengah-tengah kelompok yang sedang beringas ini, berarti riwayatku pun akan tamat disini. Tanpa kusadari, seperti ada yang menarik, tiba-tiba tubuhku sudah merapat ke dinding terowongan. Aku melihat tepat diatas kepalaku ada gantungan lampu besi, lalu ku coba untuk meraihnya dengan susah payah, tetap saja tidak berhasil. Namun, tiba-tiba ada sekelompok jamaah Afrika yang sedang saling dorong dan injak di dekatku, entah bagaimana kok tiba-tiba bisa memantulkan tubuhku ke atas, dan Alhamdulillah akhirnya aku mampu meraih besi gantungan tersebut.

Dari posisi menggelantung itulah, aku merinding melihat bagaimana seorang anak manusia begitu mudah kehilangan nyawanya. Sambil terus berdoa kepadaNya dengan linangan air mata semoga diselamatkan dari bencana yang sangat mengerikan tersebut. Setelah menggelantung selama 30 menit, dan suasana heboh pun sudah agak mereda, lalu aku menjatuhkan tubuhku diatas timbunan mayat yang saling bertindihan. Menurut penglihatanku ada sekitar 1 sampai dengan 1.5 meter ketebalan tindihan mayat yang begeletakan dalam terowongan tersebut.

Sesampai di mulut terowongan arah perkemahan, aku menceritakan sekilas kepada pasukan pengaman disitu, ternyata mereka sudah mensterilkan wilayah tersebut beberapa saat yang lalu. Kemudian aku pun bergegas menuju perkemahan untuk melaporkan bencana berdarah tersebut kepada pimpinan di kantor muassasah.

Satu jam kemudian, aku beserta 5 orang petugas kantor muassasah, yang kesemuanya warga Saudi, kembali lagi ke dalam terowongan itu, untuk maksud melakukan evakuasi, serta menolong para jemaah, yang kira-kira masih dapat ditolong. Namun apa yang terjadi? Jangankan mau mencari jamaah, baru berjalan sekitar 10 menit saja menerobos terowongan tersebut, kami sudah tidak mampu lagi menahan bau kematian yang sangat menyengat. Malah dari mulut terowongan arah pelontaran, sudah mulai terdengar suara boldozer yang sedang menyapu dan mengangkut mayat-mayat tersebut dengan truk besar, Wuihhhh….tega sekali perlakuan mereka, bagaikan membuang sampah saja, padahal jamaah tersebut adalah tamu Allah, begitu guman hatiku. Akhirnya dengan tangan hampa kami pun kembali ke kantor muassasah.

Ternyata, beberapa orang jamaah dari kantorku yang tadi berinisiatif untuk melontar sendiri, mereka telah kesasar jauh ke arah padang Arafah. Karena terlunta-lunta tidak jelas tujuan di tengah padang sahara, lalu dibantu oleh seorang mahasiswa Indonesia asal Mesir. Yang kebetulan, juga bekerja di kantor muassasah satu blok dengan lokasi perkemahan kantorku.

Imbas dari tragedi terowongan Al Mu’aisim, pengelola meminta agar semua jamaah untuk bersabar dan menahan diri sejenak menuju ke pelontaran, sambil menunggu pihak berkompeten memberikan informasinya, sekitar jalan alternatif yang dapat dilalui menuju ke lokasi pelontaran. Karena terowongan sudah disterilkan oleh Kerajaan Saudi, demi memblokir informasi negatif yang akan menyerang Kerajaan mereka sekitar tragedi berdarah tersebut. Malah aksi mereka pun tergolong sangat represif, tidak segan-segan menagkap semua pewarta yang memberitakan hakikat dari peristiwa berdarah tersebut.

Paska peristiwa terowongan Mina itu, ternyata telah membuat nyali semua jamaah menciut dan ragu. Namun, pihak pengelola terus berusaha membangkitkan kembali semangat mereka, serta mengingatkan kembali tujuan utama mereka datang untuk berhaji. Tentu saja bagi diriku pribadi ada kepuasan batin tersendiri yang dapat ku rasakan, disaat mampu memberikan yang terbaik bagi semua jamaah, walaupun tantangan nyawa yang harus kuhadapi. Selanjutnya, demi terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, aku meminta semua jamaah agar senantiasa memperhatikan rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh penguasa negeri setempat. Sehingga akhirnya semua jamaah akan memperoleh imbalan haji yang Mabrurrrr.

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s