Ketika Ayah Membuat Liburan Anak Menyenangkan

IMG_20171228_075749.jpg
Liburan akhir tahun dengan tema Liburan Secapeknya | Foto: Rifki Feriandi

“Menurut Ade, travel atau liburan kita yang paling seru itu yang mana?”, tanya si Ayah di balik kemudi saat anter ke sekolah.
“Yang kemaren di Malang dong Yah”, sahut anak kelas dua SD dengan pipi cubitable itu.
“Emang alasannya apa?”. Si Ayah kepo.
“Seru saja. Puas gitu”. Jawabnya ringkas.

Iya. Sebagai ayahnya, saya rasakan jika si Ade dan si Kakak itu begitu enjoy dan menikmati lburan di akhir tahun kemarin. Dan ini ceritanya.

Buatlah tema sesuai keinginan anak

Setelah mendapat ijin dari si Ibu untuk giliran pergi ke tempat yang pernah si Ayah dan Ibu datangi, Batu Malang, si Ayah mengajak Ade dan Kakak untuk berlibur mengusung tema “Liburan secapeknya”. Iya, itu yang mereka inginkan. Liburan sepuasnya. Tidak dibatasi waktu. Satu hari ke beberapa tempat wisata pun jadi. Asal mereka puas.

Untuk mendukung tema ini, si Ayah tawarkan perjalanan semi backpacker. Tidak selalu menginap di hotel, tetapi tidak juga menggelandang. Dibuat mix lah. Disepakati juga kita buat jadwal perjalanan ke gunung dan ke laut.

Saat hari pertama di Air terjun Coban Rondo sampai puas, malamnya tidak menyewa hotel karena kita langsung ikut tour ke Bromo. Baru dua hari berikutnya menginap di hotel tanpa kolam renang yang berada dekat dengan obyek wisata. Lalu baru ke hotel yang ada kolam renang di Malang untuk santai-santai. Dilanjut ke hostel backpackeran di tiga hari terahir. Dengan semi backpacker seperti ini, kita bisa mendapatkan jadwal yang cukup padat, dengan durasi cukup panjang. Pokoknya yang penting ada sesuatu yang menantang anak-anak. Si Ade yang kelas dua SD dan kakanya yang saat itu ada di kota lain menimba ilmu, menyambut ide itu dengan sangat antusias. Kebahagiaan sudah terpancar dari sejak sebelum keberangkatan.

Selalu ajak obrol tentang konsekuensi atas segala pilihan

Dengan keputusan yang sudah disepakati bersama, tiba saatnya semua orang harus konsekuen dengan kesepakatan itu. Artinya, siap-siap ada banyak kegiatan yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Dan ini dimulai dari sejak sebelum terbang. Si Ade gelisah karena kita terbang dengan maskapai yang terkenal dengan keterlambatannya. Apalagi dia mendapatkan “nasihat” dari sahabatnya. “Kamu jangan lupa baca do’a ya Nay, soalnya pesawat itu kan sering jatuh”. Hal ini pun diperparah dengan pendapat dari kakak dan ibunya. Untung si Ayah bisa sedikit menampilkan sisi “cuek” dengan issue itu. “Kalo sudah waktunya meninggal mah, tidur juga bisa meninggal De”. Si Ayah berusaha cool, meski kadang kepikiran juga untuk ganti maskapai lain. Tapi, ya itu konsekuensinya, ongkos maskapai lain lebih tinggi. Alhamdulillah, ternyata dia termakan “ke-cool-an” si Ayah, dengan tanpa mempermasalahkan pilihan terbang sama sekali. Malah enjoy di perjalanan.

IMG_20171227_055548
Mari kita kemon | Foto: Rifki Feriandi

“Alhamdulillah ya Yah, ternyata tepat waktu dan gak apa-apa. Nanti Ade bilangin temen Ade deh”.

Ah, lega rasanya melihat dia happy. Dan obrolan seperti ini juga dilakukan pada saat si Ade seharusnya kecewa ketika tidak mendapatkan sunrise karena kabutnya tidak hilang-hilang sampai kita turun Penanjakan.

