Biar Ayah Tidak Sering Marah di Kemacetan

20229262_10213883650308206_8445448922164382962_n.jpg

“Eh Yah, masih ingat gak. Ada mobil gak ngantri minggu lalu” kata si Ade memulai obrolan.

Si Ayah tersenyum. Ni anak ingatannya kuat juga. Iya, si Ayah langsung ingat peristiwa lebih dari seminggu lalu. Kondisi yang sama otw sekolah si Ade di bawah hujan pagi di hari Senin. Tahu sendiri kan macetnya bikin kzl. Dari arah mendekati pom bensin turunan Pamulang 2, satu mobil menarik perhatian si Ayah yang sedang nyetir. Pindah kiri, balik ke jalur kanan, nongol cari peluang menyalip, balik lagi. Gelisah, seperti seorang gadis yang di-php. Pas di turunan, eh dia langsung menyalip antrian mobi-mobil yang sabar – atau dpaksa sabar – dengan kemacetan. Dari posisi kemudi, si Ayah melihat mobil ini mencoba masuk balik ke dalam antrian pas di mulut sebuah komplek yang posisinya terkenal suka macet.

Terbayang, jika si Ayah menjadi driver mobil paling depan, dia langsung membunyikan klaksonnya keras-keras, sekeras tangan mampu menekan. Seperti roket, darah sekonyong terdorong ke kepala, nyaris membuat wajah susah dibedakan dengan si Cepot. Roman wajah yang belakangan kata orang terlihat lebih muda (ahiy…), berubah seratus delapan puluh derajat dengan munculnya urat-urat di leher, dahi dan wajah. Dan detik pun dimulai: teriak ditahan jadi weh kukulutus. Senyum sekonyong menghilang. Dan detik cemberut secemberut-cemberutnya pun juga di mulai. Boro-boro enak dipandang, si Ade saja kayaknya langsung pura-pura tidur.

Hadeuh….. sopan di jalan itu berat jenderal. Selain emosi dalam pekerjaan, ternyata emosi di perjalanan itu beneran membuat senewen. Bertahun-tahun bekerja dan menghabiskan begitu lama waktu di jalanan, si Ayah pun sering mengalami hal seperti itu. Dan mengademkan emosi di jalanan itu beneran berat.

Lalu bagaimana si Ayah bisa berdamai dengan diri sendiri di saat seperti itu?

Ah, kata siapa si Ayah sudah berdamai? Si Ayah juga manusia biasa, ya emosi mah emosi weh lah. Dari pada dipendam nanti bisulan. Tapi setidaknya, emosi yang keluar ditekan sedikit demi sedikit. Salah satu caranya ya ke mana-mana bawa si Ade. Halah….

Si Ayah belajar mengelola emosi itu dari si Ade. Eh, bukan deng, tapi ketika bersama si Ade. Seperti saat macet otw sekolah, mau tidak mau si Ayah tidak bisa dan tidak boleh terlalu ekspresif mengeluarkan emosi. Menyadari ada malaikat kecil tembem di sebelah, membuat respons pertama si Ayah adalah: menghela nafas panjang. Satu kali saja cukup, kalau terlalu banyak nanti disangka latihan taichi. Dan itu cukup ampuh menurunkan derajat kesetaraan wajah dengan si Cepot. (ini penting 🙂 ).

Jika emosi bisa setidaknya diredam dan tidak melonjak tinggi, lalu dimulailah ritual biasa saat mengantar si Ade. Ngobrol. Bedanya, topik obrolan sudah sangat jelas: kenapa pengemudi itu menyalip antrian. Si Ayah memulai obrolannya dengan celetukan kaget. Ya selain untuk menyalurkan energi, juga tanpa sadar memperlihatkan ke si Ade kalau si Ayah juga manusiawi, punya emosi. Dan berhubung si Ade sangat bahagia bersekolah di sekolah Islam ini, si Ayah pun dipaksa harus kaget islami dong. Jaim dikit atuh.

“Astaghfirullah. Ya Allah…. itu tuh kenapa sih De”. Begitu kira-kira. Ya, gak harus seluruh bacaan dikeluarin lah, normal saja. Tapi ini juga membiasakan diri si Ayah mengucapkan kalimat yang bagus bukan.

