Kriiiing….. Hallow!!!

Pagi hari, di kereta Sudirman. Jam 07:30. Selesai baca koran, saya lemparkan pandangan ke sekeliling. Saya melihat dua orang bapak berpenampilan rapi – khas pegawai bank – sedang berdiri menunduk, melihat ke arah handphone ditangannya. Mereka yang berdiri bersebelahan satu sama lain sedang sibuk menulis sms.

Persis membelakangi mereka, dua orang anak muda berwajah segar – khas mahasiswa – pun sedang berdiri menunduk dengan blackberry di tangannya. Yang satu sedang mengecek facebook, satunya lagi main game. Itu yang terlihat dengan sudut mata saya.

Menarik, empat orang secara bersamaan, dalam satu area berdekatan, sama-sama menunduk, sibuk dengan handphonenya.

Sore hari, di kereta Ciujung, jam 19.30. Tiga orang perempuan, dengan dandanan kantor yang sudah kusut – pegawai pulang kantor – sedang berdiri menunduk, dengan handphone berbeda warna dan jenis di tangannya. Di depannya, seorang ibu sambil duduk juga menunduk, tersenyum sambil membaca layar di tangannya. Sementara berdiri di kejauhan, seorang muda – eksekutif – bersenda gurau dengan telepon di telinganya.

Di dua kesempatan itu pula pandangan saya berkeliling. Saya perhatikan mereka satu per satu yang bisa dijangkau mata. Saya sedikit surprise – meskipun sudah menduga -menemukan kenyataan bahwa kebanyakan dari mereka memiliki handphone – telepon genggam. Entah itu terlihat karena memang digenggam, dimasukan sarung di ikat pinggang, di saku kemeja, saku celana, atau bahkan banyak ibu yang mengeluarkannya dari tas kerjanya.

Yang memilikinya pun begitu beragam, dari orang yang mau dibilang eksekutif, pegawai biasa, pegawai pemda, mahasiswa, anak sekolah sampai yang berwajah – maaf – rasanya tidak sesuai antara penampilan dengan blackberry di tangan. Jenisnya pun beragam, saking beragam sampai saya gak ngerti. Anehnya anak remaja seusia anak saya yang baru masuk SMP malah hapal jenis-jenisnya.

Pertanda apakah ini. Katanya kita sedang dilanda krisis, tapi gak terlihat tuh. Saya bahkan punya teori. Jika seseorang mau mengadakan survey tentang efek krisis, jangan mengadakan survey banyaknya pemakai handphone di kereta. Pun jika ingin mengetahui jumlah orang yang punya hape di seluruh gerbong KRL Sudirmanpun, jangan hitung jumlah orang yang memilikinya. Lebih mudah menghitung orang yang tidak memilikinya. Silakan juga tanya secara acak, berapa orang yang memiliki hape lebih dari satu. Atau tanya berapa orang yang pernah kehilangan hape lebih dari satu. Atau bahkan tanya pula berapa orang yang memiliki hape yang tidak dipakai di rumahnya.

Jadi, apa artinya semua ini?

Jelas bagi saya, bahwa abad sekarang adalah abad informasi dan teknologi. Bayangkan setumpuk buku bisa ditampung dalam segenggam hape. Sekarung CD atau kaset bisa diselipkan dalam setelapak hape. Selusin album foto bisa ditaruh dan di atur di dalam barang setipis hape. Kurang apa lagi coba? Bahkan sebuah komputerpun bisa disulap menjadi begitu mini kurang dari sejengkal, lengkap dengan game dan video.

Jelas juga bagi saya bahwa di negeri ini – terutama di Jakarta – kehidupan sepertinya tidak terkena dampak ekonomi. Eksekutif punya blekberi, mahasiswa punya iPhone, pelajar punya Nokia dan ibu rumah tangga punya Samsung. Sudah biasa sekarang ini, para pembantu rumah tangga di sore hari berkumpul membicarakan hape, bukan lagi membicarakan menu makanan esok hari atau perbincangan mengenai abang sayur yang punya affair dengan Bi Sumi. Bahkan sekarang pemulungpun punya hape seken buatan Cina.

Jelas lainnya adalah seperti ini. Bukan hape namanya jika tanpa pulsa. Hape tanpa pulsa sama saja dengan hape mainan yang dibeli di perempatan. Dan bukan pulsa kalau tidak dibeli (hari gini pinjam hape, ck…ck….). Dan bukan beli kalo tidak pake uang (hari gini barter, please deh). Gimana pake uang kalo tidak punya duit di saku , dompet, tas, lemari (hari gini nyopet!.).

