Harta Karun Papap – 1

Dua tahun sudah Papap gak ada. Masih ada rasa kehilangan. Dan ‘kasuat-suat’. Makanya peninggalan-peninggalan Papap juga gak pernah disentuh.

Kemarin akhirnya kita lihat tuh peninggala\nnnya. Ternyata banyak dokumen dan buku. Berhubung saya satu-satunya yang kutu buku, jadi weh semua dokumen saya bawa. Sudah agak bulukan dan berdebu. Tapi ya gitu, asa nyeredet melihat semua dokumennya teh.

Dokumen-dokumen itu menggambarkan seperti apa Papap itu. Gambaran yang didapat dari apa yang Papap ‘tinggalkan’.

Inilah beberapa gambaran yang bisa dilihat.

Papap itu tekun sekali. Terlalu rajin malah. Salah satu kebiasaannya adalah ya seperti ini: membuat catatan atau list atau daftar isi. Kadang beliau melakukannya dengan tulisan tangan, terkadang memakai mesin tik. Kerjaan ini teh diistilahkan ‘leuk-leuk’. Butuh semangat dan konsistensi. Bayangin saja bikin list yang melelahkan.

Yang tidak dilupakan adalah beliau suka ngasih nama. Biasanya beliau menulis dengan tangannya. Tetapi sering juga veliu memberi nama sperti ini: memakai huruf tempel.

Masih ingat namanta?

RUGOS nya??

Ketika Ayah Membuat Liburan Anak Menyenangkan

IMG_20171228_075749.jpg
Liburan akhir tahun dengan tema Liburan Secapeknya | Foto: Rifki Feriandi

“Menurut Ade, travel atau liburan kita yang paling seru itu yang mana?”, tanya si Ayah di balik kemudi saat anter ke sekolah.
“Yang kemaren di Malang dong Yah”, sahut anak kelas dua SD dengan pipi cubitable itu.
“Emang alasannya apa?”. Si Ayah kepo.
“Seru saja. Puas gitu”. Jawabnya ringkas.

Iya. Sebagai ayahnya, saya rasakan jika si Ade dan si Kakak itu begitu enjoy dan menikmati lburan di akhir tahun kemarin. Dan ini ceritanya.

Buatlah tema sesuai keinginan anak

Setelah mendapat ijin dari si Ibu untuk giliran pergi ke tempat yang pernah si Ayah dan Ibu datangi, Batu Malang, si Ayah mengajak Ade dan Kakak untuk berlibur mengusung tema “Liburan secapeknya”. Iya, itu yang mereka inginkan. Liburan sepuasnya. Tidak dibatasi waktu. Satu hari ke beberapa tempat wisata pun jadi. Asal mereka puas.

Untuk mendukung tema ini, si Ayah tawarkan perjalanan semi backpacker. Tidak selalu menginap di hotel, tetapi tidak juga menggelandang. Dibuat mix lah. Disepakati juga kita buat jadwal perjalanan ke gunung dan ke laut.

Saat hari pertama di Air terjun Coban Rondo sampai puas, malamnya tidak menyewa hotel karena kita langsung ikut tour ke Bromo. Baru dua hari berikutnya menginap di hotel tanpa kolam renang yang berada dekat dengan obyek wisata. Lalu baru ke hotel yang ada kolam renang di Malang untuk santai-santai. Dilanjut ke hostel backpackeran di tiga hari terahir. Dengan semi backpacker seperti ini, kita bisa mendapatkan jadwal yang cukup padat, dengan durasi cukup panjang. Pokoknya yang penting ada sesuatu yang menantang anak-anak. Si Ade yang kelas dua SD dan kakanya yang saat itu ada di kota lain menimba ilmu, menyambut ide itu dengan sangat antusias. Kebahagiaan sudah terpancar dari sejak sebelum keberangkatan.

