5 Sifat Lanjut Usia Yang Perlu Diperhatikan

Sebuah pemberitahuan masuk ke grup medsos, tentang hilangnya bapak-bapak lanjut usia, orang tua dari teman kami. Kaget, turut sedih. Perasaan khawatir ikutan menyergap. Apalagi hal yang sama pernah dialami. Dulu. Saat Ayah – biasa dipanggil Papap – melakukan banyak hal sejenis yang mengkhawatirkan anak-anaknya saat beliau masih ada.

Belajar dari apa yang pernah terjadi pada Papap, inilah beberapa hal yang terjadi pada orang lanjut usia yang perlu diperhatikan.

1. Hilang orientasi – hilang kesadaran sejenak

Seperti biasa Papa berjalan berkeliling komplek. Dengan usia di atas 80tahun, Papap bertekad terus bergerak dengan cara melakukan jalan kaki. Di suatu tempat, Papap kehilangan kesadaran sejenak. Bukan pingsan. Namun seperti bengong. Dilanda lupa sekejap. Beruntung, hal itu terjadi masih dalam lingkungan komplek, sehingga setidaknya Papap masih bisa melihat beberapa obyek yang akrab di memorinya. Dan beruntung juga ada orang sekitar atau tetangga yang melihat Papap dan tahu rumah Papap, sehingga bisa memberitahu ke orang rumah.

Kehilangan memori sekejap bisa menyebabkan orang lanjut usia tersesat dan lalu hilang. Kehilang kesadaran itu bisa terjadi dalam hitungan pendek. Namun, setelah kesadaran pulih, bisa jadi Orang tersebut harus berpikir keras di mana posisi beliau berada. Berpikir yang bisa jadi membutuhkan usaha yang keras berhubung usia yang telah sepuh. Belum lagi jika hal ini harus diikuti berpikir jalur mana untuk kembali ke rumah mengingat suasananya atau obyek sekitarnya dirasakan asing.
Di sinilah pentingnya ada yang mengawasi orang sepuh. Bagusnya menemani ke manapun dia bepergian

img_0609
Alm Papap setahun sebelum meninggal | Foto: Rifki Feriandi

2. Kurang perhitungan

Sekitar usia menjelang 80, Papap masih suka bersepeda santai. Sendirian. Dia kayuh sepeda cukup jauh dari rumah, dengan jalur cukup akrab. Beliau lalu lanjutkan kayuhan itu lebih jauh lagi. Sampai akhirnya beliau merasa cape. Apa daya, setelah itu beliau sadar jika posisinya sudah jauh banget dari rumah. Mau mengayuh sepeda kembali tentunya butuh tenaga yang sama. Padahal saat itu dia bersepeda sendirian. Beruntung, dua hal terjadi. Hal pertama adalah tidak sengaja, yaitu Aa – kakak tertua yang tinggal berbeda rumah dengan jarak yang jauh – saat itu berolahraga ke daerah yang sama dengan Papap dan bertemu. Sementara hal kedua, Papap selalu – setelah dipaksa anak-anaknya – membawa hape ke mana beliau pergi dan tahu cara mengoperasikannya untuk memberi kabar kepada anak-anaknya.

Jadi, berilah hape untuk dibawa lansia ke mana-mana. Jangan yang terlalu wah dan rumit. Cukup hape sederhana. Orang tua hanya butuh untuk melakukan dan menerima telepon saja. Ajari lansia cara menggunakannya. Beri short-cut untuk menelepon, misalnya dengan menekan angka satu cukup lama berarti langsung menelpon si sulung, nomor dua untuk anak kedua dan sejenisnya. Tidak perlu mengajarkan bagaimana menggunakan sms, karena cenderung tidak dipakai dan juga membantu lansia fokut untuk mengertai satu hal penting saja dalam suasana darurat.

3. Merasa muda

Suatu saat, kakak kedatangan abang pedagang sayur. Emang-emang itu datang mengantarkan Papap dengan mengendarai motor yang Papap bawa. Papap berada di boncengannya. Kebetulan Emang Pedagang itu hapal dengan Papap karena sering lewat rumah dan Papap mun kerap menyapa. Beliau berkata bahwa Papap jatuh dari motornya.

Setelah lukanya diobati, Papap bercerita kalau beliau hilang keseimbangan saat mengangkat standar motor yang mau dikendarainya. Motornya sendiri belum dinyalakan. Beliau jatuh karena beban motor yang miring tidak kuat ditahannya. Beliau akhirnya ditindih motor itu. Papap awalnya berpikir beliau masih punya kekuatan dan bangun. Cuma ketindih motor. Tapi beliau lupa jika beliau sudah sepuh. Saat itu beliau sudah berusia di atas 80an. Dan dia tidak kuat untuk berdiri lagi. Saat itu komplek agak sepi katanya. Untung ada Emang pedagang sayur yang melihatnya dan menolongnya.

