Ada replika mimbar Masjid Nabawi di mesjid ini

Jum’at kemarin saya berkesempatan solat Jum’at di Mesjid Jami Al Azhar Jakapermai. Lokasinya cukup jauh dari Pamulang. Naek kereta butuh tiga jam ke sana. Umumnya waktu terbuang karena tertahan di beberapa stasiun. Untung, turun di stasiun Kranji tidak perlu diperiksa paspor. Hehehe….lelucon Bekasi itu jauh sekali sehingga perlu paspor kali ini dipengaruhi lamanya perjalanan berkereta.

Seturunnya dari ojek, saya sudah disambut berbagai kemenarikan. 

1. Bangunan mesjid yang khas. 

Khas bingits tepatnya. Warnanya itu loh. Biru terang. Memang sih banyak mesjid-mesjid dengan warna biru, tapi mesjid ini birunya mencolok. Belum lagi warna birunya tidak hanya untuk pagar, tapi juga kanopi dan eksteriornya. 

Warna biru terang ini menarik karena bisa menjadi ciri khas mesjid ini sekaligus bisa dilihat dari kejauhan. 

2. Kubah yang unik dan berbeda

Kubah mesjid ini berbeda dengan kubah kebanyakan mesjid di Jakarta. Jika umumnya kubah mesjid itu berbentuk setengah bola – seperti Mesjid Istiqlal, atau berbentuk bawang – seperti mesjid Baiturahman di Aceh, mesjid ini bermodel bawang tapi ditarik ke atas. Ada bagian bawah cukup tinggi. Model seperti ini mungkin meniru kubah di Samarkand. Model ini juga dipakai di Mesjid Surabaya. 

Kubah Mesjid Al-Azhar juga berwarna biru, sehingga sering juga siaebut Mesjid Kubah Biru. 



3. Karpet tebal

Tebalnya karpet berwarna merah ini sangat terasa di telapak kaki. Saat sujud dan duduk pun terasa nyaman. Asal jangan sampai saja ketebalan ini membuat jamaah tidur. 

4. Replika mimbar Masjid Nabawi

Bangunan bertangga dari kayu ini langsung menarik perhatian sejak memasuki area utama. Bagaimana tidak? Ukurannya itu loh besar sekali. Bangunan ini adalah mimbar – tempat khatib berceramah – pada saat Jum’at. Mimbar seperti ini pertama kali saya temui di Masjid Nabawi. Bedanya, di sana warnanya putih dan beraksen lingkaran di tengah. Sementara itu, mimbar ini penuh dengan aksen ukiran tradisional. 

Saya sendiri agak cukup bingung dengan fungsi mimbar di mesjid ini. Dikira mimbar ini dipakai saat khutbah Jumat. Ternyata, khatib berceramahnya di mimbar kecil di mihrab. Sementara mimbar ini dibiatkan berdiri saja. Sayang. Karena, mimbar ini sudah susah-sudah disirikan, bahkan dengan berakibat memutus saf, tapi ujung-ujungnya tidak dipakai. 

Btw, kolong mimbar ini ternyata bisa mampu menampung lina orang bersolat, termasuk muazin saat Solat Jumat itu. 

5. Keranda berkeliling


Ini kali ke berapa saya menemukan hal seperti ini. Kencleng sedekah berbentuk keranda. Iya. Keranda tempat mengusung jenazah. Tentu saja, kerandanya mini dong. 

Meskinterkesan mengada-ada, saya pikir bentuk keranda itu secra langsung akan mengingatkan jamaah kepada hari akhir. 

6. Kaca patri yang indah

Saat menoleh salam, tersaji sebuah pemandangan indah. Jendela terbuka. Ada seperti pintu ke il di bawahnya. Memberi aksen yang bagus. Sementara itu kiri kanan dan atasnya dikelilingi kaca patri. 

Kaca patri – yang lebih umum dipakai di rumah peribadatan unat lain, ternyata indah juga dipakai. Kaca patri tanpa gambar wajah. Melainkan garis, ruang dan bentuk-bentuk Islami. Keren sekali. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s