Selalu ajak obrol tentang konsekuensi atas segala pilihan

Dengan keputusan yang sudah disepakati bersama, tiba saatnya semua orang harus konsekuen dengan kesepakatan itu. Artinya, siap-siap ada banyak kegiatan yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Dan ini dimulai dari sejak sebelum terbang. Si Ade gelisah karena kita terbang dengan maskapai yang terkenal dengan keterlambatannya. Apalagi dia mendapatkan “nasihat” dari sahabatnya. “Kamu jangan lupa baca do’a ya Nay, soalnya pesawat itu kan sering jatuh”. Hal ini pun diperparah dengan pendapat dari kakak dan ibunya. Untung si Ayah bisa sedikit menampilkan sisi “cuek” dengan issue itu. “Kalo sudah waktunya meninggal mah, tidur juga bisa meninggal De”. Si Ayah berusaha cool, meski kadang kepikiran juga untuk ganti maskapai lain. Tapi, ya itu konsekuensinya, ongkos maskapai lain lebih tinggi. Alhamdulillah, ternyata dia termakan “ke-cool-an” si Ayah, dengan tanpa mempermasalahkan pilihan terbang sama sekali. Malah enjoy di perjalanan.

IMG_20171227_055548
Mari kita kemon | Foto: Rifki Feriandi

“Alhamdulillah ya Yah, ternyata tepat waktu dan gak apa-apa. Nanti Ade bilangin temen Ade deh”.

Ah, lega rasanya melihat dia happy. Dan obrolan seperti ini juga dilakukan pada saat si Ade seharusnya kecewa ketika tidak mendapatkan sunrise karena kabutnya tidak hilang-hilang sampai kita turun Penanjakan.

Ayah jangan takut basah.

“Bermain bersama anak. Jadilah anak-anak”.

Kutipan itu selalu saya pegang ketika liburan bareng anak-anak. Ketika si Ayah pergi sama Ade atau Kakak, ya berubahlah dari seorang ayah yang sok ngatur, menjadi seorang “anak berbadan gede”. Dan itu ternyata sesuatu yang ditunggu anak-anak. Ayah yang berlaku lepas.

IMG_20171227_132448
Dingin-dingin seru | Foto: Rifki Feriandi

Saat si Ade menikmati Coban Rondo, si Ayah pun langsung nyemplung. Basah-basahan. Dimulai dari sungai terdekat sampai dengan di bawah air terjun. Si Ade tentunya kedinginan. Tetapi bukankah dia pun harus pernah merasakan bagaimana itu dingin di pegunungan. Dan dengan si Ayah ikutan berbasah-basahan, dia merasa si Ayah tidak hanya sekedar memberi tahu dengan mulut, tapi langsung terlibat. Menyelusuri sungai sampai ke bawah air terjun itu seru. Tanpa sepatu, si Ayah biarkan si Ade meraba seberapa tajam batu di bawahnya dengan kaki. Si Ade pun jadinya belajar batu yang mana yang harus diinjak, apakah yang berlumut dan licin atau yang man. Sepanjang aktivitas itu, saya liat dia tidak lepas dengan mulut terbuka. Entah itu senyum, ketawa, memekik, kaget. Sifat jahil yang selama ini tertutup sikap santun pun jadi muncul.. Dia sembur si Ayah dengan air.

Tahu gak berapa lama kita menikmati Coban Rondo?

Kala orang lain datang yang lalu cheers berfoto dengan tidak lupa mengangkat jari membentuk huruf V dan lalu pulang, kita bertiga menghabiskan total waktu empat jam. Empat jam yang menyenangkan. Karena kita tidak takut basah.

Ayah jangan takut kotor

WhatsApp Image 2017-12-28 at 19.01.12
Ayah!!! Ngapain? | Foto: Rifki Feriandi

Kotor itu baik….jika sesudahnya kita cuci tangan. Itu betul. Karena, takut kotor menyebabkan liburan kita tidak nikmat. Makanya, ketika kita bertiga sampai di kawasan Gunung Bromo, ya sudah kita bebasin mereka mau ngapain. Si Ayah lepas sepatu. Lalu bertelanjang kaki berjalan di atas Pasir Berbisik. Kadang melompat. Atau justru menjatuhkan diri di atas pasir. Persis seperti anak kecil. Biarin lah, yang penting anak-anak pun tidak sungkan berkotor-kotor sehingga mereka bisa lepas berkespresi. Gegara ini pula, kita satu jeep menjadi jeep terakhir yang sampai ke penginapan transit. Lama banget kita di Bromo. Tidak terasa. Karena, ya karena kita bebas lepas.