Si Ayah gak langsung mengikutinya dengan do’a “Ya Allah, semoga pengemudinya diberi hidayah kesadaran agar kembali ke jalan yang benar, antri dengan baik”. Gak lah. Meski langkah itu bagus sekali, tapi kan gak seru. Jangan-jangan obrolan dengan anak itu selesai sebelum dimulai. Makanya si Ayah suka lanjutin dengan sebuah kata tanya: “kalo kata Ade, kenapa coba dia ngebut, nyerobot antrian?”. Lalu muncullah berbagai jenis argumentasi di kepalanya. Ini saat yang sangat spesial bagi si Ayah. Melihat mulutnya komat-kamit bicara, di antara dua pipinya yang tembem memerah menggemaskan itu priceless. Apalagi kalo memahami apa yang dia ucapkan, si Ayah terkadang takjub. “Kok, si Ade kepikiran ya seperti itu”, “Kok ya bener ya argumentasi dia”.

Setelah itu, baru si Ayah mengeluarkan argumennya. Dan… si Ayah biasanya kasih argumentasi yang lucu. Ya, galak-galak gini juga si Ayah teh lucu da.

“Kalo kata Ayah mah, dia itu lagi kebelet”, sambil terus nyanyiin lagunya kebelet pipis yang dulu benci banget dengernya (kabarnya si penyanyi cilik itu sekarang sudah menjadi remaja ganteng). Lalu, mobil jadi hangat dengan ketawanya si Ade. Dia kadang mencubit atau “menempeleng” Ayah.

“Kalo kata Ade mah bukan kebelet pipis, tapi kebelet pup”.
“Bukan pup, ee kali de”
“IIh Ayah joroook”
“Ato mungkin istrinya mau ngelahirin”
“Tapi kenapa gak pake ambulan ya Yah?”
“Meneketehe, emang Ayah suaminya?”
“atao mobil jenasah. Tapi kenapa kalo mobil jenasah alannya kenceng-kenceng Yah. Kan di dalamnya orang sudah meninggal?”
“Mungkin ngangkut orang yang sakit atuh De.

Lalu dia merespon dengan tebak-tebakan. Lalu menjadi plesetan.

“Ato juga mobil jenasahnya dipake buat orang kondangan. Tahu gak kondangan apa? Itu loh De yang suka dipukul-pukul bareng alat musik yang namanya gamelan”.

Lalu menjadi heboh dengan kelucuan, ketawa dan ujug-ujug kita sudah di pelataran sekolah. Padahal, beneran macetnya itu ruar biasa, apalagi dengan sebab si pengemudi sialan itu (lamat-lamat malaikat kecil itu teriak “eeeh Ayaaah!!!). Iya, kita terlambat lima menit sih, tapi kan mood kita masih tetap positif. Bayangin kalo si Ayah marah-marah terus, itu bisa seharian mood seluruh keluarga berantakan.

Itu yang sekarang si Ayah lakukan jika terjadi kemacetan, meski tanpa si Ade di sebelah. Si Ayah menyibukkan diri dengan bermain “kenapa”, dan mencari-cari alasan-alasan yang lucu-lucu. Pokoknya sibukan dengan berbagai pikiran yang bisa menghindari reaksi-reaksi negatif dari dalam diri. Bagusnya sih memang kembali ke agama, banyak-banyak istigfar dan baca-baca do’a. Tapi manusiawi lah kalo kita pun bisa mengekpresikan emosi diri…tapi dengan santun lah meski sendiri. Karena keseringan bermain dengan “kenapa” ala ala si Ade, lambat laun si Ayah berdamai dengan diri sendiri saat emosi hendak menguasai dalam macet yang mengebiri jalur kanan dan kiri.

Kalo reaksi teman-teman saat macet gimana?

5 Lagu Hari Ibu Terbaik Pilihanku

Banyak status berisi puisi untuk ibu atau foto bersama ibu hari ini. Ya, hari ini adalah Hari Ibu. Masih tanggal 22 Desember.

Namun, kali ini saya tidak berpuisi atau berfoto bersama ibu. Hari Ibu ini saya ingin mengoleksi lagu-lagu bertema Ibu yang terkeren yang pernah saya dengar – termasuk yang jadul bingits.

So….Siapin tissue ya. Jangan malu jika matamu berair. Mudah-mudahan itu tanda sayangnya kita kepada Ibu.

