“What Man Is, Only History Tells”

quote
Jejak-jejak akan menjadi sejarah | Foto; RIfki Feriandi

Jika ada yang bertanya “Ki, apa pelajaran sekolah yang sampai sekarang bermanfaat?”, saya kok jadi serasa memiliki dilema.

Sebagai seorang engineer yang selama dua puluh lima tahun berkecimpung di bidang teknik sipil dan infrastruktur, seyogyanya pelajaran Matematika dan Fisika lah yang menjadi jawabannya. Logis kan? Lah teori gaya = massa x percepatan, alias hukum Newton yang dipelajari dari sejak sekolah itu terus kepake sampe gede. Apalagi hukum keseimbangan gaya – sigma gaya vertikal = 0, sigma gaya horisontal = 0, sigma momen = 0 – itu mah makanan sehari-hari kan. Itu kan pelajaran Fisika. Sementara Matematika? Penurunan rumus – yang akrab di awal kerja – itu bukannya dari Matematika kan? Belum integral diferensial, yang anehnya dulu itu kok saya sukai ya. Tapi, ternyata sodara, kedua pelajaran itu bukanlah pelajaran yang selalu terngiang dan menentukan hidup ini. Pelajaran itu menentukan pekerjaan saya. Namun, ada satu pelajaran yang impact nya terasa sangat halus … tetapi nyata ada. Itulah pelajaran …. SEJARAH.

What?

Alasannya sederhana sih. Saya dapat nilai 10 untuk mata pelajaran ini. Iya, sodara-sodara. Satu-satunya nilai penuh 10 di buku laporan (rapot). Unbelievable.

“Wow keren. Gimana caranya bisa dapat nilai 10?”, mungkin ada yang bertanya.

Jawaban saya sederhana “Meneketehe. Bingung saya oge”. Apa boleh jadi ya karena saat itu saya menjadi anak kesayangan guru Sejarah? Anak emas Bu Halimah Syamsu? (halah…geer). Atau apa ini buah pedekate Alm Mamam saat itu yang menitipkan anaknya ke Bu Guru yang menjadi wali kelas? Atau memang karena saya pinter nilai ulangannya penuh – da perasaan mah nilai teh jarang dapat seratus. Atau karena sampe sekarang saya masih inget nama gerakan di sejarah Filipina – yang diajarkan saat itu: HUKBALAHAP 🙂 ?. Atau jangan-jangan sebenarnya saya teh mau dijodohin sama anaknya? Hmmm…pegang dagu, ungeuk-unggeuk.

But, anyway. Forget about why. Tapi, rasakan emang apa pengaruhnya.

Entahlah. Kayaknya saya mendapat ‘kutukan’ sejarah. Saya jadi suka pelajaran sejarah dan segala yang berkaitan dengan sejarah. Buku-buku sejarah cukup banyak mewarnai lemari. Bahkan buku sangat tebal yang dibeli dari gaji awal kerja itu pun buku sejarah. Ada perasaan bangga memilikinya. Apalagi kalo sudah menyangkut Perang Dunia 2, kayaknya semangat kalo dapatin buku tentang Hitler. Dan koleksi buku eh majalah berbingkai kuning National Geographic selama sepuluh tahun yang sekarang mulai diikhlasin berganti pemilik itu pun bercerita tentang sejarah, bukan? Apalagi jika menyangkut sejarah Mesir Kuno, Egyptology, wah bisa kalap. Apa mungkin saya salah jalur, bukan menjadi insinyur tetapi menjadi penerus Arkeologis-Egptologys Zahi Hawas?

 

Tapi, dari sejarah saya banyak mendapatkan pelajaran.

Dari Mesir Kuno zaman Fir’aun sampai PDII zaman Hitler, ada banyak nilai kehidupan yang dipetik. Manusia itu harus berbatas. Ambisi harus memikirkan realiti. Di atas sekonyong-konyong bisa menjadi di bawah. Langsung deh ingat do’a “Yaa muqollibal quluuub…..”. Ada yang membolak-balikan kehidupan kita.

Dari satu buah peristiwa G30SPKI, ada penafsiran jaman now dan jaman old, juga ada hikmah yang juga bisa diambil. Kebenaran atau sesuatu itu tergantung sudut pandang. Dan kebenaran hakiki tetap akan nampak pada saatnya.