Ayah jangan takut basah.

“Bermain bersama anak. Jadilah anak-anak”.

Kutipan itu selalu saya pegang ketika liburan bareng anak-anak. Ketika si Ayah pergi sama Ade atau Kakak, ya berubahlah dari seorang ayah yang sok ngatur, menjadi seorang “anak berbadan gede”. Dan itu ternyata sesuatu yang ditunggu anak-anak. Ayah yang berlaku lepas.

IMG_20171227_132448
Dingin-dingin seru | Foto: Rifki Feriandi

Saat si Ade menikmati Coban Rondo, si Ayah pun langsung nyemplung. Basah-basahan. Dimulai dari sungai terdekat sampai dengan di bawah air terjun. Si Ade tentunya kedinginan. Tetapi bukankah dia pun harus pernah merasakan bagaimana itu dingin di pegunungan. Dan dengan si Ayah ikutan berbasah-basahan, dia merasa si Ayah tidak hanya sekedar memberi tahu dengan mulut, tapi langsung terlibat. Menyelusuri sungai sampai ke bawah air terjun itu seru. Tanpa sepatu, si Ayah biarkan si Ade meraba seberapa tajam batu di bawahnya dengan kaki. Si Ade pun jadinya belajar batu yang mana yang harus diinjak, apakah yang berlumut dan licin atau yang man. Sepanjang aktivitas itu, saya liat dia tidak lepas dengan mulut terbuka. Entah itu senyum, ketawa, memekik, kaget. Sifat jahil yang selama ini tertutup sikap santun pun jadi muncul.. Dia sembur si Ayah dengan air.

Tahu gak berapa lama kita menikmati Coban Rondo?

Kala orang lain datang yang lalu cheers berfoto dengan tidak lupa mengangkat jari membentuk huruf V dan lalu pulang, kita bertiga menghabiskan total waktu empat jam. Empat jam yang menyenangkan. Karena kita tidak takut basah.

Ayah jangan takut kotor

WhatsApp Image 2017-12-28 at 19.01.12
Ayah!!! Ngapain? | Foto: Rifki Feriandi

Kotor itu baik….jika sesudahnya kita cuci tangan. Itu betul. Karena, takut kotor menyebabkan liburan kita tidak nikmat. Makanya, ketika kita bertiga sampai di kawasan Gunung Bromo, ya sudah kita bebasin mereka mau ngapain. Si Ayah lepas sepatu. Lalu bertelanjang kaki berjalan di atas Pasir Berbisik. Kadang melompat. Atau justru menjatuhkan diri di atas pasir. Persis seperti anak kecil. Biarin lah, yang penting anak-anak pun tidak sungkan berkotor-kotor sehingga mereka bisa lepas berkespresi. Gegara ini pula, kita satu jeep menjadi jeep terakhir yang sampai ke penginapan transit. Lama banget kita di Bromo. Tidak terasa. Karena, ya karena kita bebas lepas.

Ayah jangan takut capek

Keseruan lain sedikit menyangkut fisik. Meski si Ayah berperut buncit, si Ayah tidak boleh dong memperlihatkan kelemahan fisiknya. Makanya, si Ayah justru menantang anak-anak naik ke puncak Gunung Bromo. Capek sih. Tapi itu bukan jadi alasan mengurangi keasyikan berlibur, bukan? Makanya si Ayah mengakali ketakutan akan capek dengan……narsis. Hehehehe. Saat anak-anak terlihat lelah, kita foto-foto. Selfie. Dengan berbagai gaya. Terkadang gaya si Ade meni geuleuh. Syahrini banget gitu loh. Tapi toh, mereka jadi gak mempermasalahkan capek. Si Ade malah ketawa dan semangat. Padahal si Ayah menyembunyikan ekspresi cape di balik buff yang dipakai. Dan… hasilnya, si Ade dan Kakak mencapai puncak Bromo. Horeeee….. bekal naik gunung Prau nih De.

