Lima manfaat nonton bioskop bagi #adedanayah


Hari Minggu adalah hari me-time berdua, Ade dan Ayah. Kita berdua bisa seharian bermain bersama, baik itu di rumah atau keluar. Biarkanlah si Ibu istirahat, leha-leha, berkebun, tidak digangguin urusan si Ade…dan si Ayah ๐Ÿ˜

Hari Minggu kemarin, kita sepakati untuk nonton bioskop bareng. Nonton adalah satu aktivitas yang disukai si Ade beberapa bulan belakangan. Kali kemarin itu kalo tidak salah adalah kali ke empat si Ade nonton bioskop dengan si Ayah. Kita nonton filem kartun. Judulnya Sing. Lucu bingit. 

โ€œAneh. Kok, diajarin nonton bioskop sih?โ€. Mungkin ada yang penasaran bertanya seperti itu. Entah apa pertanyaan itu bisa dikategorikan nyinyir atau tidak, tergantung pemaknaan atau penyikapan pelaku, bagi saya nonton bersama anak itu memiliki banyak makna.

1. Anak menjadi berani dan tidak takut gelap

Awalnya, saat si Ayah ngajak si Ade nonton, dia begitu ketakutan. Jangankan masuk ruangan, melihat kegelapan yang tidak seberapa – sebelum film diputar – dari luar saja, tangannya berpegang erat. Rona muka ketakutan sangat kentara. Dia tidak menangis, tetapi pelukannya tambah erat.


Lama-kelamaan, dan seiring usia yang bertambah, dia mulai ada keberanian. Lalu, saat tahu bahwa si Ayah membawanya untuk melihat film anak-anak yang lucu, dia menjadi tenang. 

Sejak itu, dia tidak terlalu takut lagi dengan kegelapan. Tidur malam pun sudah sering dalam keadaan lampu mati. 

2. Belajar sambil nonton. Nonton sambil belajar. 

‘Plis deh. Masa ke bioskop bawa buku. Bahkan jika mau ujian pun, atuh jangan ke bioskop jika mau belajar mah’. Begitu mungkin pikiran sepintas kita. But, wait!!!! Belajar kan tidak harus seperti itu. 

Saat nonton filem, kita bisa saja memetik makna dan sesuatu pelajaran dari cerita filem itu sendiri. Moral of the story. Anak bisa belajar mengambil hikmah dari inti cerita itu, bukan? 


Okelah jika ‘belajar’ seperti itu terlalu berat dan dipaksakan. Bagaimana jika kita ambil yang ringan-ringan saja. 

‘Permisi. Maaf, numpang lewat’, kata si Ayah sewaktu menuju kursi bioskop yang berada agak ke tengah. Bicaranya diikuti dengan badan sedikit membungkuk, tangan sedikit ke bawah dan wajah sedikit tersenyum. Si Ayah tidak peduli jika penonton yang dilewatinya itu melihat senyumnya atau tidak. Tapi, dia setidaknya ingin memberi contoh kepada si Ade bagaimana tatakrama berjalan di depan atau melewati orang. Itu juga belajar, bukan. 

Saat menunggu, dorongan si Ayah untuk main hape besar. Tapi, saat lampu redup – tanda filem akan diputar, hapenya lalu dimatikan. Si Ade melihat hal itu. Sebelum bertanya, si Ayah menjelaskan ‘Kalo nanti hapenya masih nyala, kan terang De. Orang lain bisa terganggu kan. Tuh, coba lihat nyala hape di sana’. Itu juga belajar, bukan?


Mungkin suatu saat si anak melihat di bagian lain bioskop, ada penonton yang kakinya ditaro di sandaran kursi di depannya. Saat itu, ayahnya bisa saja meminta pendapat si anak apakah tingkah seperti itu sopan atau tidak. Termasuk juga misalnya membahas anak-anak yang ribut dan bercakap-cakap di kursi teratas. Itu juga belajar, bukan?