Pada Piramida di Giza dan Borobudur deket Yogya, bukankah ada misteri “jangan sepelekan masa lalu dan mengagungkan masa kini ….. karena bisa jadi mereka di masa lalu lebih berintelejensi”. Jangan busungkan dada, karena bukankah dada manusia masa lalu lebih busung a.k.a badannya gede bak raksasa dibanding jaman kini 🙂

Dari perjalanan hidup Nelson Mandela, ada makna berdamai dengan masa lalu dan kesuraman. Forgive and forget. Maafkan dan lupakan.

Dan bukankah riwayat Rasulullah yang bertaburan juta hikmah adalah sebuah sejarah yang perlu dimaknai.

Karena masa lalu mewarnai masa kini. Dengan sejarah, saya berusaha berjalan di atas kebaikan dan memberi manfaat. Karena tidak mungkin memiliki pribadi sempurna seperti seorang Rasulullah, kenapa kita tidak terus berusaha meniru akhlaknya.

“What man is, only history tells.” … (George Mosse)

Terima kasih guru sejarahku, Bu Halimah Syamsu. Al Fatihah.

Melongok Dapur Mitsubishi Dalam XPANDER Plant Tour

IMG_20180210_164642
Xpander Plant Tour – dengan topi ditandatangani Rifat Sungkar | Foto: Rifki Feriandi

“Wah, itu mah rahasia dapur”

Sering kita mendengar kalimat itu. Kalimat keengganan untuk menceritakan sesuatu yang dianggap sebagai sebuah rahasia kesuksesan. Padahal, apa benar di dapur itu banyak rahasia?

Tetapi, sepertinya tabu membuka dapur itu tidak terjadi pada hari Rabu, 7 Februari 2018 kemarin. Saat itu, saya bersama belasan rekan dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB) dan Mobil123.com mengunjungi pabrik PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia di kawasan Cikarang. Yap betul. Mitsubishi membuka dapurnya dengan mengundang berbagai komunitas dan blogger untuk melihat proses produksi Xpander, salah satu produk Mitsubishi yang ngehits banget. Kesempatan yang super langka. Tentunya, senang dong. Tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan istimewa ini. Tiga jam perjalanan dari titik berkumpul di fx dan menunggu waktu kunjungan sambil makan di rumah makan Padang Sederhana di kawasan industri GIIC Deltamas, Bekasi ini sama sekali tidak terasa melelahkan.

FB_IMG_1518074180560
Sebagian peserta tur dari Indonesian Blogger Sociopreneur – Mobil123. Fokus di pabrik Mitsubishi Motor yang apik dan bersih. Abaikan perut yang kebetulan sama buncitnya | Foto: Rifki Feriandi

Ternyata, Mitsubishi sengaja membuat acara yang diberi tajuk XPANDER PLANT TOUR ini sebagai ungkapan rasa terimakasih. Seperti diutarakan Mr Kyoya Kondo President Director PT. Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) dalam sambutannya, Plant Tour untuk komunitas dan blogger ini adalah sebagai apresiasi terhadap konsumen dan masyarakat terkait suksesnya produk Xpander. Apresiasi ini ditunjukan juga dengan kehadiran jajaran Dewan Direksi Mitsubishi Motor lainnya dalam pertemuan itu.

IMG_20180207_142740
Mr Kyoya Kondo memberi penjelasan singkat | Foto: Rifki Feriandi

Mau tahu pabrik Mitsubishi dan “dapur”nya itu?

Mitsubishi Plant

Sebelum masuk ke “dapur”, saya ceritakan sedikit mengenai pabriknya. Memasuki kawasan pabrik, saya disambut bangunan yang bersih banget. Saya harus meninggalkan imaji pabrik yang kotor, hitam dan berdebu. Pabrik Mitsubishi ini luas banget. 51 hektar. Diresmikan Presiden Jokowi di tahun 2017, kapasitas produksi pabrik ini mencapai 160 ribu per tahun. Dengan produksi Xpander sebanyak 50 ribu, maka Mitsubishi berrencana melakukan ekspor apda Mei 2018.

IMG_20180207_145211
Rifat Sungkar – Selain keamanan, Xpander mengusung konsep kenyamanan dengan 19 titik penyimpanan. Cocok untuk orang Indonesia | Foto: Rifki Feriandi

“Keren ya, dalam dua tahun sudah mampu ekspor”, sempat saya nyeletuk saat berbicara dengan Mas Rifat Sungkar – pereli nasional yang mejadi Ambassador Mitsubishi -setelah acara penjelasan Direksi di Conference Room. Mas Rifat meralat celetukan saya. “Bukan dua tahun Mas. Masih dalam satu tahun loh”. Oh iya ya. Keren banget euy. Btw, Mas RIfat punya 4 mobil Xpander loh. “Pantas, saya gak kebagian Mas”, canda saya. 🙂

Dalam paparannya, Mas Rifat mengemukakan beberapa hal spesifik tentang pabrik. Satu yang sangat menarik perhatian saya adalah pabrik ini didesain dengan kualitas dan teknologi yang ramah lingkungan. Reduce CO2 dari proses pengecatan dan penggunaan 70% Water Recycle.