Kesimpulan cepat dan sederhananya adalah “punya hape ya punya duit”. Kalau pemulung punya hape, artinya sekelas pemulung sudah punya duit, arti cepatnya “makmurlah negara kita”. Enak ya kalau mengambil kesimpulan seperti ini.

Jelas juga bagi saya bahwa masyarakat sekarang sudah tidak gagap teknologi. Dua puluh tahun lalu saja, saya masih gugup jika memakai telepon umum. Bahkan saat itu pelajaran komputer baru diajarkan di tingkat satu, institut sekelas ITB. Namun sekarang, saya mengerti memakai facebook di hape pun dari anak remaja usia SMP.

Jelas juga bagi saya jika sekarang banyak orang yang tidak bisa hidup sendirian – nah ini yang menarik.

Punya hape bisa diartikan bahwa seseorang itu contactable, bisa dikontak di mana saja. Entah mereka merasa sebagai orang pentingkah, atau orang populerkah atau bahkan mungkin bertipe budak, yang harus dimonitor di mana pun dia berada – seperti seorang suami takut istri – hape begitu penting bagi orang seperti ini.

Arti lainnya adalah bahwa orang tersebut suka berbicara dan mengobrol, istilah sebuah iklan ‘sampai dower’. Ngobrol berjam-jam, sampai telinga basah berkeringat, mulut kering kehabisan air liur yang muncrat, tenggorokan serak atau suara habis. Atau bahkan ada yang sampai gendang telinganya menipis, dan mengalami penulian dini? Apapun itu, itu artinya, dia berkomunikasi dengan orang lain. Banyak ngobrol atau bicara menunjukan kemampuan berbahasa dan unggul di salah satu otak – entah yang mana, karena mana mungkin bisa bertahan berbicara berjam-jam jika tidak punya ide.

Arti lainnya adalah bahwa orang itu adalah sosialita – maksud di sini membuktikan bahwa dia makhluk sosial bukan istilah sosialita yang aku benci kayak Paris Hilton. Hidup bersosial dan berinteraksi dengan orang lain, mengasah kemampuan intelegensi emosional. Meskipun hidup sosial di sini berada dalam lingkup sangat kecil, pertemanan dan keluarga yang sangat dekat – tetap saja handphone bisa mengasah ketajaman emosi dan pengertian.

Di luar sisi sosial, pemakaian hape juga menunjukkan pribadi pemiliknya. Pribadi dari segala segi.

Seorang cowok ganteng, kelimis dan perlente, dengan blackberry bercover pink muda, bisa dengan jelas ditebak orientasi seksualnya (masak sih ada yang seperti ini!). Seorang mahasiswi manis dengan iPhone dan cover Hello Kitty, ditambah gantungan boneka-boneka kecil Pooh, bisa ditebak imut dan manjanya. Seorang lelaki tengah baya berbaju safari dengan Nokia Communicator di sarungkan di sabuknya, bisa ditebak anggota dewannya – atau orang pentingnya. Dan seorang karyawan yang menyimpan dua hapenya di dalam sarung dobel hape di ikat pinggangnya bisa menunjukkan sepenting apakah dia.

Dari segi ringtone pun kita bisa ‘melihat’ pribadi orang. Bunyi kokok ayam, menunjukkan pemilik berhati halus, nostalgic person yang rindu masa lalu. Bunyi suling cianjuran, menunjukkan pemilik yang rindu kampung halaman atau kangen dengan ketradisionalan budaya atau mungkin sudah muak dengan kemodernan. Bunyi irama Eine Klein Nachmuzik (nulisnya bener gak ya?) menunjukkan pemiliknya atau pemiliknya justru ingin menunjukkan keluhungan musik yang disukainya. Bunyi suara bayi tertawa, menunjukkan pemiliknya yang merindukan kebahagiaan yang polos dan jernih. Bunyi asmaul husna atau zikir atau puji-pujian gospel, menunjukkan pemiliknya yang agamis. Bunyi lagu Kuburan atau Mbah siapa tuh…, menunjukkan pemiliknya yang sadar musik up-to-date. Bunyi lagu Rinto Harahap, menunjukkan pemiliknya yang generasi ABG – Angkatan Babe Gue. Dan bunyi lagunya Bang Rhoma, menunjukkan pemiliknya …mmmhhhh. TER… ah sudahlah.