  1. Iwan Fals – Ibu

Tidak perlu penjelasan panjang lebar, lagu Bang Iwan ini keren pisan. Coba kita resapi liriknya…..mewek kita.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

2. Heintje – Mama

Ini lagu berbahasa Belanda. Jadul sekali. Kenal lagi ini pada saat masih kecil, di mana Ibu masih sering berbicara bahasa Belanda sepatah dua patah kata dengan Tante Elsje, tetangganya. Lagu ini sering banget saya dengar lewat Radio Mara – Bandung, dibawakan oleh Mbak Gulia.

Lirik lagu ini, terjemahan dalam Bahasa Inggris, rasanya cocok sekali dengan apa yang terjadi.

Mama, (you) shouldn’t cry for your boy
Mama, someday fate will reunite us
I’ll never forget
What I had in you
That on earth there’s only one
Who loved me so passionately
Mama,
And when life also brings me pain and suffering
Then I only think of you
It prays for me, oh Mama, your heart,
Days of youth pass by
Quickly the boy becomes a man
Dreams of youth blow away
That’s when life really begins
Mama, I don’t want to see tears
When I have to leave you

3. Edi Silitonga – Mama

Ini juga lagu jadul, yang dulu sering didengar. Yang menyanyikannya adalah Edi Silitonga, penyanyi terkenal era 70-80an, yang telah meninggal Agustus 2016 ini.

Lirik lagu ini sangat sederhana, berulang. Tipikal lirik jaman baheula.

mama…
kembalilah padaku
hanyalah dirimu
harapanku, oh mama
mama…
kembalilah padaku
hanyalah dirimu
pelita hidupku
mama, oh mama…
apalah artinya
hidup tanpa
kasih sayang
mama, oh mama…
betapa nistanya
hidup tanpa
mama….

4. Celine Dion – Because You Love Me

Sewaktu saya search google, saya tidak menyangka jika lagu ini ternyata bisa dikaitkan dengan Ibu. Tapi, setelah dibaca liriknya, oh dear, menyentuh banget. Sila perhatikan liriknya, dan dekatkan dengan apa yang Ibu telah lakukan.

For all those times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I’ll be forever thankful baby
You’re the one who held me up
Never let me fall
You’re the one who saw me through through it all
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ‘coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
You gave me wings and made me fly
You touched my hand I could touch the sky
I lost my faith, you gave it back to me
You said no star was out of reach
You stood by me and I stood tall
I had your love I had it all
I’m grateful for each day you gave me
Maybe I don’t know that much
But I know this much is true
I was blessed because I was loved by you
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ‘coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
You were always there for me
The tender wind that carried me
A light in the dark shining your love into my life
You’ve been my inspiration
Through the lies you were the truth
My world is a better place because of you
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ‘coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
I’m everything I am
Because you loved me

5. Said Effendi – Surga di telapak kaki ibu

Lagu ini khususon buat Ibu (alm). Beliau menyukai Said Effendi. Pujangga tahun 60an – mungkin. Said Effendie membawakan (dan menulis) beberapa lagu yang sampai sekarang sering dinyanyikan. Meski terkesan jadul, namun lirik lagunya begitu dalam. Tidak perlu saya salin di sini ya. Silakan simak.

Ada satu lagu lagi. Lagu ini adalah lagu Barat, yang sebenarnya tidak bercerita tentang ibu sama sekali. Namun, saya suka sekali musiknya. Makanya, saya ubah syair lagunya sehingga cocok dengan apa yang terjadi – yaitu tentang saat-saat terakhir saya bersama ibu.

Lagu dari Roberta Flack, dengan syair yang diubah, dari judul First time ever I saw your face.


Alangkah bahagianya jika andaikan ada yang mau menyanyikannya untukku.