IMG_20180207_133838
Konsep Green tidak saja dilihat dari rumput hijau, tapi bahkan pengurangan kadar CO2 dalam proses pengecatan dan penggunaan 70 % air yang didaur ulang. Abaikan foto penulis 🙂 | Foto: Rifki Feriandi

Puantas….. inveronmetnal friendly – nya sudah kentara dari tampilan plant nya.

Tur melihat jeroan dapur Mitsubishi

Saat yang ditunggu akhirnya tiba. Para peserta kunjungan dibagi dalam beberapa bis. Ya, bis yang memudahkan perjalanan dari satu gedung pabrik ke gedung lainnya. Sebelum masuk ke dalam bis, semua peserta diberi informasi aturan yang harus diikuti. Aturan utama adalah tidak berbicara atau mengajak ngobrol pegawai di pabrik dan berjalan di jalur yang telah disediakan. Aturan yang sangat dimengerti demi keselamatan kita sendiri dan semua yang terlibat, karena selama kunjungan, proses produksi tetap berjalan Ada satu aturan yang menarik: dilarang membawa ponsel dan kamera. Ini dimaksudkan tidak boleh mengambil foto atau video selama tur.

“Loh, katanya melongok dapur. Kok gak boleh moto?”. Begitu awal saya berpikir. Tapi yen tak pikir-pikir, logis banget ya. Yang wajar itu melongok “dapur”, tapi kan “resep”nya tidak perlu ditengok lah.

Proses produksi di pabrik ini melewati beberapa tahapan. Stamping, welding, painting, assembling dan quality inspection. Dari mulai pengepressa plat-plat menjadi berbagai bentuk bagian mobil, perangkaian sampai dengan inspeksi kualitas. Meski kapasitas produksi akan ditingkatkan, tapi kualitas tidak boleh berkurang. Begitu pesan yang disampaikan Takao Kato, President Director PT. Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI).

Karena ini menjadi pengalaman pertama saya mengunjungi pabrik mobil, maka saya begitu menikmati berbagai hal yang saya lihat. Susunan rak-rak penyimpanan di kiri dan kanan terlihat sangat rapi dan terstruktur. Mesin-mesin robotik beroperasi dengan otomatis, seperti sebuah orkestra. Menyaksikan mesin robotik melakukan pekerjaan pengelasan dengan presisi di titik-titik las yang sama itu agak sedikit menakutkan bagi saya. Iya, kabel-kabel yang menjuntai dengan lengan-lengan mesinnya itu bak tangan-tangan aliens yang mengambil alih pekerjaan manusia. Memang, tenaga pegawai terlihat sangat sedikit. Hanya di bagian-bagian pengawasan dan bagian-bagian yang membutuhkan skill dan sentuhan human. Di sini sepertinya terlihat bahwa menaikan derajat manusia ke pekerjaan lebih tinggi, dan biarkan pekerjaan berulang dan membosankan dilakukan oleh mesin. Terbukti, bahwa di bagian perakitan, saya melihat tenaga-tenaga pegawai yang terampil dan cekatan sedang beraksi.

Yang sangat saya kagumi adalah bagaimana keselamatan diutamakan. Selain dalam bentuk jalur-jalur jalan khusus untuk pejalan kaki – baik itu pengunjung saat itu atau karyawan yang melintas, pembatas yang jelas antara area kerja dan area umum, juga petugas-petugas yang berjaga di area lintasan mesin di atas rel. Dan…semua area dalam kondisi bersih dan kinclong. Mudah-mudahan ini tidak hanya karena pabriknya masih baru, tetapi sudah menjadi culture perusahaan.