Ringtone atau nada dering pun bisa dijadikan minat kreatifitas pemiliknya. Ada yang menggunakan pantun dilagukan, ada guyonan dicianjurankan, ada pemberitahuan seperti di bioskop, tertawa lepas yang dilagukan dan berjibun kreatifitas original lainnya.

Kepribadian pemiliknya makin terlihat dari sisi penggunaan.

Shalat Jum’at, awal rakaat kedua, satu hape berdering dengan lagu Ave Maria-nya Josh Groban atau lagu Bang Thoyib. Langsung yang mendengarnya kehilangan kekhusuan dan otak mulai berpikir liar: ‘kok gak nyambung’, ‘ini lupa atau sengaja?’, ‘kok gak sensitif’,’Bang Thoyib jumatan?’. Imam salam, wajah menengok kekanan, baru terjawab pertanyaan liarnya setelah melihat sosok pemilik hape buru-buru mematikan hapenya dengan wajah bersemu merah.

Senin pagi, staff briefing. Semua mata karyawan memandang ke sumber bunyi deringan telepon. Yang sedang berpidato terpaksa berhenti sejenak, dan ikut melihat ke arah suara. Sementara si pemilik sumber suara, dengan sibuknya sepertinya akan mematikan deringan hapenya, yang pada kondisi seperti ini jadi jauh lebih sulit. Agak di luar dugaan, dengan santainya dia bergeser ke sudut ruangan, dan menjawab panggilan telepon itu dengan berbisik dan menutup mulutnya dengan tangannya. Dengan tidak memperdulikan sekeliling, dia tetap berbicara meskipun sekelilingnya serempat bilang ‘ssssttt’. Hape di sini membuat penurunan kepedulian terhadap keadaan sekitar.

Rabu pagi, Board meeting di business center sebuah hotel berbintang. Semua yang datang tahu diri akan pentingnya meeting, sehingga mereka tanpa diminta mematikan dering hape dan diganti dengan nada getar. Di sepanjang meeting, beberapa kali terjadi getaran halus di meja diiringi bunyi getar. Getaran berhenti setelah pemiliknya mengangkat hape dan melihat isi pesan masuk. Agar berkesan tetap mengikuti meeting, matanya naik turun seperti ayam yang sedang mematuk remah, sekali ke layar hape lalu pindah ke pembicara, namun pikiran dan konsentrasi sudah melayang dari tempatnya, dan baru kembali setelah si pembicara menegurny karena menjawab pertanyaan asal bunyi.

Sementara peserta meeting yang lain dengan bijak menyimpan hape di kantong celananya, sehingga hanya dia yang merasakan getarannya dan tidak mengganggu yang lain. Dengan bijak pula dia keluar ruangan dengan pura-pura mau ke toilet, meskipun terlihat seperti orang yang beser – gak bisa nahan kencing – saking seringnya hape bergetar. Bijak yang salah penerapan, dengan meniadakan arti dari papan di pintu masuk meeting room: ‘Maaf, jangan ribut. Meeting sedang berlangsung’. Di sini hape menurunkan sensivitas seseorang dalam memahami seberapa pentingkah sebuah pertemuan atau sebera pentingnya kah dirinya.

Hari Rabu juga, sore hari, kereta Ciujung. Seorang laki-laki berbicara dengan lawannya di ujung sana dengan nada yang cukup tinggi, entah sengaja volumenya dikeraskan untuk menarik perhatian atau memang tidak sadar. ‘Saya kan sudah bilang ke pengacara saya kemaren di Singapur bahwa bla….bla….’.’Kontrak sudah ditandatangani, invoice yang satu M itu kan sudah saya tandatangani, lalu bla…bla…’. Hape disini menjadikan sarana pribadi menyombongkan diri, disadari atau tidak.

Hari Jumat, yang harusnya menceriakan. Di sebuah kubikel terjadi percakapan panas ketika telepon di satu meja terus berdering dan pemiliknya asyik menggoyangkan kepala dengan lilitan earphone di kepalanya. Sebuah kepala dengan wajah merah dengan kurva bibir yang sudah berubah menjadi cembung cemberut, menyembul di seberangnya sambil mengayun-ayunkan kedua tangannya: ‘Hei, buka tuh earphone. Jawab tuh telepon. Kerja ya kerja, denger musik pegi sana ke JakJazz’. Di sini hape mengantarkan ke penulian dini, penulian terhadap suara sekitar.