‘Last time ever I saw your face’ – Saat-saat terakhir aku lihat wajahmu

The last time ever I saw your face
I thought the sun set in your eyes
And the moon and the stars gone with you to grave
At that dark and endless skies, my Mom
To my dark and the empty skies
And the last time ever I kissed your head
I felt the earth move around
Like a trembling heart of your returned son
That was there to see you not there
You were gone at HIS command, my Mom
And the last tine ever I saw you there
I felt my heart so broken down
But I knew your love would fill my world
And last till the end of time, my Mom
And it would last till end of time, my Mom
The last time ever I saw your fave
Your face
Your face
Your face

Ketika transaksi tanpa uang tunai membuat hidup damai

Gerakan Nasional Dompet Tipis

bar8_1bceaaybya
Dompet tipis? No worries | Foto: https://mobile.twitter.com/orororo_/status/406589726926192640/photo/1

‘Yah, tolong transferin dong uang buat kost si Kakak’. Itu permintaan istriku, saat dia ingat belum bayar uang kost si sulung, sementara dia sedang menjemput si bungsu.

‘Yah, beliin pulsa dong. Yayas gak sempet ke warung’. Ini permintaan giliran dari si kakak – si sulung – yang lagi kuliah dengan kesibukan yang lebih dari wanita karier. Dia kuliah di kota lain, satu setengah jam penerbangan dari Jakarta.

‘Yah, order makan dong buat si Ade. Hujan gede di sini’. Itu permintaan buat si bungsu dari istriku di rumah sementara ayahnya sedang berada jauh di Tasikmalaya.

Atas tiga tipe pertanyaan seperti itu, saya sebagai ayahnya menjawabnya dengan santai dan mantap. ‘Okay’. ‘Siapp!!!’. ‘No worries’.

bill
Kakak minta pulsa | Foto: Rifki Feriandi

Padahal…..dompet si Ayah tipis. Beneran. Si Ayah jarang bawa uang kertas banyak-banyak. Tapi….. Dompet tipis? No worries. Keluarga tidak usah khawatir, karena si Ayah memenuhi permintaan mereka tanpa mengeluarkan uang tunai. Hanya berbekal smartphone – yang layarnya sebenarnya sudah sedikit retak jatuh mulu 😁 – semuanya bisa dipenuhi.

Cara mudah menjalankan amanah

Untuk menjalankan amanah keluarga itu, si Ayah kali itu menggunakan kemudahan berupa aplikasi dari bank yang ada di telepon genggamnya untuk melakukan transaksi tanpa uang tunai. Awalnya si Ayah suka memakai internet banking. Tapi sekarang, mobile banking adalah pilihannya. Dengan aplikasi itu, si Ayah bisa mengirimkan uang (transfer) seperti yang diminta si ibu, atau melakukan pembelian pulsa seperti diminta si Kakak. Pembayaran? Mau bayar tagihan apa, coba? Listrik? Air? Kartu kredit? Atau bahkan pajak? Semua bisa dilakukan melalui mobile banking.

img_4124
Non tunai dalam genggaman | Foto: Rifki Feriandi

Mobile banking atau internet banking dikombinasikan dengan aplikasi-aplikasi mobile atau internet lainnya dari penyedia jasa juga memudahkan si Ayah dalam banyak hal. si Kakak untuk dibeliin tiket pulang saat liburan nanti, dilakukan si Ayah lewat sebuah situs pembelian tiket. Praktis. Tanpa antri. Bisa mendapatkan banyak pilihan. Dan bisa langsung bayar tanpa ke kasir. Tanpa bawa uang. Transfer saja lewat mobile banking di tangan. Bahkan untuk berwisata pun, termasuk pembayaran penginapan atau hotel dan lainnya pun, dilakukan seperti itu. Praktis. Tidak bawa-bawa duit banyak. Aman. Dan dompet pun tetap terlihat tipis

Cara gampang tanpa uang

Alternatif lain yang bisa si Ayah lakukan adalah menggunakan kartu debit. Si Ayah tinggal pergi ke ATM saja, maka semuanya bisa dilakukan tanpa transaksi tunai.

Di banyak area di perkotaan, lokasi ATM berada di dekat sebuah swalayan. Dengan demikian, si Ayah pun terbiasa memakai kartu debit itu sebagai alat pembayaran. Beli odol atau beras atau belanja bulanan? Pake kartu saja. Dompet hanya dikeluarkan untuk mengambil kartu saja. Tangan tidak perlu susah-susah menghitung uang …dan tidak bersentuhan dengan kuman dari uang kertas yang lecek sambil mengusap ingus. Simpel. Higienis.