Test drive

Bagian akhir dari kunjungan, komunitas dan blogger diberi kesempatan untuk menjajal performa Xpander. Test drive dilakukan di area Car Pool. Dengan latar belakang mobil-mobil siap kirim yang berjajar rapi, track test drive berupa lintasan lurus, belok, angka delapan sudah tersedia. Ada enam sampai sepuluh mobil yang disiapkan untuk diuji coba, baik itu mobil matic atau manual. Tentunya, tiap mobil dipandu oleh tim Rifat Drive Labs. Peserta bisa menjadi penumpang, dan satu orang di antaranya bisa berkesempatan menjadi driver untuk mengetahui beberapa keandalan Xpander. Karena antrean cukup panjang dan mendapat bagian di akhir, cukuplah saya menjadi penumpang saja. Test yang dilakukan meliputi uji pengereman, suspensi, handling dan radius putar. Tidak lupa juga sebelumnya dilakukan pengenalan pengoperasian mobil. Ini hal utama yang terkadang terlupa saat test drive, karena kita inginnya langsung mengemudi.

27544915_10210606892151842_4120356371285474641_n
Foto bersama blogger Indonesian Social Blogpreneur – Mobil123 dan Brand Ambassador Mitsubishi, RIfat Sungkar | Foto: Ani Berta

Anyway… kunjungan langka ke pabrik peraih peringkat bintang empat ASEAN NEw Car Assessment Program.

Biar Ayah Tidak Sering Marah di Kemacetan

20229262_10213883650308206_8445448922164382962_n.jpg

“Eh Yah, masih ingat gak. Ada mobil gak ngantri minggu lalu” kata si Ade memulai obrolan.

Si Ayah tersenyum. Ni anak ingatannya kuat juga. Iya, si Ayah langsung ingat peristiwa lebih dari seminggu lalu. Kondisi yang sama otw sekolah si Ade di bawah hujan pagi di hari Senin. Tahu sendiri kan macetnya bikin kzl. Dari arah mendekati pom bensin turunan Pamulang 2, satu mobil menarik perhatian si Ayah yang sedang nyetir. Pindah kiri, balik ke jalur kanan, nongol cari peluang menyalip, balik lagi. Gelisah, seperti seorang gadis yang di-php. Pas di turunan, eh dia langsung menyalip antrian mobi-mobil yang sabar – atau dpaksa sabar – dengan kemacetan. Dari posisi kemudi, si Ayah melihat mobil ini mencoba masuk balik ke dalam antrian pas di mulut sebuah komplek yang posisinya terkenal suka macet.

Terbayang, jika si Ayah menjadi driver mobil paling depan, dia langsung membunyikan klaksonnya keras-keras, sekeras tangan mampu menekan. Seperti roket, darah sekonyong terdorong ke kepala, nyaris membuat wajah susah dibedakan dengan si Cepot. Roman wajah yang belakangan kata orang terlihat lebih muda (ahiy…), berubah seratus delapan puluh derajat dengan munculnya urat-urat di leher, dahi dan wajah. Dan detik pun dimulai: teriak ditahan jadi weh kukulutus. Senyum sekonyong menghilang. Dan detik cemberut secemberut-cemberutnya pun juga di mulai. Boro-boro enak dipandang, si Ade saja kayaknya langsung pura-pura tidur.

Hadeuh….. sopan di jalan itu berat jenderal. Selain emosi dalam pekerjaan, ternyata emosi di perjalanan itu beneran membuat senewen. Bertahun-tahun bekerja dan menghabiskan begitu lama waktu di jalanan, si Ayah pun sering mengalami hal seperti itu. Dan mengademkan emosi di jalanan itu beneran berat.

Lalu bagaimana si Ayah bisa berdamai dengan diri sendiri di saat seperti itu?

Ah, kata siapa si Ayah sudah berdamai? Si Ayah juga manusia biasa, ya emosi mah emosi weh lah. Dari pada dipendam nanti bisulan. Tapi setidaknya, emosi yang keluar ditekan sedikit demi sedikit. Salah satu caranya ya ke mana-mana bawa si Ade. Halah….

Si Ayah belajar mengelola emosi itu dari si Ade. Eh, bukan deng, tapi ketika bersama si Ade. Seperti saat macet otw sekolah, mau tidak mau si Ayah tidak bisa dan tidak boleh terlalu ekspresif mengeluarkan emosi. Menyadari ada malaikat kecil tembem di sebelah, membuat respons pertama si Ayah adalah: menghela nafas panjang. Satu kali saja cukup, kalau terlalu banyak nanti disangka latihan taichi. Dan itu cukup ampuh menurunkan derajat kesetaraan wajah dengan si Cepot. (ini penting 🙂 ).

