Lembah Harau – Grand Canyon-nya Sumbar

Jika Anda berencana berwisata ke Padang dan sekitarnya, mampirlah ke obyek wisata ini. Lembah Harau atau Harau Valley. Harau adalah sebuah ngarai dekat kota Payakumbuh di kabupaten Limapuluh Koto, provinsi Sumatera Barat. Dengan jarak sekitar 50km dari kota Bukittinggi, ngarai ini bisa ditempuh sekitar 1.5 sampai 2 jaman.

Perjalanan menuju tempat ini tidak terlalu melelahkan, karena pemandangan di kiri kanan jalannya pun sangat indah, segar dengan sawah-sawah hijau dan keemasan, dilatarbelakangi gunung Marapi dan Singgalang. Jangan sia-siakan pemandangan ini dengan tidur di mobil 😁.

Sesampainya di tujuan, kita disambut tebing tinggi di kiri dan kanan. Tebing warna coklat cukup kontras dengan hijaunya rumput dan sawah yang diapitnya.

img_6855

Pemberhentian pertama kita adalah di lokasi paling ujung. Air terjun Lembah Harau. Karena kawasan di sini adalah tebing dengan tanah keras sehingga tidak menyimpan air banyak, maka debit air terjun tergantung dengan kondisi hujan. Saat kami datang, debit air sangat sedikit. Bisa dikata hanya seperti air cucuran dari atap saja. Bahkan, kata penduduk sekitar, saat Tahun Baru kemarin air terjun itu kering tidak berair. Meski airnya sedikit, tebing yang dialiri air terlihat gagah, tinggi.

img_6821

Blessing in disguise. Selalu ada gikmah di balik segala sesuatu.

Sebagai pengganti sedikitnya air itu, ternyata kami disambut dengan koor bunyi bersahut-sahutan binatang hutan. Siamang. Kapan lagi coba mendengarkan paduan suara bersahutan beberapa ekor kera Siamang di hutan lepas. Memang sering kita dengar suara Siamang, tetapi itu di kebun binatang. Ini Siamang liar. Bahkan kami pun bisa melihat binatang yang katanya justru takut manusia itu menggelayut di dahan pohon yang cukup dekat.

img_6842

Menurut informasi penduduk sekitar, bunyi bersahutan Siamang itu muncul sebagai pertanda kalau air sebagai kebutuhan minumnya sudah menyusut. Mereka akan ‘berteriak’ jika air dari pelepah atau batang pohon tempat biasanya minum sudah habis. Ketika ditanya apakah itu berarti bahwa Siamang tidak berbunyi pada saat air terjun penuh, Pak Tua penjaga toilet penduduk asli itu mengiyakan. Namun demikian, informasi lain pun didapat dari penduduk yang lebih muda bahwa bunyi Siamang menunjukan jika mereka sedang dalam masa berahi. Hmm…orang tua dan anak muda memiliki fokus yang berbeda ternyata 😁

img_6837

Beranjak beberapa ratus meter ke arah kita masuk, kita akan melihat satu spot khas untuk berfoto. Narsiswan narsiswati mungkin akan berteriak kegirangan dan langsung mengeluarkan tongsis ya dan siap mencoba berbagai pose. Bagaimana tidak, jika spot ini memang menjadi titik dengan pemandangan terindah, yang mengcapture dua tebing tinggi yang mirip Grand Canyon, tapi juga mewarnainya dengan kesegaran hijaunya rerumputan. Sebagai ‘tanda tangan’, signage berwarna merah dan hijau gagah terpampang. Marau Valley.

What a picturisque

img_6850

Di lokasi yang sama, kita bisa mendapatkan foto yang sedikit berbeda dengan bergeser sedikit ke kiri atau kanan. Kelokan jalur irigasi ternyata memberikan aksen yang sedikit berbeda.

img_6830

Demikian pula jika berjalan sedikit lagi, aksen jalan setapak dengan pagarnya cukup menarik difoto.

Setelah lama menikmati keindahan alam yang emejing bingit, saat keluar lokasi sempatkan pula berhenti sebentar di tempat dengan penanda segitiga dan bukursangkar di dinding tebing. Tercetak tulisan ‘Echo’ di atasnya. Di bawahnya,terdapat plaform kecil dengan tiga anak tangga ke kiri dan ke kanannya. Itulah lokasi di mana kita bisa berteriak san mendengarkan suara kita menggema balik – disebut echo. Ini terjadi karena dua tebing tinggi itu berhadapan banget, dan kontur atau situasi si tebing pun pas untuk menimbulkan efek gema.

Di sini kita bisa menguji siapa yang memjliki vokal yang keras. Ternyata hanya si Ayah yang suaranya terdengar menggema balik – dengan jeda beberapa saat itu. Logis lah, lah wong si Ayah orang paling ganteng sendirian 😁.

Yang menarik di sini adalah ternyata dinding tebing yang sederhana itu bagus juga ya untuk berfoto.

img_6873

Sebelum lupa. Di sini ternyata banyak pedagang dan warung tenda. Cukup rapi. Yang saya suka adalah para penjualnya ramah-ramah dan enak diajak ngobrol. Juga harga makanan yang dijualnya pun wajar, dalam arti tidak ‘malak’ pengunjung. Dan di sana pula si Ayah luluh dengan godaan si Ibu untuk ….makan durian 😂

img_6826

Ah. Pengalaman yang menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s