Ayah jangan takut capek

Keseruan lain sedikit menyangkut fisik. Meski si Ayah berperut buncit, si Ayah tidak boleh dong memperlihatkan kelemahan fisiknya. Makanya, si Ayah justru menantang anak-anak naik ke puncak Gunung Bromo. Capek sih. Tapi itu bukan jadi alasan mengurangi keasyikan berlibur, bukan? Makanya si Ayah mengakali ketakutan akan capek dengan……narsis. Hehehehe. Saat anak-anak terlihat lelah, kita foto-foto. Selfie. Dengan berbagai gaya. Terkadang gaya si Ade meni geuleuh. Syahrini banget gitu loh. Tapi toh, mereka jadi gak mempermasalahkan capek. Si Ade malah ketawa dan semangat. Padahal si Ayah menyembunyikan ekspresi cape di balik buff yang dipakai. Dan… hasilnya, si Ade dan Kakak mencapai puncak Bromo. Horeeee….. bekal naik gunung Prau nih De.

IMG_20171228_091743
Ini mah si Ayah nya yang narsis | Foto: Rifki Feriandi

Eh, ternyata jangan takut capek pun menjadi modal ketika kita berkeliling di CHina Town di Malang dengan berjalan kaki. Dari Kelenteng sampai Museum Bentoel. Lumayan lah, melatih kaki. Lagian anak-anak enjoy tuh jalan, sambil melihat kondisi kota tua itu lengkap dengan beli salak Pondoh yang super manis sebanyak dua kilo berharga sangat murah. Atau ketika berjalan ke Kampung Wisata Warna warni. Juga menelusrui Ijen Boulevard dan lalu mampir ke taman-taman yang asri, termasuk dengan melihat anak-anak SD bermain kasti, di belakang sekelompok anak-anak TK Bisu Tuli yang sedang berwisata di taman. Melihat wajah si Ade yang bercampur antara courisity dan bahagia itu priceless. Untung ayah tidak takut capek, De.

Ayah jangan takut kecewa

IMG_20171228_050024
Latihan nahan dingin di Gunung Prau De | Foto: Rifki Feriandi

Terus terang, saya sedih banget saat kita di Pananjakan, lalu tidak dapat sunrise. Kabut pekat tidak beranjak. Padahal kita datang lebih awal demi mendapatkan tempat yang strategis. Dalam dingin yang sangat, si Ayah berusaha relaks dan tidak menunjukan kekecewaan berlebih. Kita lalu coba enjoy menikmati pop mie. Ayah ceritain pengalaman naek gunung. Bahkan si Ayah nyeletuk “Wah, kabutnya indah sekali De”. Entahlah. Dalam balutan jaket hijaunya, si Ade enjoy-enjoy aja tuh. Malah dia dan si Kakak menikmati obrolan sama ibu penjual makanan sambil “sideang” di depan api unggun.

Ayah jangan takut takut

Ini yang paling seru. Selama di Batu Malang, kita tiga kali masuk ke Rumah Hantu. Di Jatim Park 1 dan 2, di Batu Night Spectacular. Itu gegara si Ade dan Kakak ketagihan. Padahal si Ayah ragu-ragu untuk masuk. Capek denga kekagetan. Tapi kalo si Ayah gak masuk, mereka malah gak ceria. Ya, kepaksa deh. Ujung-ujungnya si Ayah yang jalan di depan.

IMG_20171230_182059
Ayo Yah, sekali lagi | Foto: Rifki Feriandi

Yang membuat menyenangkan adalah ketika kita masuk ke satu wahana itu – kalo gak salah di Jatim Park, kita masuk dalam rombongan suster-suster dari satu biara. Usianya sudah cukup tua, meski didampingi beberapa calon suster (mungkin, karena saya tebak dari pakaiannya yang berbeda). Mereka itu rame banget, karena kentara mereka itu takut. Jadinya si Ayah yang disuruh jalan di depan diikuti kadang anak-anak, meski tahu-tahu suster-suster itu ketakutan, lalu sudah berada di belakang si Ayah sambil pegang pundak. Si Ade banyak ketawanya. Kenapa ini menyenangkan? Karena akhirnya tanpa sadar “keramean” itu memberi nilai bahwa meski berbeda keyakinan, kita bisa barengan.