kartu-kredit-1
Kredit, debit atau e-money? Pokoknya non tunai deh | Foto: google

Penggunaan kartu juga tidak sebatas kartu debit. Kartu kredit pun banyak membantu membuat gampang. Si Ayah menggunakan kartu kredit biasanya untuk hal-hal yang bersifat darurat saja, seperti saat bepergian ke luar negeri dalam rangka tugas kantor. Alasannya karena si Ayah malas membeli mata uang yang ratenya selalu berfluktuasi dan sering menyakiti hati saat melihat rate jual dan beli yang jomplan. Selain itu, si Ayah juga sering tidak tahu persis berapa mata uang asing yang dibutuhkan untuk hal-hal tidak terduga. Jadi, si Ayah biasanya hanya menukarkan mata uang asing tunai secara terbatas. Cukuplah uang tunai untuk hal-hal yang penting yang tidak bisa dilakukan dengan kartu. Sementara untuk hal lain, bahkan untuk makan pun si Ayah menggunakan kartu kredit. Lagi pula, di luar negeri kartu kredit dengan senang hati diterima untuk banyak transaksi, termasuk bayar taksi dan beli koran. Kartu kredit juga penting untuk jaga-jaga, jika ada sesuatu pengeluaran tidak terduga yang membutuhkan pembayaran. Tanpa membawa uang jaga-jaga ke mana-mana, praktis, gunakan saja kartu kredit. Tenang jadinya.

Meski namanya kartu kredit, si Ayah biasanya tidak gunakan fasilitas kreditnya. Jadi, kalau tagihan muncul, langsung dia bayar. Bayarnya pun tidak pakai tunai. Lewat ATM atau mobile banking saja. Gampang.

Cara praktis transaksi bisnis

Kepraktisan tanpa transaksi tunai pun dirasakan saat berbisnis.

Entah sudah berjalan berapa tahun si Ayah tidak menerima uang tunai saat gajian. Berapa tahun itu pula si Ayah tidak menerima uang gajian dalam amplop atau bahkan tidak menerima kertas slip gaji. Slip dikirim lewat email dan uang gajian langsung ditransfer ke rekening. SI Ayah jadi tidak perlu repot-repot membawa amplop berisi uang untuk disimpan di bank – terkadang dengan deg-degan takut dikuntit perampok. Jika bank penerimanya sama dengan bank yang digunakan oleh kantor tempat bekerja, maka uang itu akan langsung ada di rekening kita langsung saat itu juga.

Di skala lebih besar, pembayaran dari klien ke perusahaan sudah sama sekali tidak dalam bentuk tunai. Beberapa tahun lalu, klien melakukan pembayaran dengan menggunakan cheque atau kertas cek. Uang akan langsung masuk ke rekening tanpa perusahaan menerima uang kertas. Bagian keuangan pihak klien atau pihak perusahaan kita tidak repot-repot menghitung uang, jari tangannya tetap cantik tanpa kena uang-uang lecek (ea…), jadinya mudah pencatatan dan …. susah terjadi penyalagunaan. Namun demikian, kertas cek – yang notabene sebenarnya non-tunai – bahkan sudah jarang dipakai. Sekarang semuanya dilakukan secara non-tunai, transfer. Fasilitas transfer itu pun juga dilakukan oleh para pelaku bisnis usaha kecil dan menengah. Termasuk usaha bisnis makanan si Ayah setelah pensiun dini ini.

img_4125
Bayar listrik, air, kartu kredit bahkan pajak? Tanpa uang tunai pun bisa | Foto: RIfki Feriandi

Cara praktis ini tidak hanya dilakukan untuk bisnis. Transaksi pembayaran berkaitan dengan kewajiban kepada negara – seperti pembayaran pajak, listrik dan sejenisnya, si Ayah sudah lakukan dengan non-tunai. Pembayaran listrik bulanan si Ayah sudah minta otomatis memotong tabungan, sehingga tidak ribet. Bahkan pembayaran pajak mobil pun sekarang sudah dilakukan non-tunai. Bebas pungli, bebas penyelewengan, mudah pencatatan, menciptakn transparansi dan good governance. Keren kan.

