Taman Wisata Panorama: Menikmati Ngarai Sianok Dari Jauh

img_6800
Ngarai Sianok, dilihat dari Taman Wisata Panorama | Foto: Rifki Feriandi

Ngarai Sianok. Siapa yang tidak kenal dengan lembah indah ini. Terkenal karena keindahan alam lembah yang mirip dengan Grand Canyon Amerika. Lembah ini lebih unggul, karena enak dipandang mata karena penuh tumbuhan dan hehijauan.

Signage sambutan dari pejabat setempat | Foto: Rifki Feriandi

Untuk melihat keindahan Ngarai Sianouk dengan lansekap luasnya, silakan datang ke Taman Wisata Panorama. Lengkapnya adalah Taman Wisata Panorama dan Lobang Jepang Kota Bukittinggi.

 

Taman ini bisa dibilang berlokasi di pusat kota Bukittinggi. Bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari lokasi Jam Gadang Bukittinggi. Perlu sekitar 10 menitan untuk sampai di tempat itu. Jika membawa mobil, silakan parkir langsung di depan Taman. Harga parkir pun normal parkir biasa.

Ada dua buah gerbang masuk ke Taman ini. Disarankan untuk mengambil gerbang ke dua . Sementara itu, pintu satunya lagi lebih dekat ke Gua Jepang. Melalui pintu masuk kedua dengan gapura seperti di foto ini, pengunjung dibawa langsung untuk melihat pemandangan lembah.

img_6650
Salah satu pintu masuk ke Taman Wisata Panorama | Foto: Rifki Feriandi

Fokus utama di Taman adalah lapangan dengan signage atau tulisan berwarna merah. Khas untuk pemotretan. Ngarai Sianok dengan jelas terpampang dengan indahnya. Panorama. Seluas mata memandang. Bagian lembah dan tebingnya terpampang jelas.

img_6764
Salah satu lokasi untuk melihat view panorama lembah | Foto: Rifki Feriandi

 

Jika kebetulan datang pada saat terik matahari, maka kesempatan mendapatkan foto dengan latar belakang lembah yang jernih akan didapat. Namun demikian, jikapun gerimis datang atau mendung, jangan kecewa. Efek yang ditimbulkan justru terlihat dramatis.

img_6773
Fokus utama taman | Foto: Rifki Feriandi

Terdapat banyak posisi untuk mengabadikan Ngarai Sianok sebagai latar belakang. Ada beberapa platform dari beton cukup luas dengan bentuk seperti panggung. Ada juga rumah-rumahan panggung bergaya gadang yang sangat menarik sebagai tempat berfoto.

View dari platform lain | Foto: Rifki Feriandi

Jangan lupa untuk mengunjungi area sebelah kanan taman. Di sana berderet beberapa warung makanan dan cendera mata – yang harganya terjangkau loh. Berjalan terus, maka kita akan berada di spot tersendiri dengan pemandangan ngarai yang cukup berbeda. Di sini terdapat platform tinggi yang harus didaki melewati tangga. Dari posisi yang lebih tinggi, maka view yang didapat lebih bagus.

 

img_6803
Monyet-monyet liar yang sedang mencari kutu pun bisa menjadi obyek foto | Foto: Rifki Feriandi

Di area ini pula bisa ditemui monyet-monyet liar bergelantungan. Meski bagus jika difoto, tapi berhati-hatilah. Banyak kabar jika monyet-monyet itu suka mencuri.

Taman yang asri, bersih dan hijau | Foto: Rifki Feriandi

Taman Panorama bisa dikatakan taman yang sangat asri. Rapi dan bersih. Rerumputan dan tumbuhannya pun dijaga. Pada saat kami datang, sekitar pukul 9 atau 10, penjaga taman sedang aktif melakukan pembersihan halaman dan toilet. Toiletnya pun bersih. Salut sekali.