Ayah jangan takut masuk angin

Yang membuat si Ayah sedikit surprise adalah ketika tahu jika si Ade ternyata begitu bahagia ketika kita naik ojek online. Iyes, kita sering menggunakan ojek untuk perpindahan dari satu tempat ke tempat wisata-wisata lain. Selain murah, gampang didapat, ojek membantu menerabas kemacetan. Batu dan Malang di liburan tahun baru itu macet, you know. Jadi, Ayah singkirkan ketakutan masuk angin.

 

========

“To be in your children’s memories tomorrow, you have to be in their lives Today’” Barbara Johnson.

Ah, masih banyak hal-hal yang si Ayah lakukan yang membuat wisata akhir tahun itu begitu menyenangkan. Batu, Malang. Dec-Jan 2018. Susah dilupakan.

 

Yuk, Cobain Telanjang Kaki

Pernahkah Anda berjalan telanjang kaki atau barefoot atau nyeker? Pernah lihat pemuda-pemuda Baduy yang berjalan ke sekitar Tangerang Selatan sambil membawa madu untuk dijual? Mereka berjalan tanpa alas kaki alias nyeker, seterik apapun cuaca hari itu. Penasaran kan, gimana rasanya? Lalu apa manfaatnya telanjang kaki? Berbahaya gak?

Manfaat telanjang kaki

Menurut situs hellosehat.com, beberapa manfaat telanjang kaki adalah:

  • meningkatkan sirkulasi darah
  • mengurangi peradangan
  • meningkatkan kualitas tidur
  • refleksologi gratis
  • mengurangi resiko penyakit jantung
  • meningkatkan postur dan keseimbangan tubuh
  • meningkatkan kebugaran

Testimoni merasakan telanjang kaki

IMG_20180215_084510
Rasakan gradasi kekerasan aspal jalanan beserta nuansa kering dan basahnya | Foto: Rifki Feriandi

Minggu kemarin, setelah lelarian di kompleks perumahan The Green BSD, saya melakukan pendinginan dengan berjalan kaki tanpa alas kaki alias telanjang kaki alias nyeker. Agak ngeri-ngeri gimana gitu pertama kali menjejak kaki polos ini. Maklum, permukaan yang pertama dijejak adalah jalanan beraspal. Lebih nyaman sih jika kita menjejak rumput atau tanah, karena menjejak aspal jalanan itu lebih takut adanya benda-benda tajam. Tapi, setelah dicoba, gak apa-apa tuh. Memang tidak dipungkiri benda-benda tajam dengan ukuran kecil atau sangat kecil, seperti kerikil atau pasir sediit tajam, menyentuh kulit. Tetapi, biarkan saja. Nanti juga terbiasa.

IMG_20180215_084358
Tekstur blok tegel yang jelas dirasakan berbeda dengan lembutnya rumput | Foto: Rifki Feriandi

Di kawasan tempat saya berolahraga lari itu, saya mencoba merasakan kembali kulit alas kaki ini bersentuhan dengan berbagai macam permukaan: jalan beraspal, jalan dengan paving blok, plesteran semen yang diberi corak-corak, kansteen pinggir jalan, tanah licin dan rumput. Saya juga sengaja berjalan di atas jalanan aspal yang kering dan yang basah. Di sinilah saya memetik manfaat telanjang kaki: bersyukur karena indra perasa di kaki masih berfungsi normal. Bersyukur karena Allah begitu hebatnya menciptakan kaki dengan simpul-simpul syarafnya yang bisa memberitahu jika yang dijejak itu permukaan kasar atau lembut, kering atau basah, panas atau adem.

IMG_20180215_084220
‘Kalakay: atau daun kering pun akan terasa beda mana yang kering sekali dan yang jatuh sebelum waktunya. Juga tekstur dekoratif perkerasan jalan ini bisa terasa | Foto: Rifki Feriandi

Ketika saya kemudian berjalan ke Jaletreng, saya lalu berjalan telanjang kaki di atas batu-batu yang disusun rapi. Foot terapi. Serius, tekanan dari batu terhadap berat tubuh ini terasa di telapak kaki. Rasanya enak, seperti dipijit. Di beberapa posisi, ketika batu-batu itu terlalu besar atau mencos, memang akan terasa sakit. Tapi, ya itulah terapi kan. Pasti ada rasa sakitnya. Tapi, setelahnya itu akan menjadi enak.