Cara hemat keuangan sehat

Kata siapa sih penggunaan non-tunai itu boros? Si Ayah kok mendapati sebaliknya. Buktinya, adalah saat si Ayah memenuhi permintaan membeli makanan untuk si Ade saat si Ibu tidak bisa melakukannya karena hujan besar. Si Ayah order pesanan lewat ojek aplikasi. Pilih pesanan. Promo gratis ongkos antaran. Sampe rumah aman. Hemat di waktu, hemat di ongkos. Bahkan sekarang si Ayah kalau bepergian hobi pakai ojek aplikasi, karena irit sekali – apalagi jika ada diskon 50% karena si Ayah mentransfer uang untuk disimpan (top-up). Tanpa kartu. Tanpa uang. Lancar. Hemat. Keuangan sehat.

img_4128
Sudah ongkos murah, diskon gede, gak ribet lagi. Untungnya non-tunai | Foto: Rifki Feriandi

Memang sih bisa terjadi jika justru karena non-tunai menjadikan segalanya mudah malah membuat kita semakin konsumtif. Apa-apa dibeli. “Tapi, da itu mah bagaimana kitanya atuh”.

Less cash, keren yes?

Dari aktivitas seperti di atas, praktis si Ayah sudah sangat mengurangi penggunaan uang tunai. Secara kasaran, diperkirakan paling tidak sudah terjadi penurunan intensitas si Ayah bersentuhan dengan uang kertas sekitar 60%. Sisa 40% mau tidak mau harus bertransaksi tunai, yang umumnya karena ketiadaan infrastruktur pembayaran. Berbelanja di pasar basah, beli bubur dan sejenisnya di abang penjual dorong. Juga sedekah ke pengemis. Bahkan, uang berbentuk koin pun si Ayah masih gunakan. Ini penting loh….buat pak Ogah :).

Dengan minimal 60% transaksi dilakukan non-tunai, sebanyak persentasi nominal itu pula si Ayah tidak menggunakan uang. Itu berarti, kemungkinan si Ayah mendapatkan uang palsu menjadi lebih sedikit. Bisa dibayangkan, jika potensi penggunaan non-tunai secara merata tinggi, maka penipu-penipu pembuat uang palsu akan gigit jari. Lha, peluang penyebaran uang palsunya kan menjadi berkurang. Di sini ktia bisa berkata “kacian deh lu”.

ini-yang-perlu-anda-lakukan-jika-ketemu-uang-sobek-lecek-dekil
Uang lecek? Sudah lama tuh gak pegang 🙂 | Foto: merdeka.com

Juga, dengan melakukan transaksi non tunai, maka sebanyak nominal seperti itu pula uang kertas yang beredar berkurang. Artinya, si Ayah secara langsung membantu pemerintah mengurangi kebutuhan uang yang beredar.  Dari pengurangan kebutuhan uang beredar itu, maka pemerintah bisa mengurangi penarikan uang lusuh. In berujung menghemat biaya pencetakan uang baru. Juga menekan biaya handling (biaya pengelolaan) uang tunai . Artinya secara tidak langsung, si Ayah telah membantu pemerintah melakukan efisiensi keuangan negara. Aiiih. Si Ayah keren ya.

Less cash. Keren yes? Ting.

Tanpa dirimu, aku tak berarti

Pernah mendapatkan kutipan seperti ini?

Me without you is like….
…facebook with no friends
…youtube with no videos
…and google with no results

Iyes. Tanpamu, aku tak berarti. Tanpamu, gerakan non tunai itu tidak berarti.

Iya. Kamu? Me? You? Warga yang berdomisili di Indonesia, desa maupun kota.

Apalah artinya seorang si Ayah sendirian dalam melakukan transaksi non tunai dalam aktivitas kesehariannya? Alangkah egoisnya si Ayah yang mendapatkan segala kemudahan dan manfaat transaksi non tunai itu tanpa mengajak-ajak yang lain? Alangkah teganya si Ayah mendapatkan diskon 50% potongan biaya atau mendapatkan kecepatan transaksi mendapatkan tiket kereta, sementara kawannya sabar mengantri seperti ular tak berbuntut? Kejam! 🙂

Tapi, sebenarnya si Ayah sudah dapat teman banyak, umumnya di kota besar seperti Jakarta. Di kota-kota besar di mana perputaran ekonomi cukup kencang, ditandai dengan hadirnya layanan-layanan perbankan dan telekomunikasi, aktivitas non-tunai sudah banyak dilakukan.