Jalur menuju Lubang Jepang berada di sebelah kanan. Sempatkan berfoto dan melihat pemandangan dari gazebo gadang itu. Keren punya. | Foto: RIfki Feriandi

Setelah puas di area utama, silakan beranjak ke arah menuju toilet. Bangunan bercat putih. Itu pula jalan menuju Gua Jepang. Namun sebelum turun ke gua, yang memang terletak di bawah, sempatkan mengunjungi gazebo indah untuk melihat pemandangan ngarai dari arah lain. Keren lah kalo difoto.

img_6663
Jalan masuk menuju Lubang Jepang | Foto: Rifki Feriandi

Untuk menuju ke gua jepang, kita turun beberapa anak tangga. Meski dindingnya berlumut, tangganya sendiri cukup aman. Namun, tidak ada salahnya jika kita hati-hati saja dalam melangkah.

img_6670
Lubang Jepang sepanjang 200m, yang berujung di jalan umum menuju Ngarai Sianok | Foto: RIfki Feriandi

 

Untuk masuk ke dalam lubang sepanjang 200m ini, pengunjung dipungut biaya lagi. Jikapun tidak, pengunjung masih bisa berpose di depan gerbang masuk gua itu. Bagi yang memutuskan masuk ke lubang Jepang, disarankan untuk memakai pemandu, sehingga kita akan tahu sejarah dan latar belakang apa yang terjadi di lubang ini. Tanpa pemandu, kita seperti hanya melewati sebuah lubang gorong-gorong saja.

Tidak masuk lubang Jepang> Tak apa. Berpose gaya My little pony pun Okeh. | Foto: Rifki Feriandi

Lubang ini akan berujung di sebuah jalan besar, tempat kendaraan lalu lalang menujun lembah Ngarai Sianok. Jadi, silakan berkoordinasi dengan supir Anda untuk menjemputnya di lokasi keluar dari lubang. Itulah kenapa pula disarankan agar lubang Jepang ini menjadi lokasi terakhir yang dikunjungi di taman ini sehingga pengunjung tidak bolak balik.

 

Taman Bermain yang layak buat anak-anak | Foto: Rifki Feriandi

 

Untuk informasi buat mereka yang membawa keluarga dengan anak kecil, taman ini pun dilengkapi dengan taman bermain yang bagus pula.

Taman Wisata Panorama memang layak dikunjungi.

9 Pencapaian Terminal 3 Keberangkatan Yang Patut Diapresiasi

Belakangan ini, Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta mendapat sorotan. Bandar Udara terbaru di kawasan Cengkareng ini menjadi pembicaraan karena adanya plafon yang ambruk dan banjir. Kejadian yang sebenarnya muncul di area tertentu yang tidak luas itu, menyita perhatian dan mendapat liputan yang sangat luas. Suatu hal yang wajar, cibiran muncul terkait dengan kualitas bangunan serta kualitas pekerjaan. Kritik-kritik pedas pun serta merta bermunculan. Tidak apa. Itu bagus untuk sebagai bagian dari evaluasi dan introspeksi serta memperbaiki diri. 

Namun demikian, janganlah sampai kejadian di atas menafikan beragam hal kemajuan yang harus diapresiasi. 

Inilah sembilan hal yang diapresiasi, versi penulis. 

1. Megah, lapang

‘Capek’ dengan Terminal 1 Domestik yang crowded dan beratap rendah, maka memasuki Terminal 3 ini kita diberikan atmosfer yang sama sekali berbeda. Lapang. Lega. Luas. Kesan yang didapat dari atap plafon yang tinggi. 

Desain yang lapang ini mirip dengan bandara-bandara di luar negeri. Ambillah contoh Terminal 3 Changi. Juga Chek Lap Kok dan Suvarnabhumi. Jika disebut kemegahannya mirip dengan bandara-bandara tersebut terlalu berlebihan, akuilah bahwa kemegahannya – apapun persepsi kriteria kemegahannya – membanggakan. Di sinilah penulis ingin mengapresiasinya: muncul sesuatu yang bisa dibanggakan. 

Area sebelum masuk gate keberangkatan [Foto: Rifki Feriandi]

Koridor lapang, ceiling tinggi. Dada serasa bebas [Foto: Rifki Feriandi]

Pintu masuk kedatangan. Kesan modern sudah muncul [Foto: Rifki Feriandi]

Area tunggu terbuka, sangat tinggi, membuat nyaman [Foto: Rifki Feriandi]
2. Check-in counter nyaman dan luas

Sama seperti Bandara di luar negeri, check in counter di Terminal 3 ini pun sudah modern. Jumlah konternya pun banyak. Sehingga, jikalau terjadi antrean sepanjang apapun, sepertinya masih nyaman. 

