Al Hakim – Mesjid tanpa dinding si BSD

Entah kenapa saya suka sekali kalo mampir di mesjid ini. Mesjid Al Hakim, Kencana Loka, BSD. 

Mesjid ini awalnya mungkin mesjid kecil atau tidak didesain untuk menjadi mesjid raya. Konstruksinya sangat sederhana. Beneran sederhana. Kolom – balok – atap. Dinding bata hanya asa si depan, penghalang ke arah kiblat. Dinding kiri kanan belakang tidak ada. Blang. Lepas. Ini mungkin bagian yang saya suka. Lepas. Angin bebas masuk. Tidak perlu AC. Hemat biaya. Menyatu dengan alam. 

Entah apa itu pula yang menjadi sebabnya, ternyata mesjid ini selalu penuh jemaah pada saat solat fardu. Rasanya bahagia sekali melihat area dalam mesjid ini penuh pada saat solat fardu bukan solat Jum’at. Iya, biasanya mesjid kan hanya penuh saat solat Jum’at. Di sini mah solat fardu duhur apa asar juga penuh, meski ya tidak sampai meleber ke luar. 

Di samping itu, mesjid ini juga memiliki jadwal kajian yang reguler. 

Semua ini mungkin bisa dirangkum dalam satu kata: bersahaja. 

Keren…..

Dilihat dari belakang, kolom kolom menandakan ruangan asal musola. Terlihat tidak ada dinding sama sekali di ketiga sisinya. 

Tampak sebelah kiri dari arah ke mimbar.  Terlihat level ruangan asal lebih tinggi dibanding luar. 

Ruangan hasil pelebaran, menghubungkan area solat dengan tempat wudu. Areanya cukup luas. Hati-hati kepeleset. 

Area di belakang, biasanya dipakai orang beristirahat tiduran. Di belakang pembatas itu adalah area solat ibu-ibu. Sementara itu, ruangan-ruangan di belakang adalah perpustakaan, kelas TPA dan kantor pengelola. 

Tampak dari area solatbiyama ke arah tempat wudu. 

Tampak dari area utama ke arah luar area kirim. Sudah diberi kanopi sehingga mesjid bisa menerima jamaah lebih banyak. 

Mihrab nya berfokus di lingkaran kaca patri yang indah ini. 

Lemari kecil tempat menyimpan buku, berada di saf terdepan. 

Karpet merahnya cukup tebal untuk diduduki. 

Ada replika mimbar Masjid Nabawi di mesjid ini

Jum’at kemarin saya berkesempatan solat Jum’at di Mesjid Jami Al Azhar Jakapermai. Lokasinya cukup jauh dari Pamulang. Naek kereta butuh tiga jam ke sana. Umumnya waktu terbuang karena tertahan di beberapa stasiun. Untung, turun di stasiun Kranji tidak perlu diperiksa paspor. Hehehe….lelucon Bekasi itu jauh sekali sehingga perlu paspor kali ini dipengaruhi lamanya perjalanan berkereta.

Seturunnya dari ojek, saya sudah disambut berbagai kemenarikan. 

1. Bangunan mesjid yang khas. 

Khas bingits tepatnya. Warnanya itu loh. Biru terang. Memang sih banyak mesjid-mesjid dengan warna biru, tapi mesjid ini birunya mencolok. Belum lagi warna birunya tidak hanya untuk pagar, tapi juga kanopi dan eksteriornya. 

Warna biru terang ini menarik karena bisa menjadi ciri khas mesjid ini sekaligus bisa dilihat dari kejauhan. 

2. Kubah yang unik dan berbeda

Kubah mesjid ini berbeda dengan kubah kebanyakan mesjid di Jakarta. Jika umumnya kubah mesjid itu berbentuk setengah bola – seperti Mesjid Istiqlal, atau berbentuk bawang – seperti mesjid Baiturahman di Aceh, mesjid ini bermodel bawang tapi ditarik ke atas. Ada bagian bawah cukup tinggi. Model seperti ini mungkin meniru kubah di Samarkand. Model ini juga dipakai di Mesjid Surabaya. 

Kubah Mesjid Al-Azhar juga berwarna biru, sehingga sering juga siaebut Mesjid Kubah Biru. 



3. Karpet tebal

Tebalnya karpet berwarna merah ini sangat terasa di telapak kaki. Saat sujud dan duduk pun terasa nyaman. Asal jangan sampai saja ketebalan ini membuat jamaah tidur. 

4. Replika mimbar Masjid Nabawi

Bangunan bertangga dari kayu ini langsung menarik perhatian sejak memasuki area utama. Bagaimana tidak? Ukurannya itu loh besar sekali. Bangunan ini adalah mimbar – tempat khatib berceramah – pada saat Jum’at. Mimbar seperti ini pertama kali saya temui di Masjid Nabawi. Bedanya, di sana warnanya putih dan beraksen lingkaran di tengah. Sementara itu, mimbar ini penuh dengan aksen ukiran tradisional. 

Saya sendiri agak cukup bingung dengan fungsi mimbar di mesjid ini. Dikira mimbar ini dipakai saat khutbah Jumat. Ternyata, khatib berceramahnya di mimbar kecil di mihrab. Sementara mimbar ini dibiatkan berdiri saja. Sayang. Karena, mimbar ini sudah susah-sudah disirikan, bahkan dengan berakibat memutus saf, tapi ujung-ujungnya tidak dipakai. 