IMG_20180215_084943
Rumput pun bisa digunakan untuk membersihkan kaki dari lumpur tanah basah yang menyelip di antara jari | Foto: Rifki Feriandi

Manfaat lain telanjang kaki adalah bisa merasakan menyelipnya lumpur ke sela-sela jari kaki. Ini geuleuh saudara-saudara. Paling kesal kalau ini terjadi, persis seperti kesalnya lumpur menyelinap di lubang sendal jepit lalu nempel di sela-sela jari kaki. Kapan lagi coba kita kesal karena bolokot kakinya? Dan yang serunya, kita bisa langsung bersihkan kaki itu langsung tanpa menyiramkan air? Bagaimana bisa? Ya, pakai saja embun-embun yang menempel di rumput-rumput yang diinjak. Seru tahu. Kaki bersentuhan dengan rumput itu, adeeeem.

Hmmm… Jadi ketagihan nyeker nih.

Resiko nyeker

Dari situs yang sama, diketahui beberapa resiko bertelanjang kaki:

  • kekhawatiran menimbulkan masalah dengan kaki akibat daya dukung kaki yang kurang
  • infeksi virus, infeksi jamur, infeksi bakteri dari kotor atau permukaan basah
  • kekhawatiran menginjak benda tajam, pecahan kaca atau paku, sehingga menimbulkan tetanus
  • kemungkinan terkena cacing tambang karena kontak langsung dengan kotoran hewan

Etapi, kalo melihat resiko seperti itu, nyekernya kadang-kadang saja lah. Meski sahabatku bilang suaminya suka barefoot karena menjadikan sehat dan telapak kaki menjadi kuat, saya mah telanjang kakinya kapan-kapan saja. Lah wong, lari saja masih belang betong.

Tapi, yuk kita coba telanjang kaki biar kita bisa bersyukur

 

Tips Aman Menyalakan AC Mobil Saat Panas Terik

2017_heatstroke-infographic-808-x-808-c
Salah satu kampanye jangan tinggalkan bayi atau anak-anak di dalam mobil Child Safety | Foto: nhtsa.gov

Terbayang kan jika sinar matahari yang berubah menjadi panas terperangkap di dalam mobil. Pengap. Dan itu ternyata, menjadi penyebab banyak kematian di Amerika Serikat ketika banyak anak kecil atau bayi yang tidak diawasi, terperangkap di dalam mobil.

Tapi, tulisan ini tidak tentang itu. Meski ada hubungannya sih.

Beberapa hari ini kembali banyak berseliweran berita berbahayanya menyalakan AC setelah parkir saat kondisi panas terik. Kabarnya itu berkaitan erat dengan penyakit kanker yang datang dari mengirup zat-zat berbahaya dari interior mobil yang terkena paparan matahari. Tetapi, bukan karena itu saya ingin berbagi informasi ini, tetapi melulu dengan apa yang dirasakan.

Sebagai ayah yang berprofesi ternak teri – anter anak anter istri, saya mengalami kondisi gak nyaman ketika mau menyalakan AC mobil yang diparkir saat panas terik. Sebelum-sebelumnya saya masuk mobil, langsung menyalakan AC. Maksudnya sih biar langsung adem, gitu. Tapi kondisi yang terjadi malah gak nyaman. Dalam pengapnya mobil dan tekanan udara di dalam meningkat, angin yang keluar dari lubang AC mobil malah terasa gimana gitu, gak enak banget. Ketika terhirup pun, rasanya beda. Sama sekali gak segar. Terkadang, itu membuat limbung atau pusing sejenak.

Sejak frekuensi menyetir lebih sering, dan perasaan gak nyaman itu sering muncul, maka saya mengubah cara menyalakan AC mobil yang menurut saya sih aman dan gampang.