Di beberapa tempat, tersedia pula check-in machine bagi mereka yang bepergian tanpa bagasi. Jumlah mesin otomatis ini cukup banyak. Semoga jumlahnya terus bertambah – dan selalu terpelihara baik – sehingga membantu para pejalan. 

Check in machines [Foto: Rifki Feriandi]

 Check in counter yang cukip banyak dan nyaman [Foto: Rifki Feriandi]

3. Banyak tempat duduk

Passanger friendly. Itu yang ingin saya sematkan ke Terminal 3.  Iyes. Salah satu buktinya adalah banyak ya fasilitas untuk kenyamanan penumpang. Salah satu fasilitas yang penting adalah tempat duduk. 

Di Terminal 3, kita dengan gampang menjumpai banyak tempat duduk. Banyak. Buka hanya satu dua seadanya. Juga, tidak hanya dalam bentuk kursi yang standar berbentuk kursi, tapi juga dalam bentuk bangku atau pilar rendah penahan taman. 

Dari sisi peletakan, tempat duduk ini pun ternyata bisa dibuat menarik. 

 Kursi-kursi yang banyak  [Foto: Rifki Feriandi]

Tempat duduk di sekitar taman [Foto: Rifki Feriandi]

Jarak antar kursi dibuat cukup lapang [Foto: Rifki Feriandi]

Tempat duduk dalam bentuk bangku yang diletakan menarik [Foto: Rifki Feriandi]

 Kursi-kursi berbentuk sofa nyaman [Foto: Rifki Feriandi]


4. Ada free wifi dan free charger telepon

Tidak perlu dijelaskan terlalu panjang, but these are two important things in the current live. Wifi gratis dan colokan charger hape gratis. Iya, charger gratis. Iya, gratis. Jangan sampai dianggap memakai fasilitas negara tanpa ijin 😁😝. 

Free charger station [Foto: Rifki Feriandi]

 Temukan simbol free wifi ini  [Foto: Rifki Feriandi]


5. Banyak toko dan restoran

Meski belum seluruh bagian terminal terisi, namun sudah banyak restoran bermunculan. Mulai dari international style sampai dengan real local food. You name it. Saya duga, berbagai fastfood outlet murah meriah akan terus bermunculan. Bagus lah, memberi alternatif lebih banyak kepada penumpang. 

Real local food ada loh. Tuh, Roti Unyil Bogor  [Foto: Rifki Feriandi]Tempat makan yang nyaman  [Foto: Rifki Feriandi]

Masih banyak resto di lantai bawah dari lantai check in  [Foto: Rifki Feriandi]

Bahkan di lantai ruang tunggu sekitar gate pun banyak resto dan toko  [Foto: Rifki Feriandi]


6. Entertainment menarik

Untuk hal ini saya acungu semua jempol. Kentara sekain perbedaan terminal ini dengan terminal lainnya. Juga terlihat jika terminal ini sedikit banyak mengejar image modern terminal. Entertainment berupa layar teve cukup banyak tersedia dan diletakkan di tempat startegis dan bisa dilihag banyak orang.

Taman. Ini juga satu area penting yang mengentertaint penumpang. Mirip lah dengan taman di Changi – meski kembali lagi pasti saja ada yang menganggap itu terlalu lebay. But, hey….akui saja lah. Mirip tidak perlu sama bukan?

Entertainment monitor. Boleh diperbanyak tuh  [Foto: Rifki Feriandi]

Entertaintment berupa foto bahagia bersama di spot taman  [Foto: Rifki Feriandi]

Tamannya keren, bukan? [Foto: Rifki Feriandi]

7. Display keren

Bagian ini pun saya suka. Sebagai seorang narsiswan 😁, banyak spot display yang menarik untuk berfoto. Cocok lah buat si Ade yang mengikuti jejak ayahnya yang narsis. 