Btw, kolong mimbar ini ternyata bisa mampu menampung lina orang bersolat, termasuk muazin saat Solat Jumat itu. 

5. Keranda berkeliling


Ini kali ke berapa saya menemukan hal seperti ini. Kencleng sedekah berbentuk keranda. Iya. Keranda tempat mengusung jenazah. Tentu saja, kerandanya mini dong. 

Meskinterkesan mengada-ada, saya pikir bentuk keranda itu secra langsung akan mengingatkan jamaah kepada hari akhir. 

6. Kaca patri yang indah

Saat menoleh salam, tersaji sebuah pemandangan indah. Jendela terbuka. Ada seperti pintu ke il di bawahnya. Memberi aksen yang bagus. Sementara itu kiri kanan dan atasnya dikelilingi kaca patri. 

Kaca patri – yang lebih umum dipakai di rumah peribadatan unat lain, ternyata indah juga dipakai. Kaca patri tanpa gambar wajah. Melainkan garis, ruang dan bentuk-bentuk Islami. Keren sekali. 

Mesjid Nurul Iman Blok M Square – Oase di tengah keramaian

Jarang, amat jarang saya bepergian ke Blok M. Sebisa mungkin saya hindari area ini. Simpel alasannya. Muacettttt. Karenanya, cukup terkejut juga dengan perubahan yang terjadi. Salah satunya adalah adanya Blok M Square. 

Kunjungan pertama ke gedung ini tujuannya satu: nyari peralatan naik gunung. Eiger. Katanya di sini stocknya lengkap. Dan beneran, lengkap. 

Sore ini, kali kedua saya ke gedung ini. Tujuannya pun satu, meski beda dengan yang pertama. Tujuan sekarang mencari ilmu. Ya, kajian Rabu maghriban. 

Seperti biasa, saya pergunakan angkutan Commuter Line yang murah meriah nyaman. Turun di Stasiun Kebayoran Lama yang bisa dikatakan jauh lebih bagus dibandingkan Stasiun Coorparoo di Brisbane tempat saya pernah tinggal sementara. Dari sana, disambung ojek online yang juga simpel dan murah. Diskon 50% lagi. Turun di Melawau. Ongkos Kebayoran – Melawai cuman 5000 perak. 

Sesampainya di Blok M Square, saya langsung gunakan lift ke Lantai 7.  Jangan salah, gunakan lift yang ada di tengah, karena lift lainnya tidak mencapai lantai 7. 

Ketika pintu lift terbuka, bisa dikatakan mulut saya ternganga. Suwer, ups, saya tidak menduga menemukan sebuah oase. Sama sekali imaji saya tidak seperti ini. Saya awalnya mengharapkan sebuah musola yang sedikit sempit dan kumuh. Area Blok M gitu loh, yang konotasi di benak masih kumuh. 

Kenapa disebut oase?

Ya, pas dibuka saya dihadapkan dengan miniatur Ka’bah yang berada di tengah area terbuka dikelilingi koridor dengan ornamen khas Islam. Meski udara sebenarnya panas, tapi kok ya saya merasa adem dan teduh. 

Ternyata area ini sering dipakai sebagai tenpat calon jamaah haji melakukan manasik – latihan untuk berhaji. Masya Allah. Pinter juga nih, latihan panas-panasan, agar tidak kaget dengan panasnya Saudi. 


Masuk area wudu, jamaah pria diarahkan ke sebelah kiri. Meski tidak terlalu besar, area basah wudunya cukup representatif untuk ukuran mall di Blok M. Tersedia juga urinoir dan enpat kamar mandi. 


Ketika masuk ke area utama solat, saya dibuat kagum juga. Luas. Beneran. Gak nyangka gitu, di lantai teratas mall ada masjid luas. 


Area masjid juga berkarpet merah tebal. Bukan karpet hijau standar. Tenal ini mah. Dinding-dindingnya dihiasi aksen geometris khas Islam, disertai pilar-pilar. Keren we lah. 


Menengadah, saya disajikan gambaran langit berawan. Sementara itu bagian mihrab diisi mimbar beratap, partisi. Ada meja besar di sebelahnya untuk pengajian. 


Saat saya masuk, sekitar setengah jam menuju waktu Magrib, jamaah sudah banyak yang datang. Hari itu, Rabu, memang ada kajian bersama ustadz Khalid Basalamah. Kajian – dulu lebih dikenal dengan kata pengajian – ini rutin dilaksanakan tiap minggu. Ternyata, Mesjid Nurul Iman ini memiliki banyak aktivitas. 


Salah satu aktivitas yang menarik yang dilihat di papan pengumuman adalah aktivitas petualang muslim. Wah, patut dihubungi nih, apa aktivitas ini bisa diikuti orang dewasa 😁. 


Sebelum pulang, saya coba ambil beberapa gambar dari beberapa sudut sekitar mesjid. 


Saat pulang, disarankan para jamaah untuk turun melewati tangga mall, yang berarti harus melewati area parkir. Alasan memakai tangga ada dua. Pertama, lift tentunya akan penuh dan menunggu lama. Biarkanlah dan berilah kesempatan orang tua dan ibu-ibu yang menggunakannya. Kedua, duduk lama di kajian, biarkan kaki ini bergerak dengan berjalan menuju tangga. 


Mari kita mengaji …..