  1. Setelah buka pintu, nyalakan mobil. Pastikan bahwa saklar AC mobil dalam posisi OFF, sehingga mesin tidak kaget.
  2. Buka jendela mobil. Jendela kiri-kanan depan saja sih cukup, tapi lebih cepat jika dibuka juga jendela belakang.
  3. Langkah di atas itu dilakukan tanpa saya masuk dulu ke dalam mobil selama 15 detik. Gak lama kok lima belas detik.
  4. Lalu, nyalakan AC mobil. Saya tetap berada di luar mobil selama 15-30 detik selanjutnya. Tentunya waktu tunggu ini saya gunakan dengan waspada, melihat sekeliling. Jika ada gelagat tidak bagus, lakukan langkah yang dianggap lebih baik. Alhamdulillah selama ini tidak terjadi apa-apa.
  5. Setelah itu, barulah saya, sebagai pengemudi, masuk. Kalau barengan bersama keluarga, saya juga suruh mereka masuk.
  6. Terkadang, agar keluarga nyaman tidak lama menunggu masuk mobil di panas terik, saya biasanya berlari duluan ke parkiran. Jadi saya bisa mengademkan mobil dulu sebelum keluarga masuk mobil.
  7. Jendela mobil jangan dulu ditutup. Biarkanlah udara luar masuk selama perjalanan dari tempat parkir menuju loket pembayaran. Jika jarak tempat parkir ke loket dekat, rasakan saja kapan kondisi di dalam mobil sudah terasa nyaman dan jendela boleh ditutup. Logis kan. Membuka jendela saat menyalakan AC mobil itu berfungsi membuang udara panas yang ada di dalam mobil, kan.

Terkadang juga kita lupa untuk melakukan tahapan di atas jika mobil diparkir tidak langsung di bawah matahari. Tetapi, apa yang saya rasakan sih sebenarnya sama. Tidak nyaman. Meski dalam intensitas lebih ringan. Makanya, langkah itu pun saya lakukan setiap saat menyalakan AC, baik itu diparkir di bawah terik matahari atau terlindung bangunan.

Langkah ini ternyata seirama dengan saran dari mobil123. Portal otomotif terkemuka ini menambahkan dalam beritanya, “Tidak ada salahnya untuk tetap membuka kaca penumpang belakang sebesar kurang lebih 5 cm. Tujuannya adalah untuk benar-benar memastikan udara panas sudah keluar”.

Satu lagi tips yang kepikiran, tapi terus terang ini tergantung di mana kita parkir mobilnya. Iya, membuka sedikit jendela – sedikit saja – selama parkir agar udara bisa keluar. Kembali, tips ini tergantung jenis mobil Anda dan lokasi parkir. Jika mobil Anda aman, ada talang air yang menutupi bukaan jendela kecil itu, mungkin tips ini boleh dicoba. Tapi jika tidak ada talang air, membuka jendela – meski sedikit – akan riskan dari pencurian atau air hujan yang masuk.

“What Man Is, Only History Tells”

quote
Jejak-jejak akan menjadi sejarah | Foto; RIfki Feriandi

Jika ada yang bertanya “Ki, apa pelajaran sekolah yang sampai sekarang bermanfaat?”, saya kok jadi serasa memiliki dilema.

Sebagai seorang engineer yang selama dua puluh lima tahun berkecimpung di bidang teknik sipil dan infrastruktur, seyogyanya pelajaran Matematika dan Fisika lah yang menjadi jawabannya. Logis kan? Lah teori gaya = massa x percepatan, alias hukum Newton yang dipelajari dari sejak sekolah itu terus kepake sampe gede. Apalagi hukum keseimbangan gaya – sigma gaya vertikal = 0, sigma gaya horisontal = 0, sigma momen = 0 – itu mah makanan sehari-hari kan. Itu kan pelajaran Fisika. Sementara Matematika? Penurunan rumus – yang akrab di awal kerja – itu bukannya dari Matematika kan? Belum integral diferensial, yang anehnya dulu itu kok saya sukai ya. Tapi, ternyata sodara, kedua pelajaran itu bukanlah pelajaran yang selalu terngiang dan menentukan hidup ini. Pelajaran itu menentukan pekerjaan saya. Namun, ada satu pelajaran yang impact nya terasa sangat halus … tetapi nyata ada. Itulah pelajaran …. SEJARAH.