Hari Sabtu, Pasar Baru. Seorang tengah baya dengan marahnya menunjuk-nunjuk seseorang dengan kalimat yang begitu pedas. Dia hilir mudik di jarak sepuluh meter itu, dengan terus mengumpat dan menunjuk-nunjuk. Anehnya seseorang itu tidak ada di depannya. Dia marah-marah dengan invisible man kali? Beberapa orang yang lewat sudah menganggapnya orang gila. Tapi apa mungkin orang gila berpenampilan perlente, atau mungkin sekarang orang perlente saja sudah gampang menjadi gila. Semua menjadi jelas setelah dia berbalik arah, meski tetap dengan sumpah serapahnya, dan terlihat sebentuk benda kecil dicapitkan di telinganya. Earphone gigi biru – bluetooth. Walah. Di sini hape bisa mengantarkan kegilaan dini.

Hari Senin lagi. Kembali di kereta Sudirman Express. Seorang laki-laki berwajah segar dan enak dipandang, meski jam menunjukkan pukul tujuh malam, tetap menebarkan senyumnya dan keramahannya ke sekeliling. Dia keluarkan hapenya, dan dua buah jempolnya menari dengan lincahnya di atas tuts blekberinya. Sepanjang stasiun Palmerah tempat dia naek sampai stasiun Sudimara tempat dia turun, jempolnya tetap menari. Bukanlah sms jika ditulis begitu lama. Sebuah ceritakah yang ditulisnya? Sekali sekali dia pandangkan matanya ke sekeliling, mengamati sekeliling. Sepertinya segala yang ada di sekelilingnya begitu menarik perhatiannya. Sepertinya hapenya dipergunakan sebagai sarana menceritakan keadaan sekitar. Hape di sini sepertinya ingin dipergunakan secara normal. Dengan ujung mata terlihat tulisan yang sedang ditulisnya. Ternyata cowok dengan janggut beruban, sedikit botak tapi terlihat berwajah segar itu sedang menulis sebuah notes berjudul: ‘Kriiing…… Hallow!!!’. GUBRAK.

Cag, 28 Juni 2009, 10.00pm

naha pantes

Bet ngarasa tuna diri teh
Bet ngarasa kacida kotorna
Bet ngarasa kacida teu boga cedona,
lamun neneda deui pitulungNa

Naha pantes jelema
nu teu weleh asa kurang
Teu weleh asa sangsara
Teu weleh henteu narimakeun bagja nu geus kalakonan
Masih keneh mementa ka Anjeunna?

Cag, 6 Juni 2009, 10am

Aam Amilia: ‘Panggung wayang’ kaca 271

Dunia Pertemanan Facebook – Teman dan Kawan

“If I had to sum up Friendship in one word, it would be Comfort”

“The language of friendship is not words but meanings”

“A true friend reaches for your hand and touches your heart”

“The best time to make friends is before you need them”

“A good friend is a connection to life – a tie to the past, a road to the future, the key to sanity in a totally insane world”

“But friendship is precious, not only in the shade, but in the sunshine of life, and thanks to a benevolent arrangement the greater part of life is sunshine”. [Thomas Jefferson]

… but the best for me ….

“If you’re alone, I’ll be your shadow. If you want to cry, I’ll be your shoulder. If you want a hug, I’ll be your pillow. If you need to be happy, I’ll be your smile. But anytime you need a friend, I’ll just be me”

Cag, 31-03-09 6:47pm

Tol

Hari ini nemuin suatu peristiwa memalukan, masuk tol tanpa bawa ambil tiket
akhirnya didenda.

Pagi itu, tanpa direncanakan saya pergi ke Bandung melalui tol Simatupang.
Jam menunjukkan pukul lima lebih, ba’da subuh ketika saya memulai
perjalanan. Saya putar lagu apa saja yang saya bawa, termasuk lagu favorite
Matt Bianco. Entah karena perjalanannya begitu lancar atau karena melamun,
pada saat melewati gerbang masuk jalan tol Cikampek, saya kebablasan. Saya
memang melihat gerbang dengan lampu kuning kedap kedip. Namun karena tidak
ada papan penghalang, tidak seperti semua pintu masuk tol di dalam kota
Jakarta atau Bandung, saya tidak menduga bahwa gerbang itu adalah tempat
mengambil tiket. Kembali pikiran yang baru tersadar dari lamunan berpikir
bahwa kemungkinan gerbang masuknya ada di depan. Asumsi-asumsi ternyata
kadang kadang muncul sebagai penghibur kesalahan yang dilakukan, dan itulah
yang terjadi. Bablas sampai ke tol Padaleunyi saya jalan tanpa tiket masuk.