IMG_20171228_091743
Ini mah si Ayah nya yang narsis | Foto: Rifki Feriandi

Eh, ternyata jangan takut capek pun menjadi modal ketika kita berkeliling di CHina Town di Malang dengan berjalan kaki. Dari Kelenteng sampai Museum Bentoel. Lumayan lah, melatih kaki. Lagian anak-anak enjoy tuh jalan, sambil melihat kondisi kota tua itu lengkap dengan beli salak Pondoh yang super manis sebanyak dua kilo berharga sangat murah. Atau ketika berjalan ke Kampung Wisata Warna warni. Juga menelusrui Ijen Boulevard dan lalu mampir ke taman-taman yang asri, termasuk dengan melihat anak-anak SD bermain kasti, di belakang sekelompok anak-anak TK Bisu Tuli yang sedang berwisata di taman. Melihat wajah si Ade yang bercampur antara courisity dan bahagia itu priceless. Untung ayah tidak takut capek, De.

Ayah jangan takut kecewa

IMG_20171228_050024
Latihan nahan dingin di Gunung Prau De | Foto: Rifki Feriandi

Terus terang, saya sedih banget saat kita di Pananjakan, lalu tidak dapat sunrise. Kabut pekat tidak beranjak. Padahal kita datang lebih awal demi mendapatkan tempat yang strategis. Dalam dingin yang sangat, si Ayah berusaha relaks dan tidak menunjukan kekecewaan berlebih. Kita lalu coba enjoy menikmati pop mie. Ayah ceritain pengalaman naek gunung. Bahkan si Ayah nyeletuk “Wah, kabutnya indah sekali De”. Entahlah. Dalam balutan jaket hijaunya, si Ade enjoy-enjoy aja tuh. Malah dia dan si Kakak menikmati obrolan sama ibu penjual makanan sambil “sideang” di depan api unggun.

Ayah jangan takut takut

Ini yang paling seru. Selama di Batu Malang, kita tiga kali masuk ke Rumah Hantu. Di Jatim Park 1 dan 2, di Batu Night Spectacular. Itu gegara si Ade dan Kakak ketagihan. Padahal si Ayah ragu-ragu untuk masuk. Capek denga kekagetan. Tapi kalo si Ayah gak masuk, mereka malah gak ceria. Ya, kepaksa deh. Ujung-ujungnya si Ayah yang jalan di depan.

IMG_20171230_182059
Ayo Yah, sekali lagi | Foto: Rifki Feriandi

Yang membuat menyenangkan adalah ketika kita masuk ke satu wahana itu – kalo gak salah di Jatim Park, kita masuk dalam rombongan suster-suster dari satu biara. Usianya sudah cukup tua, meski didampingi beberapa calon suster (mungkin, karena saya tebak dari pakaiannya yang berbeda). Mereka itu rame banget, karena kentara mereka itu takut. Jadinya si Ayah yang disuruh jalan di depan diikuti kadang anak-anak, meski tahu-tahu suster-suster itu ketakutan, lalu sudah berada di belakang si Ayah sambil pegang pundak. Si Ade banyak ketawanya. Kenapa ini menyenangkan? Karena akhirnya tanpa sadar “keramean” itu memberi nilai bahwa meski berbeda keyakinan, kita bisa barengan.

Ayah jangan takut masuk angin

Yang membuat si Ayah sedikit surprise adalah ketika tahu jika si Ade ternyata begitu bahagia ketika kita naik ojek online. Iyes, kita sering menggunakan ojek untuk perpindahan dari satu tempat ke tempat wisata-wisata lain. Selain murah, gampang didapat, ojek membantu menerabas kemacetan. Batu dan Malang di liburan tahun baru itu macet, you know. Jadi, Ayah singkirkan ketakutan masuk angin.

 

========

“To be in your children’s memories tomorrow, you have to be in their lives Today’” Barbara Johnson.

Ah, masih banyak hal-hal yang si Ayah lakukan yang membuat wisata akhir tahun itu begitu menyenangkan. Batu, Malang. Dec-Jan 2018. Susah dilupakan.

 

3 thoughts on “Ketika Ayah Membuat Liburan Anak Menyenangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s