What?

Alasannya sederhana sih. Saya dapat nilai 10 untuk mata pelajaran ini. Iya, sodara-sodara. Satu-satunya nilai penuh 10 di buku laporan (rapot). Unbelievable.

“Wow keren. Gimana caranya bisa dapat nilai 10?”, mungkin ada yang bertanya.

Jawaban saya sederhana “Meneketehe. Bingung saya oge”. Apa boleh jadi ya karena saat itu saya menjadi anak kesayangan guru Sejarah? Anak emas Bu Halimah Syamsu? (halah…geer). Atau apa ini buah pedekate Alm Mamam saat itu yang menitipkan anaknya ke Bu Guru yang menjadi wali kelas? Atau memang karena saya pinter nilai ulangannya penuh – da perasaan mah nilai teh jarang dapat seratus. Atau karena sampe sekarang saya masih inget nama gerakan di sejarah Filipina – yang diajarkan saat itu: HUKBALAHAP 🙂 ?. Atau jangan-jangan sebenarnya saya teh mau dijodohin sama anaknya? Hmmm…pegang dagu, ungeuk-unggeuk.

But, anyway. Forget about why. Tapi, rasakan emang apa pengaruhnya.

Entahlah. Kayaknya saya mendapat ‘kutukan’ sejarah. Saya jadi suka pelajaran sejarah dan segala yang berkaitan dengan sejarah. Buku-buku sejarah cukup banyak mewarnai lemari. Bahkan buku sangat tebal yang dibeli dari gaji awal kerja itu pun buku sejarah. Ada perasaan bangga memilikinya. Apalagi kalo sudah menyangkut Perang Dunia 2, kayaknya semangat kalo dapatin buku tentang Hitler. Dan koleksi buku eh majalah berbingkai kuning National Geographic selama sepuluh tahun yang sekarang mulai diikhlasin berganti pemilik itu pun bercerita tentang sejarah, bukan? Apalagi jika menyangkut sejarah Mesir Kuno, Egyptology, wah bisa kalap. Apa mungkin saya salah jalur, bukan menjadi insinyur tetapi menjadi penerus Arkeologis-Egptologys Zahi Hawas?

 

Tapi, dari sejarah saya banyak mendapatkan pelajaran.

Dari Mesir Kuno zaman Fir’aun sampai PDII zaman Hitler, ada banyak nilai kehidupan yang dipetik. Manusia itu harus berbatas. Ambisi harus memikirkan realiti. Di atas sekonyong-konyong bisa menjadi di bawah. Langsung deh ingat do’a “Yaa muqollibal quluuub…..”. Ada yang membolak-balikan kehidupan kita.

Dari satu buah peristiwa G30SPKI, ada penafsiran jaman now dan jaman old, juga ada hikmah yang juga bisa diambil. Kebenaran atau sesuatu itu tergantung sudut pandang. Dan kebenaran hakiki tetap akan nampak pada saatnya.

Pada Piramida di Giza dan Borobudur deket Yogya, bukankah ada misteri “jangan sepelekan masa lalu dan mengagungkan masa kini ….. karena bisa jadi mereka di masa lalu lebih berintelejensi”. Jangan busungkan dada, karena bukankah dada manusia masa lalu lebih busung a.k.a badannya gede bak raksasa dibanding jaman kini 🙂

Dari perjalanan hidup Nelson Mandela, ada makna berdamai dengan masa lalu dan kesuraman. Forgive and forget. Maafkan dan lupakan.

Dan bukankah riwayat Rasulullah yang bertaburan juta hikmah adalah sebuah sejarah yang perlu dimaknai.

Karena masa lalu mewarnai masa kini. Dengan sejarah, saya berusaha berjalan di atas kebaikan dan memberi manfaat. Karena tidak mungkin memiliki pribadi sempurna seperti seorang Rasulullah, kenapa kita tidak terus berusaha meniru akhlaknya.

“What man is, only history tells.” … (George Mosse)

Terima kasih guru sejarahku, Bu Halimah Syamsu. Al Fatihah.