Saya tidak terlalu ambil pusing. Saya toh sudah melakukan kesalahan,
meskipun hati kecil berbisik bahwa itu bukan kesalahan, tapi kelalaian. Ah
di mata hukum mah sama salahnya. Hukum alam, kalau membuat kesalahan pasti
ada konsekuensinya, dalam hal ini denda. Dan saya sempat melihat juga di
spanduk bahwa denda tidak membawa tiket adalah dua kali ongkos terjauh. Ya
sudah lah.

Sesampainya di ujung jalan tol Cileunyi, saya kemukakan kepada penjaga
gerbang bahwa saya gak bawa tiket. Karena malu dengan nama Rifki yang
berarti gentleman, saya pun sok bersikap jentelmen (atau polos kaleee)
mengakui kalo saya lupa bawa tiket, mungkin ngelamun. Abang petugas
kemudian menginformasikan bahwa dendanya sebesar dua kali jarak terjauh,
atau Rp 81ribu.

Well, saya siap untuk bayar, sewaktu otak saya langsung memproses nada
bicara si Abang yang mengandung suatu intonasi yang lain, nada ajakan atau
tawaran, bukan ajakan informasi atau perintah. Tapi saya harus tetap
berpositif thinking dong, seperti yang selalu saya omongkan. Saya langsung
saja bilang akan bayar – dengan nada seperti berwibawa (halah, jaim
gitu…).

Di sinilah kita belajar membaca raut muka. Sepertinya ada raut sedikit
kecewa terlintas di wajahnya. Tapi, dia juga bersikap tegas (atau jaim juga
kali), dengan menerima dan memprosesnya sambil kemudian memberikan uang
kembalian.

Wait a minute, pikirku. Mana struk bukti pembayarannya? Saya berani bayar
denda kalau itu semua masuk ke kas pemerintah. Lha kalo tidak mengeluarkan
struk, uang itu masuk kantong dong. Korupsi itu, korupsi (pakai gaya bicara
pengamat politik). Dengan tetap menjaga kesantunan, meskipun hati sudah
panas dibodohin begini, saya tanya mana struk bukti bayarnya. Jawabannya
cukup mengejutkan karena dia harus mengambil struknya di kantor yang
berjarak kurang lebih 100m – dan bukannya siap di tiap gerbang. What!!!
Dengan kalem, dia mempersilakan saya untuk menepi dan menunggu suruhannya
mengambil struk itu. Ya ampun.

Bisa dibayangkan kan jiga orang yang didenda adalah orang yang sedang dalam
kondisi terburu-buru, atau orang yang tidak sabaran. Tentunya dia akan
langsung tancap gas, tanpa memperdulikan sebuah struk selharga 81 rebu.
Padahal kalau dipikir pikir, justru itulah peluang sebuah korupsi terbuka.
Jika kita benar-benar mengabaikan sebuah struk dendaan, uang sebesar itu
langsung masuk kantong pribadi, dan tidak masuk kas negara. Jika saja di
tiap gerbang tol, ada tiga atau empat kasus seperti ini, dan orang tidak
sabar untuk menunggu datangnya bukti denda, berapa besar uang yang
diikhlaskan untuk dijkorupsi. Mungkin dalam bentuk nominalnya tidak
signifikan, tetapi itu artinya kita membiarkan sesuatu yang salah tetap
berlangsung dan tidak berusaha mencegahnya.

Secarik kertas berharga Rp81 rupiah

Jadi pertanyaan, apakah memang praktek seperti itu yang justru diharapkan?
Apakah itu artinya sudah sedari awal penerapan undang undangnya sudah
diselewengken? Orang yang berpikir normal pasti berpendapat “kenapa tidak
disiapkan struk denda di tiap gerbang? Simpel kan”. Atau memang benar
adanya sebuah anekdot yang berbunyi “kalau bisa dipersulit kenapa
dipermudah”.

Waduh, kalau itu yang terjadi, kapan negara kita mau bangkit…..

Cag, 19-05-09, 07.15 pm

“Allah melaknat penyuap dan yang menerima suap dalam hukum.” (Riwayat Ahmad, Tarmizi dan Ibnu Hibban)