mandiri-content
Kemudahan layanan non-tunai di perkotaan. Segera juga di pedesaan | Foto: bankmandiri

Namun di daerah-daerah atau pelosok-pelosok, transaksi tunai masih merajai. Merajanya transaksi tunai sepertinya umumnya terjadi karena ketidaknyamanan masyarakat untuk menggunakan peranti non-tunai karena ketidaktahuan mereka. Bisa jadi ketradisionalan pola pikir serta pengaruh budaya dan latar belakang kehidupan pribadi sangat berpengaruh. Dan yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mau melakukan transaksi non-tunai jika mereka tidak mendapatkan akses kepada layanan perbankan atau “belum terjamah” produk perbankan?

Iya. Tanpamu, aku tak berarti. Betul. Tanpamu, wahai pemerintah.

Gerakan non tunai ini tidak akan berarti tanpa turut campur pemerintah.

Ada tiga hal yang penting dilakukan pemerintah utuk itu sehingga gerakan non tunai itu menjadi gerakan nasional, tidak berkutat di kota-kota besar. Tiga hal penting yang harus dilakukan agar lebih banyak lapisan masyarakat yang mendapatkan manfaatnya. Tiga hal itu, saya sebut tiga “I”:

  1. Infrastruktur

Penyediaan infrastruktur adalah hal vital, baik infrastruktur fisik maupun infrastruktur perbankan

Infrastruktur fisik penting untuk menggairahkan ekonomi di daerah tersebut, sehingga menarik bagi perbankan untuk hadir di sana. Hal yang perlu didukung ketika Pemerintah memang sedang gencar membangun infrastruktur – seperti jalan raya dan pelabuhan laut serta udara – ke pelosok-pelosok daerah. Diharapkan, ekonomi akan berkembang di seluruh Nusantara secara merata. Dengan demikian peredaran uang tidak hanya terpusat di Jakarta dan kota-kota besar saja di Pulau Jawa seperti selama ini terjadi.

infrastruktur-jokowi_infografis_detikfinance
Pembangunan infrastruktur di era Jokowi | Sumber: Bapenas

Dengan tumbuhnya perekonomian di daeran akibat dari pengembangan infrastruktur, maka akan mempermudah tumbuhnya minat institusi perbankan untuk tumbuh di daerah-daerah tersebut, yang berujung masyarakat mendapatkan akses lebih luas kepada produk perbankan dengan keamanan yang makin meningkat. Penetrasi bank pelat merah dengan penyediaan lebih banyak ATM untuk melakukan transaksi non-tunai adalah salah satu contohnya.

jumlah-atm-di-indonesia
Dibutuhkan lebih banyak ATM di daerah | Sumber dari https://sharingvision.com

Jangan juga dilupakan peran pengembangan infrastruktur telekomunikasi. Menurut survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) dan diberitakan di kompas, lebih dari setengah penduduk Indonesia (132 juta orang tahun 2016) sudah terhubung ke internet. Sementara itu, kominfo.go.id. mengemukakan bahwa pengguna aktif smartphone di Indonesia para 2018 diperkirakan sebesar 100 juta orang. Namun demikian, survey juga memperlihatkan bahwa penggunaan teknologi seperti itu masih berkutat di Pulau Jawa. Pekerjaan penting untuk menyediakan fasilitas telekomunikasi ke pelosok daerah mengikuti perkembangan infrastruktur fisik.

picture1
Pengguna internet masih terfokus di Jawa | Dioleh dari data APJII
  1. Integrasi industri pembayaran dan integrasi infrastruktur

Integrasi industri pembayaran penting untuk memperbanyak dan mempermudah dalam pelayanan perbankan. Karena masyarakat – sebagai konsumen – adalah raja, maka hindari masyarakat merasa kecewa dengan layanan non-tunai perbankan yang diakibatkan oleh ketiadaan integrasi industri pembayaran, perbankan dan penyedia layanan penjualan. Ketiadaan integrasi bisa dalam bentuk penolakan transaksi non-tunai, bea tambahan atau kelambatan pelayanan. Dengan integrasi, maka efisiensi sistem pembayaran bisa didapatkan serta konsumen mendapatkan perlindungan.