Jika emosi bisa setidaknya diredam dan tidak melonjak tinggi, lalu dimulailah ritual biasa saat mengantar si Ade. Ngobrol. Bedanya, topik obrolan sudah sangat jelas: kenapa pengemudi itu menyalip antrian. Si Ayah memulai obrolannya dengan celetukan kaget. Ya selain untuk menyalurkan energi, juga tanpa sadar memperlihatkan ke si Ade kalau si Ayah juga manusiawi, punya emosi. Dan berhubung si Ade sangat bahagia bersekolah di sekolah Islam ini, si Ayah pun dipaksa harus kaget islami dong. Jaim dikit atuh.

“Astaghfirullah. Ya Allah…. itu tuh kenapa sih De”. Begitu kira-kira. Ya, gak harus seluruh bacaan dikeluarin lah, normal saja. Tapi ini juga membiasakan diri si Ayah mengucapkan kalimat yang bagus bukan.

Si Ayah gak langsung mengikutinya dengan do’a “Ya Allah, semoga pengemudinya diberi hidayah kesadaran agar kembali ke jalan yang benar, antri dengan baik”. Gak lah. Meski langkah itu bagus sekali, tapi kan gak seru. Jangan-jangan obrolan dengan anak itu selesai sebelum dimulai. Makanya si Ayah suka lanjutin dengan sebuah kata tanya: “kalo kata Ade, kenapa coba dia ngebut, nyerobot antrian?”. Lalu muncullah berbagai jenis argumentasi di kepalanya. Ini saat yang sangat spesial bagi si Ayah. Melihat mulutnya komat-kamit bicara, di antara dua pipinya yang tembem memerah menggemaskan itu priceless. Apalagi kalo memahami apa yang dia ucapkan, si Ayah terkadang takjub. “Kok, si Ade kepikiran ya seperti itu”, “Kok ya bener ya argumentasi dia”.

Setelah itu, baru si Ayah mengeluarkan argumennya. Dan… si Ayah biasanya kasih argumentasi yang lucu. Ya, galak-galak gini juga si Ayah teh lucu da.

“Kalo kata Ayah mah, dia itu lagi kebelet”, sambil terus nyanyiin lagunya kebelet pipis yang dulu benci banget dengernya (kabarnya si penyanyi cilik itu sekarang sudah menjadi remaja ganteng). Lalu, mobil jadi hangat dengan ketawanya si Ade. Dia kadang mencubit atau “menempeleng” Ayah.

“Kalo kata Ade mah bukan kebelet pipis, tapi kebelet pup”.
“Bukan pup, ee kali de”
“IIh Ayah joroook”
“Ato mungkin istrinya mau ngelahirin”
“Tapi kenapa gak pake ambulan ya Yah?”
“Meneketehe, emang Ayah suaminya?”
“atao mobil jenasah. Tapi kenapa kalo mobil jenasah alannya kenceng-kenceng Yah. Kan di dalamnya orang sudah meninggal?”
“Mungkin ngangkut orang yang sakit atuh De.

Lalu dia merespon dengan tebak-tebakan. Lalu menjadi plesetan.

“Ato juga mobil jenasahnya dipake buat orang kondangan. Tahu gak kondangan apa? Itu loh De yang suka dipukul-pukul bareng alat musik yang namanya gamelan”.

Lalu menjadi heboh dengan kelucuan, ketawa dan ujug-ujug kita sudah di pelataran sekolah. Padahal, beneran macetnya itu ruar biasa, apalagi dengan sebab si pengemudi sialan itu (lamat-lamat malaikat kecil itu teriak “eeeh Ayaaah!!!). Iya, kita terlambat lima menit sih, tapi kan mood kita masih tetap positif. Bayangin kalo si Ayah marah-marah terus, itu bisa seharian mood seluruh keluarga berantakan.

Itu yang sekarang si Ayah lakukan jika terjadi kemacetan, meski tanpa si Ade di sebelah. Si Ayah menyibukkan diri dengan bermain “kenapa”, dan mencari-cari alasan-alasan yang lucu-lucu. Pokoknya sibukan dengan berbagai pikiran yang bisa menghindari reaksi-reaksi negatif dari dalam diri. Bagusnya sih memang kembali ke agama, banyak-banyak istigfar dan baca-baca do’a. Tapi manusiawi lah kalo kita pun bisa mengekpresikan emosi diri…tapi dengan santun lah meski sendiri. Karena keseringan bermain dengan “kenapa” ala ala si Ade, lambat laun si Ayah berdamai dengan diri sendiri saat emosi hendak menguasai dalam macet yang mengebiri jalur kanan dan kiri.

Kalo reaksi teman-teman saat macet gimana?