Instalasi seni, meski kadang susah dimengerti   [Foto: Rifki Feriandi]

Pameran juga membantu mengurangi kebosenan  [Foto: Rifki Feriandi]

Display keren buat si Ade  [Foto: Rifki Feriandi]

Ini juga keren  [Foto: Rifki Feriandi]

Menarik nih  [Foto: Rifki Feriandi]


8. Jalur pemeriksaan banyak

Apresiasi tinggi buat pengelola ketika saya melihat area pemerksaan akhir sebelum masuk gate area. Jalur pemeriksaannya banyak euy. Semoga ini memudahkan dan memperlancar penumpang saat membludak. 

Jalur pemeriksaan yang keren dan banyak  [Foto: Rifki Feriandi]


9. Special Tenant

Bagian ini mungkin luput dari banyak perhatian. Dua tenant yang saya lihat cukup spesial. Tenant yang bertujuan memperkenalkan budaya Indonesia. Yaitu, tenant Pertamina dan Satinah. Khusus untuk tenant terakhir, saya berprediksi bahwa ini juga Untuk lebih mendayakan instansi pemerintah daerah. 

Promosi daerah melalui instansi pemerintahan daerah – Sarinah  [Foto: Rifki Feriandi]

Dukungan Pertamina dalam budaya  [Foto: Rifki Feriandi]

Konter Pertamina tanpa penekanan keperminyakan  [Foto: Rifki Feriandi]

Itulah sembilan hal penulis apresiasi. Semoga apresiasi ini membuat semua pihak tang terkait bangga akan apa yang telah diraih dan apa yang telah dilakukan tidaklah sia-sia. 

Semoga juga ini tidak menutup kita untuk tetap memberikan saran, pendapat dan kritikan kepada pengelola untuk menuju ke arah yang lebih baik lagi. 

Al Hakim – Mesjid tanpa dinding si BSD

Entah kenapa saya suka sekali kalo mampir di mesjid ini. Mesjid Al Hakim, Kencana Loka, BSD. 

Mesjid ini awalnya mungkin mesjid kecil atau tidak didesain untuk menjadi mesjid raya. Konstruksinya sangat sederhana. Beneran sederhana. Kolom – balok – atap. Dinding bata hanya asa si depan, penghalang ke arah kiblat. Dinding kiri kanan belakang tidak ada. Blang. Lepas. Ini mungkin bagian yang saya suka. Lepas. Angin bebas masuk. Tidak perlu AC. Hemat biaya. Menyatu dengan alam. 

Entah apa itu pula yang menjadi sebabnya, ternyata mesjid ini selalu penuh jemaah pada saat solat fardu. Rasanya bahagia sekali melihat area dalam mesjid ini penuh pada saat solat fardu bukan solat Jum’at. Iya, biasanya mesjid kan hanya penuh saat solat Jum’at. Di sini mah solat fardu duhur apa asar juga penuh, meski ya tidak sampai meleber ke luar. 

Di samping itu, mesjid ini juga memiliki jadwal kajian yang reguler. 

Semua ini mungkin bisa dirangkum dalam satu kata: bersahaja. 

Keren…..

Dilihat dari belakang, kolom kolom menandakan ruangan asal musola. Terlihat tidak ada dinding sama sekali di ketiga sisinya. 

Tampak sebelah kiri dari arah ke mimbar.  Terlihat level ruangan asal lebih tinggi dibanding luar. 

Ruangan hasil pelebaran, menghubungkan area solat dengan tempat wudu. Areanya cukup luas. Hati-hati kepeleset. 

Area di belakang, biasanya dipakai orang beristirahat tiduran. Di belakang pembatas itu adalah area solat ibu-ibu. Sementara itu, ruangan-ruangan di belakang adalah perpustakaan, kelas TPA dan kantor pengelola. 

Tampak dari area solatbiyama ke arah tempat wudu. 

Tampak dari area utama ke arah luar area kirim. Sudah diberi kanopi sehingga mesjid bisa menerima jamaah lebih banyak. 

Mihrab nya berfokus di lingkaran kaca patri yang indah ini. 

Lemari kecil tempat menyimpan buku, berada di saf terdepan. 

Karpet merahnya cukup tebal untuk diduduki. 