Jadi, belajar jangan didekati terlalu serius atuh. Gak perlu juga dengan kata-kata peringatan yang sengaja macam ‘kamu kalo di bioskop itu jangan berisik, kaki jangna ke atas’ dll. Terlalu mainstream gitu. Cara pendekatan lain lah. Yang lebih fun. Life is beautiful, isnt it? So make it enjoyable. 

3. Pemuasan dahaga kepenasaran

Curiosity seorang anak itu sangat besar. Rasa ingin tahu itu, bagi saya, jangan dihambat. Cara penghambatan paling sering dilakukan orang tua adalah tidak memberi jawaban dengan alasan capek, atau tidak memberikan keleluasaan anak untuk menemukan hal-hal yang merangsang keingintahuan anak. Buat si Ayah, bioskop adalah wahana ajang uji nyali kesabarannya dalam menghadapi gempuran ‘curiousity’ si Ade. 
‘Yah. Kenapa monster apinya berubah jadi pulau’. Itu pertanyaan saat dia nonton Moana. 

‘Yah. Kenapa si tikusnya sombong’. Itu saat nonton Sing. 

‘Itu siapa Yah? Kok ayahnya hidup lagi?’, saat nonton Arlo. 

‘Yah…?’. 

‘Yah…?’ 

…..dan beragam pertanyaan lainnya. 

Bagi si Ayah, pertanyaan si Ade itu justru penting. Itu artinya, dia memperhatikan filem itu, otaknya bekerja, ada yang tidak dimengerti dan dia tidak segan untuk bertanya. Speak up. Modal bagus tuh untuk perkembangan pribadinya

4. Berbisiklah biar dekat

Dalam mengajukan jawaban atas pertanyaan itu, si Ayah biasanya menyondogkan badannya lebih dekatbke si Ade. Lalu dia berbicara berbisik dekat telinga si Ade. Iyes. Ayah ingin menunjukan bahwa di bioskop itu tidak boleh berisik karena mengganggu orang lain. Dengan berbisik, si Ade mendapatkan jawaban tanpa menganggu sekitar. 


Jangan lupa. Berbisik pun bisa mendekatkan. Bagaimana si Ayah mencium bau badan si Ade – yang serasa bau dia masih bayi, lalu melihat pipinya yang cubitable menggemaskan, dan mendapatkan senyum puas si Ade atas jawaban si Ayah itu PRICELESS. Belum lagi jika hal itu diikuti si Ade lalu ujug-ujug memeluk ayahnya. So sweeet. 

5. Ade the explorer

Bioskop adalah tempat bagus bagi anak untuk bereksplorasi. 

Sambil nunggu, si Ade berkeliling bioskop bareng si Ayah. Poster-poster film yang sedang dan akan diputar dia eksplor satu-satu. Satu dua pertanyaan dia ajukan. Di poster film anak gede, si Ayah sambil ketawa menutup matanya dengan jarinya: ‘hush, Ade gak boleh liat’. Dia pun ikut ketawa, karena jari si Ayah sengaja tidak rapat, jadi si Ayah pun bercerita kenapa si Ade gak boleh liat. 

Eksplorasi selanjutnya di filem-filem anak. ‘Yah, ini seru gak?’. Lha, kumaha ini teh. Ayah aja belum tahu isi filem yang akan diputar entah kapan itu. Ya sudah, Ayah suruh dia search saja di youtube. Biar dia eksplore sendiri gimana trailer filemnya. Biar dia gak gaptek dan bisa mandiri lah. Tentu, si Ade lakukan hal itu di hape ayahnya, sehingha ayajnya bisa memonitor. 

And the last eksplorasi adalah ….apalagi selain bernarsis. Ya, foto di bawah ini sudah cukup jelas bercerita. 


Nah, kawan. 
Ajak Anak menonton filem-filem anak di bioskop. Positif negatifnya nonton itu tergantung bagaimana pendekatan kita dengan anak. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s