Jadi, sedapat mungkin hindari segala hal yang kemungkinan fisik lansia tidak bisa menanggungnya. Lakukan segala cara yang dianggap perlu.

img00652
Papap di usia 80an lebih, masih suka naik motor | Foto: Rifki Feriandi

4. Tidak mau ditemani

Waktu mendengar ayahnya seorang teman hilang, reaksi spontan pasti berkata: kok gak ditemani? Itu juga yang terjadi pada Papap.

Suatu saat Aa – kakak tertua – kaget. Dia kedatangan Papap, sendirian. Padahal jarak dari rumah Papap di Cileunyi – sangat dekat dengan rumah dua kakak lainnya – ke rumah Aa di Cigereleng jauh. Alasan Papap adalah kangen ke anak tertua, meski si Aa baru mengunjunginya di Cileunyi beberapa hari sebelumnya. Alasan lain adalah dia mau ke Bank, ambil uang pensiun. Padahal biasanya pun beliau dianter Aa atau kakak-kakak lainnya.

Bisa dibayangkan bukan, bagaimana bisa Papap jalan dari Cileunyi sampai Cigereleng sendirian. Berjalan dari komplek ke depan, lalu naik bis jurusan Jatinangor-Leuwi Panjang. Bayangkan pula apa respons dari orang-orang sekitar yang melihat ini, bahkan seperti yang diutarakan Papap.

‘Bapak, mangga duduk di sini. Euleuh, jauh geuning. Kok sendirian?’

‘Itu ke mana palaputran. Kok gak ada yang menemani?’

‘Kumaha kalau ada apa-apa di jalan Pak. Pak Haji teh tos sepuh’.

Itulah Papap. Itulah lansia. Terkadang tidak mau dikekang. Pengen melakukannya sensiri. Bayangkan kagetnya dan malunya anak-anaknya mendengar itu. Padahal, kita teh sudah sepakat Papap pergi ke mana keluar komplek harus ditemani. Bahkan kita juga sepakat jika jalan-jalan di komplek pun menugaskan cucu Papap yang di SD untuk menemaninya. Tapi ya itu, Papap gak mau ditemani.

Satu kunci bagi anak-anak lansia: sabar ya sayang. Kejadian seperti itu pasti memalukan, tapi usahakan sebisa mungkin, untuk menemani lanjut usia ke mana pun juga. Beri tugas-tugas seperti kalo ke Sekase ambil pensiun bareng Aa, kalo jalan ke rumah sodara ditemeni A Hendi, kalo keliling di kompel bareng Ugi si Cucu, kalo dirumah ditemeni Teh Nggen. Yang penting usaha.

2007-10-14-00-21-5766
Papap bersama kakak – Uwa Momo kiri – dan adik – Alm H Karis kanan. Akur sampai usia sepuh | Foto: Rifki Feriandi

5. Baong, bedegong bin nakal

Kadang suka sedih kalau Teh Nggen bercerita sambil menangis.

‘Atuh kumaha coba Ki. Da Papap teh baong (nakal). Gak pernah nurut. Sehalus apapun omongan kita. Kadang sok keuheul, da kita teh nyaah (sayang, cinta orang tua). Tapi pan gak boleh keuheul (kesal)’.

Perkara Papap pergi ke Bandung sendirian pake bis cuman salah satu ‘kenakalan’ itu. Perkara paling besar justru berkaitan dengan makan dan makanan. Anak-anak sudah memberitahu kalau Papap harus mengurangi kopi atau sesuatu yang membahayakan lambungnya. Tetap saja, Papap suka melanggar itu. Kalau di rumah tidak ada – karena diumpetin – beliau beli kopi dari warung. Lalu dia umpetin di kantongnya. Atau sembunyi-sembunyi beliau minum air soda dengan alasan ‘nyobain’. Padahal Papap itu gak bisa minum air bersoda.

Perkara lain yang kadang bingung harus bagaimana menyiasatinya adalah perkara dia pergi sendiri tanpa pemberitahuan. Atau istilah Sundanya ‘ngadodoho’, mencari celah atau peluang, jika tidak ada yang mengawasi beliau pergi. Tinggallah anak-anaknya panik.

Akhirnya kita banyakan melakukan ‘pengawasan melekat’ sebisanya tanpa terasa menekan dan membatasi. Dan, jadikan sabar sebagai modal utama mengurus orang tua lansia.

Itulah pengalaman dengan Papap yang siapa tahu membantu.

Kalau bercerita seperti ini, saya harus mengangkat topi dengan anak-anak Papap yang menjaga dan mengawasi beliau secara bergiliran. Aa, Teh Nti, Aboy, Ahendi, Teh Nggen. Juga cucu-cucunya, terutama Sani sama Linda yang serumah. Juga buyut-buyut Papap. Nuhun. Pengen rasanya pindah lagi ke kota Bandung untuk ikutan mengurus orang tua.

Semoga Papap – dan juga Mamam – mendapat ridlo Ilahi di alam sana.

4 thoughts on “5 Sifat Lanjut Usia Yang Perlu Diperhatikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s