Ada replika mimbar Masjid Nabawi di mesjid ini

Jum’at kemarin saya berkesempatan solat Jum’at di Mesjid Jami Al Azhar Jakapermai. Lokasinya cukup jauh dari Pamulang. Naek kereta butuh tiga jam ke sana. Umumnya waktu terbuang karena tertahan di beberapa stasiun. Untung, turun di stasiun Kranji tidak perlu diperiksa paspor. Hehehe….lelucon Bekasi itu jauh sekali sehingga perlu paspor kali ini dipengaruhi lamanya perjalanan berkereta.

Seturunnya dari ojek, saya sudah disambut berbagai kemenarikan. 

1. Bangunan mesjid yang khas. 

Khas bingits tepatnya. Warnanya itu loh. Biru terang. Memang sih banyak mesjid-mesjid dengan warna biru, tapi mesjid ini birunya mencolok. Belum lagi warna birunya tidak hanya untuk pagar, tapi juga kanopi dan eksteriornya. 

Warna biru terang ini menarik karena bisa menjadi ciri khas mesjid ini sekaligus bisa dilihat dari kejauhan. 

2. Kubah yang unik dan berbeda

Kubah mesjid ini berbeda dengan kubah kebanyakan mesjid di Jakarta. Jika umumnya kubah mesjid itu berbentuk setengah bola – seperti Mesjid Istiqlal, atau berbentuk bawang – seperti mesjid Baiturahman di Aceh, mesjid ini bermodel bawang tapi ditarik ke atas. Ada bagian bawah cukup tinggi. Model seperti ini mungkin meniru kubah di Samarkand. Model ini juga dipakai di Mesjid Surabaya. 

Kubah Mesjid Al-Azhar juga berwarna biru, sehingga sering juga siaebut Mesjid Kubah Biru. 



3. Karpet tebal

Tebalnya karpet berwarna merah ini sangat terasa di telapak kaki. Saat sujud dan duduk pun terasa nyaman. Asal jangan sampai saja ketebalan ini membuat jamaah tidur. 

4. Replika mimbar Masjid Nabawi

Bangunan bertangga dari kayu ini langsung menarik perhatian sejak memasuki area utama. Bagaimana tidak? Ukurannya itu loh besar sekali. Bangunan ini adalah mimbar – tempat khatib berceramah – pada saat Jum’at. Mimbar seperti ini pertama kali saya temui di Masjid Nabawi. Bedanya, di sana warnanya putih dan beraksen lingkaran di tengah. Sementara itu, mimbar ini penuh dengan aksen ukiran tradisional. 

Saya sendiri agak cukup bingung dengan fungsi mimbar di mesjid ini. Dikira mimbar ini dipakai saat khutbah Jumat. Ternyata, khatib berceramahnya di mimbar kecil di mihrab. Sementara mimbar ini dibiatkan berdiri saja. Sayang. Karena, mimbar ini sudah susah-sudah disirikan, bahkan dengan berakibat memutus saf, tapi ujung-ujungnya tidak dipakai. 

Btw, kolong mimbar ini ternyata bisa mampu menampung lina orang bersolat, termasuk muazin saat Solat Jumat itu. 

5. Keranda berkeliling


Ini kali ke berapa saya menemukan hal seperti ini. Kencleng sedekah berbentuk keranda. Iya. Keranda tempat mengusung jenazah. Tentu saja, kerandanya mini dong. 

Meskinterkesan mengada-ada, saya pikir bentuk keranda itu secra langsung akan mengingatkan jamaah kepada hari akhir. 

6. Kaca patri yang indah

Saat menoleh salam, tersaji sebuah pemandangan indah. Jendela terbuka. Ada seperti pintu ke il di bawahnya. Memberi aksen yang bagus. Sementara itu kiri kanan dan atasnya dikelilingi kaca patri. 

Kaca patri – yang lebih umum dipakai di rumah peribadatan unat lain, ternyata indah juga dipakai. Kaca patri tanpa gambar wajah. Melainkan garis, ruang dan bentuk-bentuk Islami. Keren sekali. 