Alhamdulillah, kerjasama antara pemangku kepentingan keuangan (pemerintah) – dalam hal ini Bank Indonesia sebagai regulator dan Otoritas Jasa Keuangan selaku pengawas, dan pelaku usaha perbankan – termasuk penerbit kartu kredit dan e-money, dan dunia usaha pada umumnya sudah dimulai. Bank Indonesia juga sudah mulai mengintegrasikan dan memperkuat  kelembagaan industri pembayaran dengan mendirikan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan Asosiasi Penyelenggara Pengiriman Uang (APPUI)

427780_620
Integrasi infrastruktur Transjakarta dan Commuter dalam memakai layanan non-tunai | Foto: tempo.com

Sementara itu integrasi infrastruktur pastinya akan sangat berkontribusi memberikan kemudahan kepada konsumen dan memberi efek menarik dalam penggunaan non tunai. Contoh yang paling gampang adalah infrastrutktur yang yang terintegrasi antar moda transportasi di Jakarta, Commuter Line – Transjakarta, dengan menggunakan e-money yang dikeluarkan bank nasional. Juga kemudahan e-money digunakan

  1. Informasi

Faktor “I” terakhir ini sangat penting. Kedua faktor I di atas tidak akan efektif jika tidak ada informasi kepada masyarakat. Masyarakat butuh pemahaman tentang apa itu non-tunai, apa keuntungan, apa kemudahan dan segala hal positif yang berkaitan. Penjelasan tentang kebutuhan masyarakat dalam hal perpindahan dana secara cepat, aman dan efisien perlu lebih digaungkan. Juga jawabannya dalam bentuk program perbankan dengan berbagai fasilitas kemudahan dan semakin tiada batasnya. Informasi yang sesuai dengan budaya setempat akan sangat memudahkan gerakan ini berjalan, sehingga masyarakat nyaman untuk beralih tidak memegang uang dalam transaksi, bahkan untuk transasi mikro sekalipun. Penyediaan informasi sudah dilakukan dalam GNNT dengan kerjasama bersama Kompasiana dan Net.tv. Namun, ada baiknya juga GNNT mulai menggandeng dan memanfaatkan media televisi da rdio daerah yang sejatinya bisa menggapai pelosok lebih jauh.

gopego_newman_radios_bluetooth_03
Radio atau mobile phone, selain teve dan suratkabar, sebagai media informasi | Foto:gopego

Satu hal lain yang sangat perlu diperhitungkan dalam memberika informasi kepada masyarakat adalah bahwa Gerakan Non Tunai bukanlah untuk menghilangkan transaksi tunai, tetapi mengurangi transaksi tunai. Gerakan ini adalah untuk menuju Less Cash Society, bukan Cashless Society. Kejelasan ini diperlukan agar tidak ada kekhawatiran masyarakat traditional dengan perubahan gaya hidup dalam bertransaksi.

Bantuan Langsung Non-tunai

Di luar tiga “I” yang penting di atas, hal terakhir bisa jadi juga diperlukan: Bantuan Langsung. Kali ini bukan dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk lain untuk memperlancar transaksi non-tunai. Itulah BLNT : Bantuan lagsung non-tunai.

freewifi22
Bantuan Langsung Non-Tunai | Foto: google

Bantuan ini akan sangat membantu terlaksananya program ini. Bukan bantuan langsung untuk masyarakat miskin. Tetapi bantuk untuk “fakir pulsa”. Bantuan ini pun bukan dalam bentuk BPL – Bantuan Pulsa Langsung, melainkan justru memperbanyak area yang mendapatan sinyal secara wifi yang gratis. Wifie gratis di tempat-tempat umum sangat membantu masyarakat untuk beralih ke non-tunai. Bantuan seperti ini akan sangat membantu target konsumen, terutama generasi yang melek internet. Pilih lokasi yang strategis, seperti di perpustakaan umum atau mesjid atau taman-taman. Strategis dong, sambil meramaikan mesjid atau perpustakaan, juga membantu masyarakat beralih ke non-tunai.

143600_tamanwifi
Lokasi wifi di taman-taman atau mesjid atau perpustakaan | Foto: http://muhfauzanp.blogspot.co.id/2014/11/bandung-smart-city.html

Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Ah, alangkah damainya hidup dengan transaksi non-tunai. Banyak kemudahan. Banyak manfaat. Mudah lagi.

Yooook, beralih ke non-tunai, teman-teman.