Mesjid Nurul Iman Blok M Square – Oase di tengah keramaian

Jarang, amat jarang saya bepergian ke Blok M. Sebisa mungkin saya hindari area ini. Simpel alasannya. Muacettttt. Karenanya, cukup terkejut juga dengan perubahan yang terjadi. Salah satunya adalah adanya Blok M Square. 

Kunjungan pertama ke gedung ini tujuannya satu: nyari peralatan naik gunung. Eiger. Katanya di sini stocknya lengkap. Dan beneran, lengkap. 

Sore ini, kali kedua saya ke gedung ini. Tujuannya pun satu, meski beda dengan yang pertama. Tujuan sekarang mencari ilmu. Ya, kajian Rabu maghriban. 

Seperti biasa, saya pergunakan angkutan Commuter Line yang murah meriah nyaman. Turun di Stasiun Kebayoran Lama yang bisa dikatakan jauh lebih bagus dibandingkan Stasiun Coorparoo di Brisbane tempat saya pernah tinggal sementara. Dari sana, disambung ojek online yang juga simpel dan murah. Diskon 50% lagi. Turun di Melawau. Ongkos Kebayoran – Melawai cuman 5000 perak. 

Sesampainya di Blok M Square, saya langsung gunakan lift ke Lantai 7.  Jangan salah, gunakan lift yang ada di tengah, karena lift lainnya tidak mencapai lantai 7. 

Ketika pintu lift terbuka, bisa dikatakan mulut saya ternganga. Suwer, ups, saya tidak menduga menemukan sebuah oase. Sama sekali imaji saya tidak seperti ini. Saya awalnya mengharapkan sebuah musola yang sedikit sempit dan kumuh. Area Blok M gitu loh, yang konotasi di benak masih kumuh. 

Kenapa disebut oase?

Ya, pas dibuka saya dihadapkan dengan miniatur Ka’bah yang berada di tengah area terbuka dikelilingi koridor dengan ornamen khas Islam. Meski udara sebenarnya panas, tapi kok ya saya merasa adem dan teduh. 

Ternyata area ini sering dipakai sebagai tenpat calon jamaah haji melakukan manasik – latihan untuk berhaji. Masya Allah. Pinter juga nih, latihan panas-panasan, agar tidak kaget dengan panasnya Saudi. 


Masuk area wudu, jamaah pria diarahkan ke sebelah kiri. Meski tidak terlalu besar, area basah wudunya cukup representatif untuk ukuran mall di Blok M. Tersedia juga urinoir dan enpat kamar mandi. 


Ketika masuk ke area utama solat, saya dibuat kagum juga. Luas. Beneran. Gak nyangka gitu, di lantai teratas mall ada masjid luas. 


Area masjid juga berkarpet merah tebal. Bukan karpet hijau standar. Tenal ini mah. Dinding-dindingnya dihiasi aksen geometris khas Islam, disertai pilar-pilar. Keren we lah. 


Menengadah, saya disajikan gambaran langit berawan. Sementara itu bagian mihrab diisi mimbar beratap, partisi. Ada meja besar di sebelahnya untuk pengajian. 


Saat saya masuk, sekitar setengah jam menuju waktu Magrib, jamaah sudah banyak yang datang. Hari itu, Rabu, memang ada kajian bersama ustadz Khalid Basalamah. Kajian – dulu lebih dikenal dengan kata pengajian – ini rutin dilaksanakan tiap minggu. Ternyata, Mesjid Nurul Iman ini memiliki banyak aktivitas. 


Salah satu aktivitas yang menarik yang dilihat di papan pengumuman adalah aktivitas petualang muslim. Wah, patut dihubungi nih, apa aktivitas ini bisa diikuti orang dewasa 😁. 


Sebelum pulang, saya coba ambil beberapa gambar dari beberapa sudut sekitar mesjid. 


Saat pulang, disarankan para jamaah untuk turun melewati tangga mall, yang berarti harus melewati area parkir. Alasan memakai tangga ada dua. Pertama, lift tentunya akan penuh dan menunggu lama. Biarkanlah dan berilah kesempatan orang tua dan ibu-ibu yang menggunakannya. Kedua, duduk lama di kajian, biarkan kaki ini bergerak dengan berjalan menuju tangga. 


Mari kita mengaji …..